Kamis, 12 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Features Surabaya

Karya Anak Bangsa, Keringkan Padi dengan Manfaatkan Wind Corona

31 Juli 2018, 12: 24: 59 WIB | editor : Abdul Rozack

MUDAHKAN PETANI: Ahmad Bariq Al Fahri (kanan) dan temannya menunjukkan karya pengering padi elektronik di Laboratorium Kimia Instrumen ITS.

MUDAHKAN PETANI: Ahmad Bariq Al Fahri (kanan) dan temannya menunjukkan karya pengering padi elektronik di Laboratorium Kimia Instrumen ITS. (GINANJAR ELYAS SAPUTRA/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA – Tanaman padi merupakan komoditas terbesar di Indonesia. Namun, sayangnya masih banyak proses pengolahan padi hingga menjadi beras seperti pengeringan gabah yang dilakukan masih secara konvensional. 

Melihat kondisi tersebut, tiga mahasiswa Teknik Elektro Institut Teknik Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mengembangan penelitian pengeringan padi ramah lingkungan. Mereka adalah Ahmad Bariq Al Fahri, Pinanggih Rahayu dan I Wayan Ersa Saputra.

Selaku ketua tim, Ahmad Bariq Al Fahri menjelaskan, selama ini terdapat dua metode pengeringan padi yang diterapkan di Indonesia. “Selain menggunakan sinar matahari langsung, ada petani yang memanfaatkan alat pengering berbasis teknologi termal,” jelasnya, Minggu (29/7).

Menurut mahasiswa yang kerap disapa Bariq ini, dari hasil riset timnya masih menemukan adanya celah pada dua metode tersebut. Di antaranya ialah pengeringan menggunakan sinar matahari langsung, membutuhkan waktu minimal tiga hari untuk mendapatkan padi yang kering dan sempurna. Dengan catatan kondisi panas matahari stabil dan cukup selama waktu pengeringan. 

Sedangkan proses pengeringan menggunakan alat, akan lebih mudah kering dan menyingkat waktu. Ia menjelaskan, usai meletakkan gabah basah di antara kedua elektroda, tegangan akan dinaikkan secara perlahan hingga mencapai kondisi pre-breakdown. Hingga adanya wind corona yang ditandai dengan desis listrik, dan setelah itu gabah didiamkan hingga mengering. 

“Dibandingkan dengan pengeringan konvensional, metode ini berhasil menurunkan massa air dua kali lipat lebih banyak,” terangnya.

Dirinya juga menjelaskan, wind corona sendiri merupakan fenomena tegangan tinggi yang timbul ketika level tegangan belum mencapai kondisi untuk dapat mengalirkan alur listrik pre-breakdown. Wind corona ini akan menimbulkan suatu medan di antara dua elektroda. 

“Dalam kasus ini, elektroda berbentuk jarum pada bagian atas dan lingkaran sebagai tempat diletakkannya gabah,” urai pria 21 tahun tersebut.

Dengan menggunakan alat ini, Bariq mengklaim proses pengeringan padi hanya berlangsung dalam waktu singkat, yaitu sekitar satu jam. Selain itu alat tersebut tidak mempengaruhi hasil padi dan mengurangi nilai gizi dan struktur gabah. 

“Dengan metode yang kami kembangkan ini, tidak ada penurunan kualitas gizi, selain itu juga lebih ramah lingkungan,” pungkasnya. (gin/nur)

(sb/gin/jek/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia