Senin, 18 Nov 2019
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

CCTV e-Tilang Ditambah Tampak Depan

28 Juli 2018, 13: 15: 34 WIB | editor : Wijayanto

TERTIB LALIN: Persimpangan di Jalan Diponegoro yang dilengkapi CCTV e-Tilang.

TERTIB LALIN: Persimpangan di Jalan Diponegoro yang dilengkapi CCTV e-Tilang. (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Evaluasi terhadap penggunaan Closed Circuit Television (CCTV) e-Tilang terus dilakukan oleh Dinas Perhubungan (Dishub) Surabaya. Salah satunya rencana penyempurnaan pemasangan CCTV di lima persimpangan jalan yang sudah dipasang.

CERMATI: Petugas Dishub Surabaya memantau pelanggar dari CCTV e-Tilang yang dimonitor di laptop.

CERMATI: Petugas Dishub Surabaya memantau pelanggar dari CCTV e-Tilang yang dimonitor di laptop. (VEGA DWI ARISTA/RADAR SURABAYA)

Kepala Dishub Surabaya Irvan Wahyu Drajat mengatakan, saat di lima titik yang dipasang CCTV e-Tilang masing-masing dipasang empat CCTV. CCTV itu hanya bisa mendeteksi dan memotret pengguna kendaraan dari belakang. "Jadi masih terbatas. Pelanggar hanya bisa terpotret dari belakang," katanya.

Meski hasilnya tetap jelas, imbuhnya, penambahan CCTV e-Tilang dari depan juga akan dilakukan. Nantinya, CCTV itu juga bisa melihat kendaraan dari depan sehingga jelas pengguna kendaraan yang melanggar aturan.

Selain itu, lanjutnya, pemantauan pelanggaran CCTV e-Tilang yang saat ini masih meliputi pelanggaran marka, rambu dan traffic light juga akan ditambah. Nantinya, pelanggaran tidak mengenakan sabuk pengaman hingga pelanggaran lain juga akan masuk dalam e-Tilang on the spot.

Menurut Irvan, petugas gabungan dari Dishub, Polrestabes dan Kejari juga akan mobile di lima titik persimpangan yang dilengkapi CCTV e-Tilang. Yakni, Kertajaya Dharmawangsa, Mustopo Dharmawangsa, Margorejo, Jalan Diponegoro dan Jalan Mayjen Sungkono. Operasi on the spot hasil perekaman CCTV akan dilakukan secara bergantian di lima titik tersebut. "Kami juga sudah siapkan peralatan termasuk laptop dan print untuk mencetak gambar bukti pelanggaran pengguna kendaraan," terangnya.

Diakui, dalam penilangan on the spot dibutuhkan banyak petugas. Mulai dari pencetakan gambar, koordinasi nopol kendaraan pelanggar hingga pemberian informasi petugas di jalan. Kecepatan petugas merekam, mencetak dan penilangan di jalan juga harus cepat dan sesuai.

Dia menambahkan, jarak petugas perekaman dan penilangan yakni sekitar 200 meter setelah persimpangan. Jadi, pelanggar yang terekam CCTV bisa langsung dicegat. "Terus kami evaluasi apa kekurangan yang harus dibenahi agar nantinya masyarakat bisa memiliki budaya tertib lalu lintas meski tidak ada petugas," pungkasnya. (vga/no)

(sb/vga/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia