Sabtu, 20 Oct 2018
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Daging Ayam Mahal, Pedagang Keluhkan Sepi Pembeli

Jumat, 27 Jul 2018 10:27 | editor : Wijayanto

PANTAU HARGA: Pihak Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Provinsi Jawa Timur saat melakukan survei ke Pasar Wonokromo Surabaya untuk memantau persoalan harga daging ayam dan telur ayam yang sempat mengalami kenaikan.

PANTAU HARGA: Pihak Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Provinsi Jawa Timur saat melakukan survei ke Pasar Wonokromo Surabaya untuk memantau persoalan harga daging ayam dan telur ayam yang sempat mengalami kenaikan. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

SURABAYA - Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Provinsi Jawa Timur melakukan survei ke Pasar Wonokromo Surabaya untuk memantau persoalan harga daging ayam dan telur ayam yang sempat mengalami kenaikan. Dari hasil survei, harga daging ayam memang masih fluktuatif, yakni sekitar Rp 38.000-Rp 40.000 per kilogram. Sedangkan untuk harga telur ayam, sudah kembali ke harga normal yakni sekitar Rp 22.000 per kilogram. 

Menanggapi hal tersebut, Kepala KPPU Surabaya Dendy Rakhmad Sutrisno mengatakan, harga daging ayam naik dikarena mahalnya harga daging ayam dari tingkat peternak. Terkait adanya bentuk-bentuk pelanggaran usaha, pihaknya mengaku belum bisa memastikan.

Menurutnya, penyebab naiknya harga daging ayam itu bisa dipengaruhi oleh banyak hal seperti pengaruh dolar, pembatasan antibiotik, bantuan non tunai, dan aktivitas perdagangan antar pulau. Untuk memastikan, pihaknya akan melihat secara komprehensif dari hulu sampai ke hilir, untuk memastikan penyebab naiknya harga daging ayam. Namun secara keseluruhan, pihaknya menjamin bahwa ketersediaan daging ayam di Jatim masih aman. 

“Ada beberapa pengaruh harga berubah drastis. Pedagang ambilnya naik, jadi jualnya juga naik. Makanya, kita melihat secara komprehensif. Mulai dari hulu sampai ke hilir. Apakah di hulu memang berpengaruh tinggi harga pakannya dan bagaimana produkvitasnya,” terangnya usai melakukan survey, Kamis (26/7).

Dendy menjelaskan, dalam hal ini pihaknya tidak ingin selalu menyalahkan para pedagang di pasar tradisional. Karena menurutnya, didalam pasar tradisional juga ada sedikit masalah terkait manajemen supply dan demand. Berbeda dengan retail modern yang relatif lebih stabil, karena ada kontraktual yang jelas antara supplier dengan pedagang.

“Misalnya kemarin, harga telur menembus Rp 30.000. Kalau di retail modern, harga bisa Rp 25.700. Itu menunjukkan bahwa mereka punya kemampuan untuk mengendalikan harganya. Ini yang kita harapkan di retail tradisional,” tegasnya. 

Dendy berharap, Pemprov Jatim dan Pemkot Surabaya bisa mewujudkan satu pilot project, yaitu pasar yang manajemen supply dan demand-nya berubah.  "Tradisional harus tetap dijaga. Mindset dan cara bekerjanya juga harus berubah. Kalau tidak, kita akan mengalami ketergantungan yang akan cukup tinggi terhadap mungkin ulah segelintir pelaku usaha," tandasnya.

Dendy menambahkan, naiknya harga daging ayam membuat para pedagang mengeluh, karena pembeli cenderung sepi dan omzet yang didapatkan menurun drastis. Seperti yang dirasakan oleh Umi seorang pedagang, ia mengaku pembeli semakin menurun hingga 70 persen. Bahkan apabila daging ayam tidak terlalu laku, dia terpaksa melepasnya dengan murah atau dibawah harga tersebut. 

Di harga normal, biasanya dirinya bisa menjual hingga 2,5 kwintal daging ayam per hari. Namun sekarang, hanya kisaran 1,5 kwintal saja. Naiknya harga daging ayam itu, telah dia rasakan sejak 3 minggu yang lalu. Di berharap, segera ada kebijakan dan solusi dari pihak pemerintah terkait masalah naiknya harga ayam tersebut. 

“Pembeli menurun drastis, keuntungan juga. Sedangkan kebutuhan setiap hari juga banyak dan cenderung mahal. Kami ini yang ibu rumah tangga pusing. Ditambah bebarengan dengan anak-anak masuk sekolah. Pasti kan kebutuhannya banyak,” katanya. (cin/rud)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia