Minggu, 08 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Features Surabaya

Sehari Buat Makan Cuma 10 Ribu, Rajin Nabung, Pemulung Naik Haji

26 Juli 2018, 06: 20: 59 WIB | editor : Abdul Rozack

ISTIRAHAT: Calon jamaah haji Miskat tidur di Asrama Haji Embarkasi Surabaya.

ISTIRAHAT: Calon jamaah haji Miskat tidur di Asrama Haji Embarkasi Surabaya. (ISTIMEWA)

Share this      

SURABAYA - Keinginan kuat untuk berangkat haji, membuat Miskat berhasil berangkat ke Tanah Suci pada tahun ini. Meski sehari-hari hanya berpenghasilan dari memulung, namun kakek 70 tahun tersebut membuktikan bahwa siapapun bisa menunaikan rukan Islam kelima.

Pria asal Probolinggo tersebut tergabung dalam kloter 28. Dirinya mengaku memang sudah sejak muda memiliki cita-cita berhaji. Keinginan itulah yang terus ditanamkan. “Penghasilan saya itu tidak menentu mas. Kadang ya Rp 15 ribu, kadang juga dapat Rp 30 ribu dari hasil memulung,” ujar Miskat saat ditemui di Asrama Haji, Sukolilo, Rabu (25/7). 

Setiap hari, Miskat mencari nafkah dengan mencari kardus, botol serta barang barang bekas lain. Berbekal ronjot dan sepeda tuanya, pemulung ini berkeliling lima desa dari pagi hingga sore. Tak menentu uang yang ia dapatkan. Untuk makan sehari hari, duda cerai dua anak ini membutuhkan uang Rp 10 ribu setiap harinya. "Saya makan di warung sekali makan Rp 5 ribu, sehari dua kali,” ungkapnya.

Untuk mewujudkan cita citanya menuju Baitullah, Miskat mengumpulkan uang di lemarinya. Dia mengaku uang tersebut dikumpulkannya sedikit demi sedikit sisa hasilnya memulung. “Ya lama nabungnya, kalau punya uang, kan buat makan. Kadang tiga ribu, lima ribu,” sebutnya.

Ketika terkumpul uang Rp 3 juta pertengahan 2010, Miskat datang ke salah satu pemilik KBIH di Probolinggo, H. Saiful menyampaikan keinginannya untuk berhaji. Miskat mengikat uang lusuh sejumlah Rp 3 juta itu dengan karet. Saiful lantas mengantar Miskat mendaftar haji dana talangan dengan jaminan pemilik KBIH.

Hinga mendekati satu tahun jatuh tempo pelunasan talangan, Miskat belum bisa melunasi. Saiful menuturkan, dana talangan dapat dilunasi Miskat hingga 3 tahun.

Empat bulan menjelang keberangkatan, Miskat mulai sakit sesak. Ia tak dapat melakukan aktivitasnya sebagai pemulung. Namun ia tetap semangat pergi haji untuk bisa bertemu dengan rumah Allah dan makam Rasulullah.“Saya sangat ingin ke makam Rasulullah,” tandasnya.(bae/no)

(sb/bae/jek/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia