Sabtu, 25 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

26 CJH Tertunda Berangkat Lantaran Sakit atau Hamil

24 Juli 2018, 13: 23: 02 WIB | editor : Wijayanto

SIAP BERANGKAT: Salah jamaah calon haji memasuki Asrama Haji Embarkasi Surabaya (AHES) dengan didorong menggunakan kursi roda.

SIAP BERANGKAT: Salah jamaah calon haji memasuki Asrama Haji Embarkasi Surabaya (AHES) dengan didorong menggunakan kursi roda. (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA – Selama pemberangkatan calon jamaah haji (CJH) hingga kloter 19 melalui Embarkasi Surabaya, ada 26  CJH yang tertunda keberangkatannya. Lantaran, mereka ada yang sakit atau hamil.

Sementara itu data yang diperoleh dari Pengumpulan dan pengolahan Data (Pulahta) Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) hingga saat ini tercatat dua orang sedang hamil dan 12 orang menjalani pemeriksaan di Rumah Sakit (RS) Haji Sukolilo dan Asrama Haji Embarkasi Surabaya (AHES). Selain itu, sembilan orang pendamping yang juga mengalami nasib sama.

Sekretaris PPIH Jawa Timur Achmad Faridul Ilmi, menjelaskan dari 19 kloter tersebut yang sudah berangkat sebanyak 7.957 CJH, “Kebanyakan yang tertunda karena sakit. Saat ini masih ditangani oleh ahli medis di RS Haji maupun di AHES,” tuturnya.

Diana Arifin, 38, salah satu CJH asal Sumenep tertunda keberangkatanya, karena hamil. Sang suami pun ikut menunda keberangkatannya ke Tanah Suci.

Nasib serupa juga dialami oleh Isnani Damari Jahir, 39, yang sedang hamil empat minggu. Isnani merupakan CJH asal Pasuruan yang ikut dalam kloter 19 yang seharusnya berangkat pada Senin (23/7) pukul  13.30 WIB dengan nomer penerbangan SV 5115.

Sementara itu, Ketua Panitia Penyelenggara Kesehatan Haji (PPKH) Dr M. Zainul menjelaskan, sampai sekarang tim kesehatan sudah berupaya semaksimal mungkin agar CJH bisa berangkat ke Tanah Suci dengan tes kesehatan uji layak terbang.

“Pada saat ini kami sudah berupaya sebisa mungkin agar para CJH ini bisa berangkat. Memang kebanyakan CJH ini sudah menginjak usia senja. Oleh karena itu butuh penanganan khusus,” paparnya.

Selain itu dari hasil evaluasi tersebut, Kasi Penyuluhan dan Layanan Informasi (KPPBC) Tipe Madya Pabean Juanda Hendro Trisulo menjelaskan rokok yang disita hingga kini berjumlah 662 slop, dengan jumlah sitaan terbanyak dari kloter 13 asal Kabupaten Pamekasan sebanyak 491 slop.

Terkait power bank yang disita, ia menjelaskan jika power bank yang di atas kapasitas 20.000 MAh sangat berbahaya dibawa saat penerbangan karena bisa menyebabkan ledakan. “Kalau di bawah 20.000 MAh masih aman dibawa, asal tidak disimpan dalam tas koper yang di bagasi. Kalau dibawa tas selemang masih boleh. Seperti korek, itu bisa meledak kalau berada di tekanan udara tinggi,” pungkasnya. (gin/no)

(sb/gin/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia