Jumat, 23 Aug 2019
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Donwori yang Sejak SMP Selalu Manis, Setelah Menikah Beringas

22 Juli 2018, 06: 05: 59 WIB | editor : Abdul Rozack

Donwori yang dulu selalu manis setelah menikah beringas

Donwori yang dulu selalu manis setelah menikah beringas (Grafis: Fajar)

Share this      

Waktu mendekati, sangat getol. Setiap hari diuber. Tapi, ketika sudah menikah, seolah semua sudah usai. Tujuan telah tercapai. Maka yang sudah diraih, malah disia-siakan. Tak hanya sekali dua kali, hal ini sering terjadi pada pasutri. Seperti kelakuan Donwori, 24, pada Karin, 24, ini. 

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

Karin akhirnya menyerahkan nasib pernikahannya ke meja hijau. Ia sudah tak tahan jadi salah-salahan suami yang kekanak-kanakan. Setiap ada yang tak beres dalam rumah tangganya, Donwori selalu marah dan menyalahkan Karin.  Karin selalu jadi kambing hitam. 

" Kalau aku minta uang tambahan buat belanja, dia pasti marah. Disalahkan terus-terusan. Dianggap nggak bisa ngatur uang. Padahal jelas itu karena gajinya saja yang kecil. Kok malah aku sing jare nggak iso ngatur duwit," keluh Karin ketika ditemui Radar Surabaya di ruang tunggu Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya, Jumat, (20/7).

Diakui Karin,  Donwori juga kerap tak peka dengan keadaan istri. Baru melahirkan anak, Donwori tetap melanjutkan kebiasaannya untuk nongkrong tak jelas di pinggir jalan. Saat Karin berusaha mengingatkan, Donwori selalu balik marah untuk melakukan pembelaan. "Aku dipisuhi  (dihardik dengan kata kotor, Red). Iku wes langganan tiap hari. Koyo mangan sego jangan,” kata warga Putat Jaya ini. Kali ini Karin tampak emosi.

Padahal, Karin menjelaskan, sikap Donwori sangat manis selama pacaran. Karin mengenang, keduanya pacaran sejak zaman SMP dan berlanjut hingga keduanya kerja. Selama itu pula suaminya tak pernah berkata kasar. Kalau bertengkar pun, Donwori yang selalu mengalah duluan. "Dulu, ya setiap ada yang dekati saya. Dia (Donwori, Red) selalu sigap menghalau, tapi tindakannya tidak anarkis," lanjutnya bernostalgia.

Sikap Donwori itulah yang meyakinkan Karin untuk menikah di usia muda. Namun tak disangka, baru beberapa bulan menikah, perangai asli Donwori mulai kelihatan. Hal-hal sepele, seperti soal makanan, alat mandi, baju, kerap menyulut amarah Donwori.

Puncaknya adalah ketika Karin hamil. Bukannya makin perhatian, Donwori mulai main tangan. Ia beberapa kali kena pukul suaminya saat mood-nya sedang buruk. Sikap suaminya ini tentu membuat Karin nelangsa. Hingga keputusan berpisah, diambil Karin. " Aku ini ibu. Yang sengsara, serba gak enak, nggembol (membawa, Red) anak. Dia yang cuma dapet enaknya, kok sembarangan," keluh Karin. 

Tak mau menunggu lama untuk mengakhiri derita, Karin segera meminta cerai. Rupanya keputusan itu Donwori iyakan juga, meski dengan hardikan. (*/opi)

(sb/is/jek/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia