Jumat, 24 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Optimistis Koperasi dan UMKM Jadi Soko Guru Perekonomian Nasional

21 Juli 2018, 14: 13: 14 WIB | editor : Wijayanto

APRESIASI: Gubernur Jatim Soekarwo menyerahkan piagam dan piala kepada para pemenang lomba bidang perkoperasian tingkat Jatim tahun 2018.

APRESIASI: Gubernur Jatim Soekarwo menyerahkan piagam dan piala kepada para pemenang lomba bidang perkoperasian tingkat Jatim tahun 2018. (ISTIMEWA)

Share this      

Surabaya - Gubernur Jatim Dr. H. Soekarwo optimistis keberadaan koperasi dan usaha mikro, kecil menengah (UMKM) mampu menjadi soko guru perekonomian nasional, khususnya di Jatim. Apalagi di Jatim, koperasi dan UMKM mampu menyerap tenaga kerja cukup banyak, atau sekitar 94 persen dari total tenaga kerja yang ada.

“Koperasi dan UMKM telah mampu menyerap tenaga kerja cukup banyak, dan mengurangi jumlah pengangguran yang ada,” ujar Pakde Karwo, sapaan akrab Gubernur Jatim pada acara Puncak Peringatan Hari Koperasi ke-71 Provinsi Jatim di GOR Surajaya, Lamongan, Jumat (20/7).

Pakde Karwo menjelaskan, menurut data dari survei sosial ekonomi nasional (susenas) tahun 2016 yang dipublikasikan tahun 2017, jumlah tenaga kerja di Jatim sebanyak 20.160.000. Dari jumlah tersebut, jumlah tenaga kerja yang diserap perusahaan besar hanya sekitar 333.271. Sedangkan, sebanyak 18.610.000 bekerja di sektor koperasi dan UMKM. “Sebanyak 94 persen tenaga kerja di Jatim hidup dan dihidupi dari keberadaan koperasi dan UMKM,” imbuhnya.

Ditambahkan, jumlah koperasi dan UMKM di Jatim juga mengalami peningkatan cukup signifikan. Menurut data sensus ekonomi pada tahun 2016, jumlah koperasi dan UMKM mencapai 9,59 juta, dengan rincian 4,61 juta di sektor non pertanian dan 4,98 juta di sektor pertanian. Pertumbuhan ini juga berkat adanya peran Dekranasda Provinsi Jatim yang selalu aktif membina dan mempromosikan produk-produk koperasi dan UMKM.

“Pada tahun 2008 dulu jumlah koperasi dan UMKM 4,2 juta dan sekarang mencapai 9,59 juta. Data ini menunjukkan bahwa jumlahnya tidak hanya meningkat tapi meledak,” ungkap Pakde Karwo.

Dengan makin meningkatnya jumlah koperasi dan UMKM, Pakde Karwo mengusulkan, agar pihak perbankan mempermudah pemberian kredit pada koperasi dan UMKM. Meskipun beberapa koperasi ataupun UMKM yang ada dianggap tidak bankable ataupun tidak feasible, namun Non Performing Loan (NPL)-nya rendah. Konsep yang dikedepankan adalah kejujuran, karenan kejujuran adalah bentuk softskill yang tidak dimiliki negara lain.

Bantuan kredit murah ini, lanjut Pakde Karwo, merupakan bentuk kehadiran pemerintah bagi yang kalah dalam pertarungan efisiensi termasuk di dalamnya koperasi dan UMKM. “Negara harus memberi kepedulian pada rakyat kecil, jangan sampai koperasi dan UMKM ini jadi semakin kecil karena kalah dalam hal efisiensi,” tegas orang nomor satu di Jatim ini. (hum/nur)

(sb/jpg/jay/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia