Senin, 16 Sep 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Sidoarjo

Customer Apartemen di Kedungrejo Minta Uangnya Dikembalikan

21 Juli 2018, 00: 10: 59 WIB | editor : Lambertus Hurek

Lahan untuk pembangunan apartemen milik Sipoa di Kedungrejo, Waru.

Lahan untuk pembangunan apartemen milik Sipoa di Kedungrejo, Waru. (Lambertus Hurek/Radar Sidoarjo)

Share this      

Hampir setiap hari sejumlah customer mendatangi lahan Royal Avatar World di Desa Kedungrejo, Kecamatan Waru. Mereka ingin bertemu dengan pihak pengembang apartemen yang berlokasi tepat di perbatasan Kabupaten Sidoarjo dan Kota Surabaya itu.
"Saya sudah empat kali ke sini tapi gagal terus. Kantor Avatar tidak ada orangnya," ujar seorang perempuan yang naik mobil berplat nomor B (Jakarta), pekan lalu.
Menurut dia, para customer hanya ingin meminta manajemen pengembang yang tergabung dalam Grup Sipoa itu agar segera mengembalikan uang mereka. Sejak 2013 para customer menanamkan investasi untuk membeli apartemen di lokasi strategis itu. Ground breaking dilakukan pada pertengahan 2015. Awalnya proses pembangunan cukup lancar. Kemudian macet sampai sekarang. "Padahal, kami dijanjikan tahun 2017 mulai penyerahan," ujar wanita yang enggan menyebut namanya itu.
Menurut dia, para pembeli sudah lama mengetahui persoalan pelik yang tengah dihadapi pengembang Royal Avatar World dan Sipoa Group. Mereka juga tak berharap bisa menempati apartemen impian. "Kami cuma minta uang kembali 100 persen," katanya.
Paguyuban Customer Sipoa (PCS) gelar aksi damai pendudukan massal tanah dan bangunan Sipoa yang diduga dari hasil kejahatan di Royal Avatar World, Waru, beberapa waktu lalu. Aksi ini diikuti oleh ratusan pelanggan yang mengenakan kaos merah.
Meski matahari siang itu amat terik mereka tetap lantang menyuarakan suara atas hak-hak yang belum mereka terima dari pihak Sipoa. Selain itu, mereka membentangkan banner dan secarik kertas bertuliskan tuntutan 'Kembalikan uang kami segera, secepatnya cash 100 persen tanpa potongan'. Para customer juga berharap agar pihak kepolisian menyita aset tidak bergerak yang di miliki oleh pihak Sipoa.
"Teman-teman berdemo hari ini agenda khususnya adalah meminta kepada pihak kepolisian agar segera melakukan penyitaan terhadap barang yang diduga dari hasil kejahatan yakni tanah dan bangunan. Karena Kami telah melayangkan TPPU," ujar Masbuhin, kuasa hukum korban pembelian apartemen atau proyek Sipoa.
Ia menjelaskan, jika tidak dilakukan penyitaan terhadap barang yang diduga dari hasil kejahatan ini, dapat dipastikan customer tidak akan mendapatkan pengembalian uang 100 persen.
Seperti diketahui, kasus ini menyeret dua bos PT Sipoa, Budi Santoso dan Klemens Sukarno Candra. Mereka diduga melakukan tindak pidana penipuan dan penggelapan jual beli apartemen Royal Avatar World senilai Rp 12 miliar.  "Perkaranya segera disidangkan," kata Kasipenkun Kejati Jatim Richard Marpaung. (sar/rek)

(sb/rek/rek/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia