Sabtu, 25 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Gemar Bersedekah, Guru Ngaji Bisa Berhaji

20 Juli 2018, 15: 59: 43 WIB | editor : Wijayanto

PASUTRI: Ahmad Fatoni Syafii dan Nasifah Sholihah.

PASUTRI: Ahmad Fatoni Syafii dan Nasifah Sholihah. (GINANJAR ELYAS SAPUTRA/RADAR SURABAYA)

Share this      

Surabaya - Ahmad Fatoni Syafii, 76, dan istrinya, Nasifah Sholihah, 66, tak pernah bercita-cita pergi haji ke Tanah Suci pada sebelumnya. Pasangan suami istri yang tergabung dalam kelompok terbang (kloter) 8 asal Jember ini hanyalah seorang abdi dalem di Pondok Pesantren (Ponpes) As Shiddiqiyah Jember. 

Ahmad yang tinggal bersama sang istri di rumah kecil yang disediakan oleh ponpes tersebut sebagai guru ngaji dari rumah ke rumah warga yang membutuhkan jasanya. Ia tidak pernah menentukan tarif atas jasanya sebagai guru ngaji. 

"Saya tidak menyangka bisa daftar dan berangkat haji tahun ini, penghasilan saya juga tidak seberapa, cuma sebagai guru ngaji dan abdi dalem," tuturnya, Kamis (19/7).

Sang istri juga sebagai guru Taman Kanak Kanak (TK) milik yayasan ponpes tempat ia mengabdi. Penghasilan yang ia terima tentunya tidak seberapa, jangankan berangkat haji, untuk makan pun ia masih susah.

Meskipun hidup serba pas-pasan, pasutri tersebut memiliki kepribadian dermawan. Mereka memiliki agenda rutin untuk menyedekahkan beberapa rupiah ke anak yatim piatu dan janda di sekitar lingkungannya setiap tiga bulan sekali.

"Ya tidak saya hitung, jadi setiap punya uang saya masukkan amplop ngumpul sampe 80 amplop. Kalau ngitung lansung, ya jantungen saya, pusing," tuturnya.

Selain itu, ia biasa membantu anak-anak yang hampir putus sekolah karena tidak mempunyai biaya. Kadang ia menebus ijazah, membelikan seragam sekolah, membayar biaya pendaftaran  serta melengkapi kekurangan biaya sekolah anak-anak yang membutuhkan. 

Ia pun kerap meminjamkan uang pada orang yang membutuhkan tanpa mengharap uang tersebut dikembalikan. Ia pernah menghitung  jumlah uang yang ia pinjamkan pada temannya hingga  Rp 35 juta.

Keinginannya berhaji berawal ketika ia bertanya pada putra kiai nya tentang biaya haji delapan tahun lalu. "Gus, saya ingin haji. Tapi kalau kegiatan saya bisa putus karena untuk biaya haji, maka lebih baik saya tidak jadi berhaji," tanyanya pada putra kiainya.

Putra kiainya pun menyarankan agar ia daftar haji dulu sembari menunggu jawaban Allah SWT. "Allah pasti akan memberian jawaban, baik atau buruk," jawab Gus putra kiai, sambil ia menirukan perkataannya.

Setelah itu, ia pulang ke rumah dan mengajak istrinya masuk kamar. Ahmad Fatoni menyodorkan buah buku tebal yang selam ini mereka simpan rapi dan meminta istrinya menghitung uang yang ia selipkan pada buku tersebut. Setelah dihitung, ternayata terkumpul uang sebanyak 50 juta rupiah.

"Saya kaget, ternyata terkumpul segitu banyak. Uangnya beberapa sudah banyak yang jamuran," ujar istrinya di Hall Zaitun AHES, Kamis (19/7).

Ahmad Fatoni pun menyerahkan uang tersebut pada istrinya untuk biaya daftar haji berdua. Baginya, rezeki itu datang dari Allah dan tidak terduga. Karenanya, lelaki yang hampir buta ini berprinsip untuk selalu bersedekah. Ia ibaratkan sedekah seperti memancing dengan kail.

"Waktu itu saya ngasih uang lima puluh ribu pada anak yatim. tidak lama setelah itu, ada orang yang minta saya datang ke rumahnya, saya dikasih amplop berisi lima belas juta rupiah, Alhamdulillah bisa buat menutup biaya kekuranganya untuk haji," pungkasnya terharu.(gin/no)

(sb/gin/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia