Senin, 20 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi

Perusahaan Manufaktur Harus Kembangkan Omni Channel

19 Juli 2018, 13: 00: 59 WIB | editor : Abdul Rozack

CANGGIH: Pengunjung melihat spesifikasi mesin saat pameran Manufacturing Surabaya 2018 di Grand City Convex, Surabaya, Rabu (18/7).

CANGGIH: Pengunjung melihat spesifikasi mesin saat pameran Manufacturing Surabaya 2018 di Grand City Convex, Surabaya, Rabu (18/7). (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Perusahaan penyedia peralatan industri yang menyediakan berbagai macam peralatan industri mulai dari peralatan rumah tangga ke alat bengkel, PT Kawan Lama Sejahtera kian agresif mengembangkan bisnisnya. 

Salah satunya melalui sistem omni channel dimana kebutuhan customer dapat dipenuhi melalui empat kanal, yakni: peran konsultan penjualan, ritel yang tersebar di 18 kota, perdagangan elektronik, dan mobile application Kawanlama.com. 

Omni Channel adalah model bisnis lintas channel yang digunakan perusahaan untuk meningkatkan kenyamanan dan kemudahan pengalaman pelanggan mereka. Pelanggan dari perusahaan yang mempraktekkan Omni channel dapat melakukan belanja dengan menggunakan berbagai channel sekaligus baik online maupun offline. 

Komisaris PT Kawan Lama Sejahtera Tony Sartono mengatakan, pihaknya siap dengan digitalisasi industri bussines to bussines (B2B) untuk menyambut era Industri 4.0. Menurutnya, Pengembangan sistem omni-channel dilakukan untuk memudahkan memenuhi kebutuhan pelanggan. 

Selain itu juga agar setiap kanal saling terintegrasi dengan sistem. Apalagi dengan perkembangan teknologi dan tuntutan revolusi industri 4.0 saat ini, kemudahan customer dalam bertransaksi menjadi faktor utama.  "Impactnya dirasa cukup besar. Karena kami menawarkan kemudahan dalam proses pembelian," terangnya di sela-sela Pameran Manufacturing Surabaya, Rabu (17/7).

Tony menjelaskan, saat ini masih banyak industri yang masih belum mengetahui produk-produk manufaktur Kawan Lama. Oleh karena itu, pihaknya mengikuti Pameran Manufacturing Surabaya ini juga menjadi salah satu bukti dukungan Kawan Lama di dunia industri manufaktur melalui beragam sistem yang ditawarkan. 

Selain itu, tantangan berbisnis segmen niche adalah sulitnya edukasi kepada pelanggan yang telah terbiasa menggunakan offline platform. Apalagi, dengan cara pembelian baru melalui transaksi daring, menurutnya kepercayaan konsumen perlu dibangun dari awal.

"Sampai saat ini juga masih ada perusahaan yang membeli online tetapi bayarnya offline. Kami juga masih mempersiapkan diri dan dalam proses pembelajaran. Seiring berjalannya waktu, tidak menutup kemungkinan masyarakat mulai terdidik dengan adanya digitalisasi industri B2B tersebut," ujarnya.

Tony menambahkan, sejak situs perdagangan elektronik Kawanlama.com diluncurkan, peningkatan konsumen Kawan Lama Sejahtera ke platform daring tersebut bertumbuh secara signifikan. Pihaknya mencatatkan transaksi online dalam satu bulan dapat mencapai Rp 500 juta. Namun, jumlah tersebut dinilai masih sangat kecil. Pihaknya optimistis pertumbuhan masih sangat besar karena saat ini masih dalam progres.

"Memang kontribusi offline masih mendominasi yakni sebesar 95 persen, sisanya online. Selain itu, jika dari industri maka yang membeli adalah pabrik bukan individual, sehingga tidak bisa membeli secara sembarangan, tuturnya.

Sedangkan untuk penjualan perkakas Kawan Lama lebih didominasi oleh ritel yang bisa mencapai 80 persen. Sedangkan industri menyumbang 20 persen. Tony mengaku, pihaknya tidak ada target yang tinggi sampai akhir tahun ini.

"Flat saja dinilai sudah bagus. Melihat kondisi saat ini, lebih di dominasi oleh infrastruktur. Otomasi masih stagnan, sedangkan produk kami banyak di manufaktur," jelasnya.

Tony menilai, tren teknologi saat ini lebih ke arah otomisasi terintegrasi. 

Pihaknya juga berencana untuk membangun gudang di Sidoarjo seluas 24 hektar untuk melayani pasar Indonesia Timur. Selain itu juga karena ritel di wilayah tersebut cukup banyak. (cin/rak)

(sb/cin/jek/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia