Jumat, 06 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi

Industri Obat Herbal Berupaya Kurangi Impor Bahan Baku

19 Juli 2018, 10: 40: 59 WIB | editor : Abdul Rozack

LABORATORIUM : Direktur pengembangan Teknologi Industri Kemenristekdikti, Hotmatua Daulay (kiri), President Direktur PT Kalbe Farma, Vidjongtius (teng

LABORATORIUM : Direktur pengembangan Teknologi Industri Kemenristekdikti, Hotmatua Daulay (kiri), President Direktur PT Kalbe Farma, Vidjongtius (tengah), dan Rektor Universitas Surabaya, Joniarto Parung (kanan) saat melihat laboratorium kultur jaringan (ABDULAH MUNIR/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - qSalah satu industri farmasi yang menggunakan 90 persen bahan baku ginseng maupun jahe merah impor adalah PT Bintang Toedjoe, anak perusahaan dari PT Kalbe Farma (Tbk).

Presiden Direktur PT Bintang Toedjoe, Simon Jonatan mengatakan, dalam memproduksi produk-produk Bintang Toedjoe pihaknya mengimpor kurang lebih sekitar 50 ton jahe merah dan ginseng dari Tiongkok, India, hingga Korea. 

Kendati demikian, melalui teknologi laboratorium kultur jaringan yang diresmikan dengan menggandeng Universitas Surabaya (Ubaya) itu diharapkan mampu menekan 100 persen impor bahan baku baik jahe merah maupun ginseng secara bertahap.

"Selama ini yang kita tahu kalau ginseng utamanya hanya bisa ditanam di Korea maupun Tiongkok. Akan tetapi, melalui laboratorium kultur jaringan di Ubaya ini ke depannya ginseng itu bisa ditanam di Indonesia melalui teknologi kultur jaringan," jelasnya usai peresmian laboratorium kultur jaringan di Ubaya, Rabu (18/7).

Adapun total dana yang diinvestasikan untuk laboratorium kultur jaringan itu, kata Simon, sekitar Rp 100-200 miliar dalam tiga hingga empat tahun ke depan. Sementara, untuk tahap awal, pihaknya mengucurkan dana sebesar Rp 6 miliar untuk pembangunan laboratorium dan persediaan peralatan.

"Kerja sama ini saling bersinergi antara akademisi, pemerintah, dan industri secara bisnis. Harapannya, melalui produksi laboratorium ini dapat mengurangi ketergantungan impor bahan baku dan malah ke depannya bisa ekspor jahe merah maupun ginseng," ujarnya.

Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk, Vidjongtius mengatakan, setiap tahun Kalbe mencanangkan dana sekitar Rp 200-300 miliar untuk dana penelitian terkait prospek pengembangan masa depan, utamanya kebutuhan bahan baku impor, seperti ginseng, jahe merah, hingga selasih.

"Berhasil atau tidak berhasil, upaya penelitian itu akan terus kami lakukan untuk pengembangan jangka panjang. Mengingat bahan baku masih impor," terangnya.

Vidjongtius menambahkan, teknologi kultur jaringan sendiri tidak membutuhkan tanaman yang ditanam di tanah alami. Akan tetapi, perbanyakan bibit yang ditanam di dalam media khusus dalam bentuk reaktor yang memang kondisinya disesuaikan dengan alam. Kultur jaringan merupakan metode perbanyakan vegetatif dengan menumbuhkan sel, organ, atau bagian tanaman dalam media buatan secara steril dengan lingkungan yang terkendali.

Dengan kultur jaringan tanaman gingseng dan jahe merah dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan klon tanaman yang sama persis dengan induknya, serta memepercepat proses pematangan tanaman secara signifikan sesuai kebutuhan. Selain itu, bibit dapat diproduksi dalam jumlah banyak dan bebas penyakit.

"Dengan kultur jaringan, kita bisa memotong waktu panen dari menunggu selama enam bulan menjadi 45 hari saja," terang Simon.

Selain memangkas waktu panen menjadi lebih cepat dan mengurangi ketergantungan impor, PT Bintang Toedjoe berharap riset dari laboratorium teknlogi kultur jaringan ini bisa membantu petani meningkatkan produktivitas tanaman obat jahe merah dan gingseng. (cin/rak)

(sb/cin/jek/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia