Minggu, 08 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Surabaya
Hari Pertama Masuk Sekolah

Tak Ada Perploncoan, Dikenalkan Permainan Tradisional

17 Juli 2018, 12: 38: 29 WIB | editor : Wijayanto

ATRAKTIF: Hari pertama masuk sekolah, para siswa baru disuguhi atraksi jaranan dan reog Ponorogo oleh kakak kelas saat orientasi sekolah di SDN Kertajaya IX, Surabaya, Senin (16/7).

ATRAKTIF: Hari pertama masuk sekolah, para siswa baru disuguhi atraksi jaranan dan reog Ponorogo oleh kakak kelas saat orientasi sekolah di SDN Kertajaya IX, Surabaya, Senin (16/7). (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

Surabaya - Hari ini merupakan hari pertama masuk sekolah. Seluruh jenjang pendidikan di Surabaya mulai dari SD, SMP, dan SMA/SMK, menjalankan Layanan Orientasi Sekolah (LOS) dan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) untuk SMA/SMK dengan gaya masing-masing.

Dalam masa pengenalan  dalam pekan ini, sudah tidak ada lagi tindakan perploncoan dengan atribut aneh-aneh. Berbagai sekolah mengemas kegiatan masing-masing dengan lebih edukatif, padat makna dengan mengedepankan pembentukan karakter siswa.

NGANTUK: Seorang siswa tampak menguap saat mengikuti masa Layanan Orientasi Siswa (LOS), di SDN Kaliasin I Surabaya, Senin (16/7).

NGANTUK: Seorang siswa tampak menguap saat mengikuti masa Layanan Orientasi Siswa (LOS), di SDN Kaliasin I Surabaya, Senin (16/7). (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

Beberapa sekolah di Surabaya mengemas kegiatan orientasi ini dengan cara yang enjoy dan tidak menekan. Tidak ada lagi ceritanya siswa trauma di hari pertama sekolah karena di sini mereka diajak untuk bermain games seru, diberikan materi-materi pengenalan lingkungan sekolah.

Kebanyakan sekolah memfasilitasi siswa untuk  meningkatkan kecintaan terhadap tanah air, kepedulian terhadap lingkungan dan sosial. Wawasan seputar terorisme juga diberikan oleh TNI dan Polri di hari berikutnya.

“Kegiatan MOS yang aneh-aneh seperti dulu itu sudah gak berlaku itu, sudah gak zamannya, semua siswa datang hanya dengan seragam dan name tag saja,” kata Kepala SMAN 1 Surabaya, Khoiril Anwar. 

Seperti LOS di SDN Mojo III. Di hari pertama, siswa baru diajak untuk mengeksplor permainan tradisional seperti egrang, kawat telepon dari kaleng, lompat tali, bakiak dan lain sebagainya.

Kegiatan ini, dimaksudkan untuk membentuk karakter siswa serta mewadahi sosialisasi yang lebih interaktif dan cair antarsiswa dengan gurunya.

“Banyak anak yang tidak kenal permainan tradisional karena saat ini musim gadget. Oleh karena itu, kami berusaha menanamkan karakter kepada anak-anak melalui permainan tradisional ini. Hari ini kita sekaligus launching bahwa sekolah kami adalah sekolah pelestari dolanan tradisional,” Kata Kepala SDN Mojo III Soemarlik S,Pd, Mm, Senin(16/7).

Kegiatan yang sama juga dilaksanakan di SDN Kaliasin 1. Di hari pertama ini, anak-anak diajak untuk mengikuti fun game yang dilaksanakan di lapangan. Menariknya, tak hanya siswa kelas satu yang berkegiatan, mulai dari kelas dua hingga kelas enam juga diikutkan LOS. Mereka diajak bermain games, dikenalkan lingkungan sekolahnya, pendalaman materi keagamaan dan kepedulian terhadap lingkungan dan sesama.  

“LOS ini kita ajaran lima hari mulai dari kelas satu hingga enam. Kenapa semua kita libatkan, karena di SD Kaliasin ini tahun ini kan sudah merger, sehingga anak-anak perlu mengenal satu sama yang lain. Harapannya siswa bisa fresh dan siap untuk belajar,” kata Kepala SDN Kaliasin 1, Mardiningsih

Di jenjang yang lebih tinggi, SMP, setiap sekolah juga memiliki caranya tersendiri untuk mngenalkan sekolahnya. Seperti di SMPN 6 Surabaya. Di hari pertama LOS, kegiatan dikmas dengan unik yakni pelepasan ribuan burung yang dibawa oleh siswa baru. Kegiatan ini dilaksanakan seusai upacara pembukaan. Hal ini disampaikan oleh Kepala SMPN 6 Surabaya Ahmad Sya'roni, S.Pd, M.Pd,

“Setiap anak membawa tiga burung. Jenisnya bebas. Bila ada 400-an siswa berarti melepas 1.200-an burung ke alam bebas,” kata Roni. Pelepasan burung ini, lanjut Roni, sebagai tanda mensyukuri yang sudah didapat. Selain itu, sebagai sekolah ramah lingkungan, pihaknya menghindari melepas balon ke angkasa.

Sementara di tingkat SMA, Seperti di SMA 1 Surabaya, sekolah melibatkan wali murid untuk turut dalam kegiatan masa orientasi hari pertama. Keterlibatan orang tua ini diharapkan agar mereka mengenal lingkungan sekolah yang akan dimasuki oleh anak.

“ Di junkis kan disebutkan anak-anak hari pertama hendaknya diantarkan orang tua, daripada mereka cuma ngantar, kenapa gak sekalian saja masuk,” terang Khoiril Anwar.

Kegiatan LOS dan MPLS ini berlangsung selama tiga sampai 5 hari. Seluruh kegiatan ini difasilitasi oleh guru, berbeda dengan MOS beberapa tahun lalu yang di-handle osis. Kegiatan dilakukan secara edukatif tanpa perploncoan dan atribut yang tidak perlu mengikuti Permendikbud 55 Tahun 2015.(*/no)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia