Selasa, 17 Sep 2019
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal

Sejoli Pelaku Order Taksi Fiktif Diancam Pasal Berlapis

10 Juli 2018, 16: 48: 29 WIB | editor : Wijayanto

SETIA SAMPAI BUI: Fhederick Thenady (kiri) tertunduk dan Indrawati memandang JPU yang membacakan dakwaan di disidang perdana kasus order fiktif taksi online.

SETIA SAMPAI BUI: Fhederick Thenady (kiri) tertunduk dan Indrawati memandang JPU yang membacakan dakwaan di disidang perdana kasus order fiktif taksi online. (YUAN ABADI/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Indrawati dan Fhederick Thenady duduk di kursi pesakitan Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Senin (9/7). Kedua pasangan kekasih ini menjalani sidang perdana atas perkara order fiktif taksi online. Keduanya ancaman pasal berlapis.

Pada sidang perdana yang digelar di Ruang Garuda 2, sejoli ini dihadirkan bersama meski berkas perkara dilakukan terpisah (split).  Selama persidangan itu, Indrawati dan Fhederick hanya memandang ke Jaksa Penuntut Umum (JPU) saat membacakan berkas dakwaan. Sesekali perempuan berkacamata ini tertunduk sembari menyimak dakwaan.  Sementara itu, dalam surat dawkaanya, JPU Muhammad Nizar menjabarkan dakwaan secara ringkas. Kedua terdakwa didakwa melakukan order fiktif demi mendapat bonus di ojek online ini. 

“Kedua terdakwa diancam pidana dalam pasal 35 jo pasal 51 ayat (1) UU RI No 19/2016 tentang Informasi Transaksi Elektronik,” jelasnya di hadapan majelis hakim yang diketuai Timur Pradoko. 

Bermula pada Senin 26 Maret 2018 sekitar pukul 13.30 WIB. Saat itu terdakwa Indrawati didatangi petugas dari Subdit V Siber Ditreskrimsus Polda Jatim ketika berada di Jalan Raya Manyar Gresik. 

Ketika ditangkap polisi, Indrawati dan Fhederick ada di dalam Mobil Toyota Calya bernopol L-1964-TD melakukan kegiatan memesan orderan dari penumpang secara fiktif jasa taksi online. 

Ketika ditangkap, polisi menggeledah mobil terdakwa dan menemukan barang bukti seperti 10 buah ponsel dengan akun driver fiktif, dan dua modem wifi. 

“Polisi juga menyita dua kartu ATM yang dipakai untuk menerima bonus dari Grab, setelah melakukan order fiktif itu,” ujar M Nizar

Kedua terdakwa melakukan order penumpang secara fiktif sejak Juni 2017 lalu. Tujuannya untuk memperoleh bonus yang diberikan oleh perusahaan, dengan ketentuan jika sudah mendapat 10 trip atau sepuluh kali menjalankan orderan dari penumpang dalam waktu jam 5.00 pagi sampai dengan jam 24.00, akan mendapatkan bonus/insentif sebesar Rp 120 ribu. (yua/rtn)

(sb/yua/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia