Selasa, 20 Aug 2019
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Kurang, Donwori Cuma Jatah Rp 50 Ribu sehari, Istri Kelimpungan

08 Juli 2018, 06: 05: 59 WIB | editor : Abdul Rozack

Donwori Cuma Jatah Rp 50 Ribu sehari, Istri Kelimpungan

Donwori Cuma Jatah Rp 50 Ribu sehari, Istri Kelimpungan (Grafis: Fajar)

Share this      

Tugas suami mencari nafkah, tugas istri mengelolanya. Namun, dalam menjalankan tugas mulia dalam lingkup yang namanya rumah tangga, semua itu  haruslah didasari sikap saling menghormati dan rasional. Meskipun kadarnya sedikit. Jangan seperti pasangan Donwori, 35, dan Karin, 31, ini.

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

Sepertinya ada yang tak beres dengan pola pikir Donwori. Bapak beranak dua ini memutuskan sepihak untuk menceraikan Karin,  istrinya. Alasannya pun sungguh klise. Malah terkesan diada-adakan.

Ia katakan, sang istri tak dapat mengelola keuangan dengan baik. Hingga ia harus menumpuk hutang di mana-mana. "Gimana mau mengatur keuangan kalau satu hari hanya diberi jatah Rp 50 ribu. Uang segitu mah gak bisa diatur. Apa-apa sekarang mahal. Beras aja sekilo sing lumayan enak dipangan wis Rp 15 ribu. Dadi wong wedok (istri, Red) kudu pinter nyukup-nyukupno," omel Karin saat berada di ruang tunggu Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya, Jumat (6/7).

Dengan uang Rp 50 ribu, lanjut Karin, ia harus pandai memutar otak. Ia harus berpikir super keras agar suami dan dua anaknya tetap bisa makan tiga kali sehari, jajan, beli kebutuhan sehari-hari, hingga urusan dapur lainnya. Belum lagi kebutuhan sekolah yang remeh temeh, yang sebenarnya tak remeh juga, seperti pensil, penghapus, buku tulis, dan buku gambar.

Alhasil, perempuan yang tinggal di Manukan Kulon itu sekali dua kali hutang pada tetangganya. Itu pun Karin lakukan hanya ketika ia terdesak. Membeli buku paket anak atau berobat. Pokoknya hanya ketika butuh yang gede-gede saja. Yang gawat darurat.

 "Lagu lama lah. Aku pasti dimarahin habis-habisan, digoblok-gobloke kalau minta dia (Donwori, Red). Jadinya, ya hutang. Yok opo maneh. Mosok kate nyolong," jelasnya.

Hingga suatu ketika hutang Karin terkumpul hingga nominal jutaan. Sang tetangga yang saat itu perlu uangnya balik, datang ke rumah untuk menagih. Kebetulan saat itu Donwori lah yang menemui. Sontak, Donwori yang tak tahu menahu istrinya hutang sana-sini, langsung menalaknya.

"Dia muntab lah. Langsung malam itu juga aku ditalak gara-gara dianggap tak becus jadi istri. Halah, yo uwes. Aku dewe wes gak betah sama dia, " keluh Karin.

Sempat, di awal-awal menikah, lanjut Karin, dirinya pergi bekerja untuk membantu perekonomian keluarga. Namun, sudah sempat jalan beberapa tahun, suaminya melarangnya dengan alasan perempuan bekerja itu ajaran Barat. Yang membuat perempuan makin ngelunjak karena punya penghasilan dewe. Alhasil Karin pun berhenti bekerja. 100 persen ia menjadi ibu rumah tangga. Mengurus Donwori dan dua buah hatinya. "Yo akhire koyo ngene. Nglarang gak kerjo, tapi gak sesuai karo sing diwehne. Akhire aku kudu iso nyukup-nyukupne ngene,” lanjutnya.

Meski sempat sedih, perempuan dengan hijab polosan ini malah lega dicerai suami. Rupanya sudah bertahun-tahun Karin ngempet hidup bareng laki-laki berwatak keras dan ngeyelan itu. Daripada ia tak tenang hidupnya karena terus-terusan  ngerundel, ya penyelesaian terbaik adalah pisah. "Aku lho ya gak pasrah bongkokan. Di rumah iku, aku ya dikit-dikit bantu dia dengan jualan Sophie Martin sama Tupperware. Tapi, ya memang hidup di kota gede ini uang segitu gak cukup. Yo wes lah. Mbuh. Ancen garis nasibku kudu ngene," pungkas Karin pasrah bongkokan. (*/opi)

(sb/is/jek/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia