Selasa, 19 Nov 2019
radarsurabaya
icon featured
Features Sidoarjo

Koreografer Sri Mulyani Sukses Membimbing Siswa Difabel

07 Juli 2018, 06: 04: 40 WIB | editor : Lambertus Hurek

Sri Mulyani memberikan latihan khusus untuk Ryan.

Sri Mulyani memberikan latihan khusus untuk Ryan. (IST)

Share this      

Anak berkebutuhan khusus (ABK) ternyata punya bakat dan potensi di bidang kesenian. Jika diarahkan oleh guru yang baik, mereka pun tak kalah dengan anak-anak lainnya. Inilah pengalaman Sri Mulyani, seniman dan koreografer senior Kota Delta, saat melatih beberapa murid ABK di Sanggar Tari Mulyo Joyo.

MELATIH ABK alias difabel tentu berbeda dengan anak-anak biasa. Sebab, mereka memiliki keterbatasan motorik. Mereka juga perlu waktu untuk mencerna arahan dari pelatih atau instruktur. Karena itu, guru tari seperti Sri Mulyani harus punya kesabaran ekstra.

"Senang dapat pengalaman dan kesempatan yang Allah SWT berikan untuk mengajari nari kepada murid saya Ryan. Dia murid disabilitas. Anak berkebutuhan khusus yang belajar di sanggar saya," katanya kemarin.

Sri Mulyani yang banyak mengoleksi penghargaan sebagai penata tari itu mengaku terkesan dengan kemajuan Ryan. Anak ini ternyata punya daya ingat yang tinggi. Ini membuat dia lebih mudah menirukan gerakan-gerakan tari yang dicontohkan oleh sang guru. "Alhamdulillah, sekarang dia pandai menari," ujar seniwati yang kerap menciptakan tari kontemporer berlatar belakang sejarah dan tradisi Sidoarjo itu.

Tidak sulit mengajari anak-anak berkebutuhan khusus untuk menguasai tarian tertentu? "Gampang-gampang susah," ujar Sri Mulyani. "Tapi lama-lama asyik karena semangatnya yang luar biasa. Ryan dapat menguasai tari remo bolet, rampak, pasaran, dongklak, semut, kelelawar dan masih bnyak lagi," tutur Sri sumringah.

Biasanya Sri menerapkan kiat khusus bagi murid-murid ABK ini. Mereka diajak mendengarkan musik pengiring tarian secara intensif sambil duduk. Irama musik harus benar-benar diresapi oleh Ryan dan temannya. "Meresapi musik itu penting dalam teknik mengajar karena dia harus peka untuk perpindahan gerak agar sesuai dengan musiknya," katanya.

Menurut dia, awalnya ABK seperti Ryan atau Khanzha sangat takut dengan orang lain yang belum dikenal. Namun, kini dia menjadi sangat percaya diri. "Bahkan, kalau pas nari bersama-sama ada temannya enggak hafal, dia suka mau betulkan temannya walaupun tidak jelas bicaranya," tutur wanita 40-an tahun ini. "Saya perhatikan bahwa anak-anak yang belajar dengan saya menjadi lebih percaya diri, ekspresif, dan energik."

Yang menggembirakan, menurut Sri, anak berkebutuhan khusus ini akhirnya merasa sama dengan teman-temannya yang normal. Tidak minder atau rendah diri. Ini karena Sri selalu mengajarkan agar semua muridnya tetap saling menyayangi, mengasihi, menghormati, dan menghargai satu sama lain. Dari sini dapat menumbuhkan rasa percaya diri pada mereka," katanya.

Sri mengaku sangat bahagia karena siswa spesial seperti Ryan ternyata mampu berprestasi dalam festival seni tari. Ryan bahkan bakal mengikuti festival tari antar-SMP tingkat provinsi Jawa Timur. "Mohon doanya agar Ryan dapat tampil dengan baik sehingga bisa mewakili Jatim ke tingkat nasional di Bengkulu," pintanya. (sar/rek)

(sb/sar/rek/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia