Jumat, 24 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Lifestyle Gresik
Prof Dr Ir Setyo Budi, Rektor UM Gresik

Sejak Kecil Telah Berkutat dengan Dunia Tebu

06 Juli 2018, 12: 34: 14 WIB | editor : Aries Wahyudianto

Prof Dr Ir Setyo Budi

Prof Dr Ir Setyo Budi (Hany/radar Gresik)

Share this      

Berbekal pengalaman sebagai peneliti, aktivis hingga bisnisman, Prof Dr Ir Setyo Budi, MS berjanji untuk pemperjuangkan para petani tebu di Indonesia. Rektor Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) ia juga terkenal sebagai pejuang tebu rakyat Indonesia.

SELAMA ini ia memang fokus sebagai peneliti industri gula. Secara garis besar, dalam tiga tahun ini ia telah menghasilkan jurnal internasional, membuat buku, dan riset development. “Saya juga punya prinsip, menjadi sukses teorinya masuk ke bidang yang sangat sulit,” tuturnya.

Menurut dia, data empiris membuktikan bahwa dalam bidang yang sulit tidak banyak tertarik. Ia menilai industri gula adalah salah satu bidang yang sulit karena tidak banyak yang tertarik. Alasannya, bentuk tumbuhannya yang seperti itu. Selain itu, bergerak di industri ini perlu keikhlasan karena kondisi pergulaan terus turun dari tahun ke tahun.

“Padahal zaman Belanda, industri gula kita terpuruk, namun setelah itu zaman orde berjaya, dan kini terpuruk lagi,” jabarnya.

Ia menjelaskan senang dengan tebu karena terbiasa dengan lingkungan ini. Dulu, Setyo Budi besar di Desa Gumeng Mojokerto, yang mayoritas petani. Kebetulan dulu waktu kecil Setyo Budi juga sering disuruh menjaga lahan tani oleh orang tuanya.

“Kalau pagi sekolah, kalau malam saya disuruh mengelilingi kebun supaya tanaman dan sapi tidak dimakan oleh babi hutan (celeng)," jelasnya.

Itu yang akhirnya membuat tahu karakter petani. Meski begitu, pendidikan tidak ia tinggalkan. Itu tidak lain karena didikan orang tuanya pula yang sangat mengagumi Presiden RI pertama Soekarno. Katanya, kalau ingin jadi pemimpin, maka harus jadi mahasiswa. Maka itu ayahnya punya impian harus sekolah setinggi-tingginya, sampai akhirnya kuliah di UPN.

“Sejak kuliah di UPN saya sudah berjuang untuk petani tebu hingga sekarang, " jelasnya.

Menurut dia,  ada beberapa persoalan serius yang saat ini dihadapi petani tebu. Di antaranya kualitas bibit yang tidak memadai, kemudian sarana produksi pertanian yang sering terlambat, lalu irigasi yang tidak baik. Hal ini belum lagi persoalan pupuk yang juga menjadi kendala, dan problem revitalisasi pabrik gula.

Ia berharap ada solusi untuk para petani tebu. “Kami sudah sampaikan ke pemerintah pusat dan akan segera dibahas,” jelasnya. (*/jee)

(sb/han/ris/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia