Sabtu, 14 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Sidoarjo

Gagalkan Jual Beli Cenderawasih di Bungurasih

03 Juli 2018, 06: 14: 10 WIB | editor : Lambertus Hurek

Kompol Harris menunjukkan bangkai cenderawasih yang diselundupkan tersangka Hadi.

Kompol Harris menunjukkan bangkai cenderawasih yang diselundupkan tersangka Hadi. (Guntur/Radar Sidoarjo)

Share this      

Penjualan burung cenderawasih digagalkan oleh Polresta Sidoarjo dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Wilayah Bali, Jawa, Nusa Tenggara seksi Wilayah II Surabaya. Hadi Suprapto, 48, warga Desa Kedungsari, Kemlagi, Mojokerto, dicokok di depan Ramayana, Desa Bungurasih, Kecamatan Waru.

Tukang ojek ini hendak menjual tiga burung cenderawasih. Padahal, hewan ini masuk golongan appendix I yang dilindungi undang-undang.

Awalnya, penyidik KLHK Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup Kehutanan Wilayah Bali, Jawa, Nusa Tenggara Seksi Wilayah II Surabaya menerima laporan penjualan hewan yang dilindungi. Petugas pun langsung menyelidiki ke lokasi. Saat itu ia juga mereka menghubungi Polresta Sidoarjo untuk melakukan penindakan terhadap tersangka.

  "Kami menuju ke lokasi dan mengamankan tersangka," kata Kasatreskrim Polresta Sidoarjo  Kompol Muhammad Harris, Senin (2/7).

Petugas gabungan menemukan tiga burung cenderawasih. satu cenderawasih raja jantan, cenderawasih raja betina, dan cenderawasih kuning kecil. Ketiga burung asal Papua itu disembunyikan di dalam kardus air mineral. Tersangka Hadi membawa burung itu menggunakan sepeda motor Honda Supra X dari rumahnya. 

"Dia mengaku hendak bertemu seseorang yang mau membeli tiga burung ini," papar Harris. 

Burung tersebut ternyata dikirim melalui jalur laut oleh temannya. Untuk mengelabui petugas, burung yang dilindungi itu ditaruh dalam kardus air mineral. Ternyata cara tersebut berhasil. Hingga akhirnya burung asli Papua ini berada di tangan tersangka. 

Sebenarnya ada empat burung cenderawasih yang dikirim dari Papua. Sayang, satu ekor meninggal dalam perjalanan. Tiga ekor burung tersebut masih hidup. "Satu lagi meninggal saat dalam pemeriksaan. Dikarenakan tidak cocok dengan suhu di sini. Kami sudah mencoba membawanya ke dokter, namun tetap tidak bisa tertolong," katanya.

Tersangka Hadi dijerat dengan Pasal 21 Ayat 2 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya serta Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang pengawetan. "Tersangka diancam hukuman kurungan lima tahun dengan denda  Rp 100 juta," tegasnya. 

BELUM KENAL PEMBELINYA

Pengakuan tersangka Hadi pada polisi, ia mendapat burung cenderawasih itu dari temannya yang berasal dari Papua. Ia mengambilnya saat kapal berlabuh di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.  Saat itu ia mengambil dan membawanya menggunakan  kardus ke rumahnya di Mojokerto.

Selang beberapa hari, ia mendapat pembeli dan  sepakat untuk bertemu di depan Ramayana,  Bungurasih, Waru. Ia tidak tahu sama sekali siapa  pembelinya.

"Tersangka ini langsung menjual burung tersebut. Ia tidak tahu dijual berapa. Hanya saja, harga seekor burung bisa mencapai Rp 10 juta," kata Kompol Harris.

Tersangka Hadi mengaku baru sekali ini memperdagangkan burung cenderawasih. Biasanya, ia hanya menjual burung kenari, perkutut, dan sejenisnya yang bukan masuk kategori burung dilindungi ekosistemnya. 

Sementara itu, petugas penyidik KLHK Balai  Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup  Kehutanan Wilayah Bali, Jawa, Nusa Tenggara Seksi Wilayah II Surabaya Heru Sutopo mengatakan, kasus  tersebut bukan hanya sekali ini saja. Tahun lalu,  sempat ada juga penyelundupan satwa jenis  appendix I ini di Jawa Timur dan berhasil  digagalkan. "Paling banyak kakaktua yang  diselundupkan," terangnya.

Menurut Heru, burung cenderawasih ini tidak bisa bertahan hidup terlalu lama di Jawa Timur atau Pulau Jawa umumnya. Sebab, habitat aslinya di di atas pegunungan Papua. Burung-burung itu hanya turun untuk mencari makan. "Ini termasuk paling lama dan hebatnya dua ekor masih bisa bertahan hidup," ujarnya. (gun/rek)

(sb/gun/rek/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia