Jumat, 24 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Politik Surabaya

Kudori Ngaku Bukan Kesengajaan Nyoblos Ganda

02 Juli 2018, 16: 31: 43 WIB | editor : Wijayanto

REKAPITULASI: Panitia pemungutan suara menunjukkan perolehan suara coblosan ulang Pemilihan Gubernur Jatim di TPS 49 Kelurahan Manukan Kulon, Tandes. Hasilnya, Khofifah-Emil 135 suara, Gus Ipul-Puti 72 suara.

REKAPITULASI: Panitia pemungutan suara menunjukkan perolehan suara coblosan ulang Pemilihan Gubernur Jatim di TPS 49 Kelurahan Manukan Kulon, Tandes. Hasilnya, Khofifah-Emil 135 suara, Gus Ipul-Puti 72 suara. (VEGA DWI ARISTA/RADAR SURABAYA)

Share this      

Surabaya - Kudori tampak menyesal dengan tindakan pencoblosan ganda yang dilakukannya. Ditemui di rumah kontrakannya di Manukan Kulon IV/35, Minggu (1/7) sore dirinya mengaku tidak sengaja dan tidak mengerti aturan pencoblosan dalam pemilu.

       Pria 74 tahun ini menceritakan, saat menerima surat C6 yang diantar di rumah kontrakannya, dirinya tidak membaca isi surat tersebut. Kudori hanya tahu jika surat itu harus dibawa saat mencoblos. “Saya waktu menerima surat itu (C6) tidak pakai kacamata jadi tidak bisa baca,” ujarnya.

       Bapak tiga anak ini pun langsung menuju ke TPS 49 yang berjarak sekitar 500 meter dari rumah kontrakan yang sudah ditinggalinya sekitar setahun lebih itu. “Istri saya malah gak bisa baca jadi ya datang ke TPS langsung nyoblos gak baca surat apa-apa,” ucapnya.

       Usai mencoblos di TPS 49, dirinya bersama Sulichah langsung pergi ke rumah yang pernah ditempatinya dulu di Manukan Wetan. Di kawasan itu, pasutri tersebut tercatat sebagai Daftar Pemilih Tetap (DPT). Mereka kemudian kembali menggunakan hak suaranya di TPS 09 Manukan Wetan. “Saya sebenarnya sudah celup ditinta waktu di TPS 49 tapi kok lolos nyoblos juga ya,” terangnya.

       Dia mengakui, pencoblosan ganda yang dilakukan bersama istrinya tersebut tidak dilakukan karena kesengajaan. Dia baru sadar setelah ada petugas dari KPU, Panswaslu dan polisi datang menemuinya untuk menanyakan masalah pencoblosan yang dilakukannya. “Saya ditanyai banyak hal tetapi saya bilang tidak sengaja karena tidak baca dan tidak ngerti aturan,” kata Kudori yang kesehariannya bekerja sebagai tukang tambal ban ini.

Dia mengungkapkan, sejak setahun dirinya bersama istrinya tersebut dikontrakkan rumah oleh anaknya. Di rumahnya tersebut juga dijadikan tempat untuk menampung alat medis yang menjadi usaha anaknya. “Saya tidak tahu apa-apa soal nyoblos ganda. Saya tidak disuruh siapapun,” tegasnya.

Ketua Panwaslu Surabaya Hadi Margo menegaskan, perbuatan pasutri menggunakan hak pilih di TPS 49 yang bukan TPS pemilih terdaftar, jelas melanggar Pasal 29 Ayat 1 huruf a UU 10 tahun 2016 tentang pemilihan gubernur, bupati dan wali kota. Dalam waktu dekat hasil dari evaluasi dugaan pelanggaran tersebut akan diumumkan. “Jika dinyatakan bersalah bisa terkena hukuman pidana minimal 24 bulan penjara,” terangnya. (vga/no)

(sb/vga/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia