alexametrics
Jumat, 10 Apr 2020
radarsurabaya
Home > Hukum & Kriminal Surabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya

Ngaku Derita Ganguan Jiwa, Royce Minta Dibebaskan

25 Juni 2018, 22: 13: 40 WIB | editor : Abdul Rozack

Sakit Jiwa : Royce Muljanto saat menjalani persidangan, dalam pembelaannya Royce minta dihukum ringan.

Sakit Jiwa : Royce Muljanto saat menjalani persidangan, dalam pembelaannya Royce minta dihukum ringan. (YUAN ABADI / RADAR SURABAYA)

Share this      

Surabaya- Sidang kasus penembakan mobil milik Kepala Dinas (Kadis) Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman Cipta Karya dan Tata Ruang (DPRKP CKTR) Kota Surabaya, Ery Cahyadi memasuki detik-detik akhir. Hal itu ditandai dengan pembacaan pledoi oleh terdakwa Royce Muljanto.  Setelah dituntut tiga bulan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ali Prakosa, Royce yang disangkakan pasal 406 KUHP tentang perusakan itu membacakan pembelaan. Dari sekian pembelaan, terdapat satu poin yang ditekankan kuasa hukum terdakwa Ardiansyah Tartanegara. Yakni tentang bipolar yang diderita anak dari pengusaha bengkel besar di Surabaya itu. 

Dihadapan majelis hakim Anne Rusiana, Ardiansyah mengatakan jika perbuatan terdakwa yakni menembaki mobil Ery tidak bisa dipertanggungjawabkan oleh hukum. Sebab hal itu diluar kontrol terdakwa yang mengalami bipolar. Sedangkan menurut keterangan saksi ahli dari dokter psikologi Bhayangkara jika Bipolar termasuk gangguan jiwa. 

“Sehingga merujuk pada pasal 44 ayat 1 yang menyatakan jika orang yang terganggu jiwanya perbuatannya tak bisa dipertanggungjawabakan dihadapan hukum,” ungkap Ardianysah.

Ardiansyah meminta hakim untuk menghukum ringan terdakwa atau bahkan membebaskannya. Sebab penanganan terbaik terhadap orang yang menderita gangguan jiwa adalah pengobatan dan pendampingan bukan tahanan.  “Selain itu, dua pasal yang memberatkan terdakwa yakni pasal pengancaman dan undang-undang darurat terdakwa juga tak memenuhi unsur. Namun untuk pasal 406 KHUPnya memang terbukti, tapi itupun terdakwa melakukannya dalam kondisi gangguan jiwa,” lanjut Ardiansyah. 

Sementara itu JPU Ali Prakosa meminta waktu kepada majelis hakim untuk menanggapinya. Sehingga sidang pun ditunda minggu depan. Sebelumnya, Ali menuntut Royce dengan tiga bulan penjara. Sebab terdakwa Royce Muljanto diduga terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana perusakan. Hal itu sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam dakwaan Pasal 406 KUHP. 

“Perbuatan terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah, sesuai dengan Pasal 406 KUHP. Untuk itu meminta hakim menghukum terdakwa dengan penjara tiga bulan dikurangi masa tahanan,” kata Jaksa Ali Prakoso dihadapan Ketua Majelis Hakim Anne Rusiana beberapa waktu lalu. 

Seperti pernah diberitakan sebelumnya, kasus ini berawal saat mobil pribadi Eri Toyota Innova warna hitam bernopol L 88 EC diberondong peluru oleh Royce, Rabu siang (14/3). Penembakan itu terjadi saat mobil diparkir di rumah Eri di Perumahan Puri Kencana Karah, Jambangan, Surabaya. 

Dari hasil olah TKP, terdapat sebelas peluru yang ditemukan petugas. Peluru-peluru tersebut bersarang di bodi bagian belakang mobil. Royce ditangkap polisi di KFC Ahmad Yani setelah mobilnya termonitor di Bundaran Waru. Royce nekat melakukan aksinya, lantaran sakit hati kepada Ery Cahyadi yang sudah menyegel dan membongkar bengkel mogenya di Jalan Ketintang Madya nomor 111, Surabaya.(yua/rtn)

(sb/yua/jek/JPR)

 TOP