Minggu, 19 Aug 2018
radarsurabaya
icon featured
Features Sidoarjo

Tradisi Lebaran Ketupat Simbol Kebersamaan dan Kasih Sayang

Jumat, 22 Jun 2018 05:55 | editor : Lambertus Hurek

Menganyam ketupat sambil menunggu pembeli di Sidoarjo.

Menganyam ketupat sambil menunggu pembeli di Sidoarjo. (SATRIA NUGRAHA/RADAR SIDOARJO)

Selepas bermaaf-maafan saat Idul Fitri, sebagian warga juga mempersiapkan janur untuk tradisi Lebaran Ketupat. Pedagang musiman pun marak menjajakan di sejumlah pasar di Kota Delta. Ada yang menawarkan daun kelapa, ada juga yang menjual selongsong ketupat.

MUHAMMAD Asik, warga Desa Lajuk, Porong, sejak pekan lalu menjajakan janur di kompleks Pasar Porong. Dibantu keluarganya, pria sepuh ini gencar menawarkan dagangannya kepada para pengunjung. "Saya setiap tahun jualan janur dan ketupat sejak masih di pasar lama," ujarnya, Selasa (19/6).

Asik mengaku membeli daun-daun kelapa yang masih muda ini dari Lumajang dan Jember. Sebab, kawasan itu punya banyak pohon kelapa. "Saya mulai jualan sejak menjelang Lebaran. Soalnya banyak warga yang membeli janur untuk membuat masakan khas Lebaran," katanya.

Tidak semua warga punya waktu untuk membuat selongsong ketupat. Selain itu, perlu keterampilan khusus untuk menganyam bungkus kuliner khas Lebaran itu. Maka, Asik pun menyediakan anyaman ketupat yang sudah jadi. "Satu ikat cukup Rp 10 ribu. Enggak perlu repot bikin sendiri di rumah," katanya.

Dito Alif Pratama, cendekiawan muslim, mengatakan, umat Islam di Jawa umumnya mengenal dua kali Lebaran, yaitu Idul Fitri dan Lebaran Ketupat. Idul Fitri dilaksanakan tepat pada 1 Syawal, sedangkan Lebaran Ketupat berlangsung pada 8 Syawal atau sepekan setelah Lebaran. Tradisi Lebaran Ketupat pada hari kedelapan bulan Syawal setelah menyelesaikan puasa Syawal selama enam hari. 

"Hal ini berdasarkan sunnah Nabi Muhammad SAW yang menganjurkan umat Islam untuk berpuasa sunnah enam hari di bulan Syawal," jelasnya.

Dalam sejarahnya, menurut Dito, Lebaran Ketupat pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga. Saat itu Sunan Kalijaga memperkenalkan dua istilah bakda kepada masyarakat Jawa, yakni Bakda Lebaran dan Bakda Kupat. Bakda Lebaran dipahami dengan salat Id hingga tradisi saling kunjung dan memaafkan sesama muslim. Sedangkan Bakda Kupat dimulai seminggu sesudah Lebaran. 

Ketupat dibuat dari beras yang dimasukkan ke dalam anyaman daun kelapa (janur) yang dibuat berbentuk kantong, kemudian dimasak. Setelah masak, ketupat diantarkan ke kerabat terdekat dan kepada orang yang lebih tua. "Sebagai simbol kebersamaan dan lambang kasih sayang," ujarnya. (sat/rek) 

(sb/sat/rek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia