Selasa, 15 Oct 2019
radarsurabaya
icon featured
Features
Hikmah Ramadan

Jihad Kendalikan Nafsu

Oleh: M. Eksan, Anggota DPRD Jatim

01 Juni 2018, 11: 05: 04 WIB | editor : Wijayanto

M. Eksan, Anggota DPRD Jatim

M. Eksan, Anggota DPRD Jatim (dok)

Share this      

RANGKAIAN teror yang beruntun menjelang bulan Ramadhan, di Mako Brimob, Surabaya dan Riau, membuat suasana mencekam. Termasuk pengamanan dimana-mana semakin ketat, terutama di tempat umum: bandara, terminal, stasiun, hotel, dan lain sebagainya.

Apalagi, modus teror yang melibatkan satu keluarga, dan anak-anak yang di bawah umur, membuat publik semakin merespon dramatis. Publik memperbincangkan kasus dengan nada heran dan penuh keprihatinan, serta tanda tanya besar. Ternyata, ada orang tua yang melibatkan anaknya menjadi bomber bersamanya.

Sebuah jalan yang diklaim sebagai "amaliyah isytisyhadiyah" (aksi bom syahid), yang oleh masyhur para ulama, hanya dibenarkan di daerah perang. Syeikh Yusuf Qardhawi, hanya memperbolehkan di Palestina. Selebihnya, tidak masuk dalam darul harb, dalam penilaian ulama internasional yang paling berpengaruh di dunia tersebut. Pelaku bom bunuh diri bukan mati syahid dalam segala macam pengertiannya.

Rasulullah SAW, memperkenalkan "Jihadun Nafs" sebagai jihad akbar dari pada Perang Badar sebagai jihad ashghar. Dalam hadits yang sangat populer tersebut, Jihadun Nafs berkaitan dengan sebagai upaya untuk menghadapi diri sendiri.

Puasa Ramadhan adalah medan Jihadun Nafs untuk mendidik dan melatih umat agar dapat mengalahkan dorong hawa nafsu perut dan di bawah perut. Upaya umat mencegah dari makan, minum dan hubungan seksual sejak terbitnya fajar sampai dengan terbenamnya matahari, adalah bukti nyata dari Jihadun Nafs tersebut.

Hawa nafsu adalah musuh terbesar manusia dimana pun dan kapan pun. Hawa nafsu ini bagian perhiasan kehidupan manusia yang cinta terhadap wanita, anak, perhiasan emas, perak, kendaraan, hewan peliharaan, dan sawah ladang. Cinta dunia adalah hal yang kodrati dan dimiliki setiap manusia tanpa terkecuali.

Namun, cinta dunia yang berlebihan, bukan lagi perhiasan dunia, akan tetapi sumber pokok dari kesalahan, baik terhadap Allah, manusia maupun terhadap alam. Kerusakan di muka bumi, baik di darat maupun di laut, berpangkal pada keserakahan yang selalu merasa kurang dan kurang. Sudah menjadi watak, manusia ini tak ada puasnya.

Anugerah alam selalu dirasa tak cukup. Keserakaan yang mendorong eksploitasi terhadap sumberdaya manusia dan sumberdaya alam, yang memicu perselisihan, persengketaan dan peperangan.

Para ulama fiqih, menyebutkan, perang itu fardu kifayah, kewajiban sosial, yang gugur bila salah satu warga bangsa melakukannya. Sementara, Jihadun Nafs itu fardu ain, kewajiban personal, yang gugur bila seluruh warga bangsa melakukannya. Perang itu jihad kecil, sedang Jihadun Nafs itu jihad besar.

Warga bangsa diberi kebebasan untuk memilih, jihad kecil atau jihad besar? Barang tentu, jihad besar yang akan membawa dampak perdamaian dan harmoni sosial. Puasa adalah pembangunan manusia.

Suatu ikhtiar ilahiyah untuk memobilisasi kaum muslimin dalam damai dan harmoni secara kolektif dan massif. Hari-hari di bulan Ramadhan, mendorong setiap orang berdamai dengan Allah, melalui amal ibadah dan amal shaleh yang ditingkatkan.

Sayyid Husein Nasr mengatakan, barangsiapa yang bisa berdamai dengan Allah, maka ia pasti bisa berdamai dengan manusia, dan juga dengan alam. Islam itu esensinya damai dan perjuangan menghadirkan perdamaian di muka bumi. (bae/rud)

(sb/bae/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia