Minggu, 08 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Sidoarjo

PPLS Tidak Bisa Menutup Semburan Lumpur

29 Mei 2018, 20: 52: 03 WIB | editor : Lambertus Hurek

Djaja Laksana menjelaskan teori bernoulli di kawasan lumpur Siring, Porong.

Djaja Laksana menjelaskan teori bernoulli di kawasan lumpur Siring, Porong. (Satria Nugraha/Radar Sidoarjo)

Share this      

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, nyaris tidak ada kegiatan untuk memperingati 12 tahun semburan lumpur. Selain bertepatan dengan bulan Ramadan, persoalan ganti rugi sebagian besar korban lumpur sudah diselesaikan.

Yang jadi pertanyaan, apakah semburan lumpur sejak 29 Mei 2016 itu bisa dihentikan? Sampai sekarang lumpur terus menyembur meski volumenya tidak sedahsyat tahun-tahun awal.  

Humas Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) Hengki Listria Adi mengatakan, sejauh ini belum ditemukan cara untuk menghentikan lumpur. Berdasar penelitian pakar, di dalam pusat semburan terdapat gunung lumpur atau mud volcano. Karena itu, langkah realistisnya adalah mengalirkan lumpur ke Kali Porong.

Hengki menyatakan, saat ini PPLS menyiapkan penataan kawasan lumpur. Ada dua pembagian. Di luar peta area terdampak (PAT) dan di dalam PAT. Di dalam PAT, akan dikembangkan konsep geopark. ’’Konsepnya, akan kami jadikan kawasan wisata,’’ jelasnya.

Kawasan itu dilengkapi dengan museum geopark. Saat ini bangunan tersebut sudah berdiri. Ke depan, museum itu menyajikan barang-barang peninggalan warga. Bangunan tersebut juga menyuguhkan sejarah lumpur sejak awal hingga menenggelamkan sekitar 15 desa/kelurahan.

Sementara itu, kemarin, Ir Djaja Laksana, pakar alumni ITS Surabaya, mendatangi lokasi semburan lumpur di Desa Siring, Porong. Dia mendukung rencana Pemerintah Kabupaten Sidoarjo untuk menjadikan kawasan Lumpur Sidoarjo (Lusi) menjadi lokasi area wisata geopark. "Saya sangat mendukung kalau memang mau dijadikan lokasi wisata. Asalkan semburan lumpur itu dihentikan terlebih dulu," ungkapnya.

Djaja optimistis semburan lumpur masih bisa dihentikan meski saat ini sudah berlangsung selama 12 tahun. Djaja masih menawarkan metode penutupan dengan teori Bernoulli. "Solusi sudah saya ajukan tahun 2006. Kalau tidak, kata geolog lumpur ini masih akan keluar 25 sampai 30 tahun lagi," imbuhnya.

 Menurut dia, apa yang dilakukan BPLS, kemudian PPLS, dengan meninggikan tanggul sejatinya merupakan teori Bernoulli. "Dulu, tahun 2008, Okamura dari Jepang pernah akan masuk ke sini untuk mengatasi lumpur. Waktu itu ia akan menggunakan teori Bernoulli, tapi ketika ada komplain tidak jadi. Akhirnya dibiarkan sampai sekarang ini," paparnya.

Djaja tidak pernah mempermasalahkan jika teori temuannya dipakai pemerintah untuk mengatasi semburan lumpur di Porong. "Saya tidak menuntut apa-apa. Yang terpenting adalah semua untuk masyarakat Sidoarjo," ujarnya. (mus/rek)

(sb/mus/rek/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia