Senin, 10 Dec 2018
radarsurabaya
icon featured
Persona Surabaya
Kabiro Pemerintahan dan Otonomi Daerah Jatim

Anom Surahno, Tekuni Pekerjaan dan Jaga Kepercayaan

27 Mei 2018, 08: 00: 59 WIB | editor : Abdul Rozack

Anom Surahno, Kabiro Pemerintahan dan Otonomi Daerah Pemprov Jatim

Anom Surahno, Kabiro Pemerintahan dan Otonomi Daerah Pemprov Jatim (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

Siapa yang bekerja dengan sungguh-sungguh, kepercayaan itu akan datang. Ungkapan tersebut yang melecut semangat Kepala Biro Pemerintahan dan Otonomi Daerah Sekdaprov Jatim, Anom Surahno meraih semuanya hingga akhirnya seperti sekarang ini. Bagaimana kisah lengkapnya? Berikut penuturannya kepada wartawan Radar Surabaya, Baehaqi Almutoif.

Bagaimana awal perjalanan karir Bapak?

Saya awalnya mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Airlangga lulusan tahun 1982. Saya ambil Jurusan Hukum Internasional, dengan skripsi saya judulnya tentang Membatasi Aksi Terorisme Internasional dengan Hukum Internasional.

Kemudian setelah itu saya membantu di Lembaga Studi Kajian dan Bantuan Hukum (LSKBH), yang merupakan lembaga bantuan hukum milik alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesa (GMNI). Pertama saya bergabung di situ setelah lulus. Hingga beralih profesi menjadi wartawan. Pertama saya berkarir di dunia jurnalistik bergabung dengan Suara Indonesia.

Lalu Jawa Pos membeli Karya Dharma, sampai namanya berubah menjadi Pewarta Siang. Setelah itu saya lantas mencoba membuat sendiri. Media pertama yang saya coba dirikan adalah Majalah Toga.

Selanjutnya, ada majalah yang saya namai Soekarno. Inspirasinya dari Majalah Kartini. Karena  seharusnya kalau ada Majalah Kartini, harus ada Majalah Soekarno. Isinya khusus untuk laki-laki. Jadi, isi kontennya ya tentang laki-laki.

Kenapa kala itu Bapak memilih dunia jurnalistik?

Jadi, dulu itu, kami dan teman-teman di GMNI sudah dibagi. Ada yang menjadi dosen, dan kebetulan waktu itu saya ditunjuk menjadi wartawan. Itu sudah kesepakatan. Akhirnya saya memutuskan untuk masuk dunia jurnalistik.

Apa dasarnya Bapak dipilih masuk ke jurnalistik?

Karena memang suka menulis dan membaca. Itulah yang melandasi teman-teman di GMNI menunjuk saya untuk terjun ke dunia wartawan. Tapi, memang kalau boleh jujur, dari menulis itu yang lantas dapat memperkaya kita untuk terus melakukan sesuatu dalam banyak hal.

Lalu, kenapa tiba-tiba beralih menjadi pegawai negeri sipil (PNS)?

Ketika itu sudah mulai transisi situasi politik masa itu, sekitar tahun 1998. Awalnya memang saya tidak kepingin menjadi pegawai negeri, tapi karena waktu itu era transisi politik dari Orde Baru ke Reformasi, maka saya ingin menjadi pegawai negeri. Masuklah saya terdaftar di Departemen Penerangan Bagian Pelayanan Penerbitan SIUP (Surat Izin Usaha Perdagangan).

Saat itu di bawah Menteri Penerangan Yunus Lutfia melakukan kebijakan deregulasi bidang pers. Artinya tidak lagi dibatasi pers. Dan di Jatim tahun itu, dengan dikeluarkannya kebijakan tersebut, banyak SIUP baru yang masuk. Hampir ada sekitar 134 SIUP baru diterbitkan. Padahal sebelum Reformasi, penerbitan SIUP hanya sekitar 20-an saja.

Saya ikut membidangi itu. Ikut menjadi salah satu pendorong di pemerintah pusat untuk mengeluarkan SIUP.

Apa spirit Bapak waktu itu, sehingga memilih menjadi pegawai negeri?

Karena eranya Reformasi. Spiritnya ikut melakukan perubahan hingga ke dalam. Waktu itu tidak bisa kita hanya menonton atau bergerak dari luar saja. Harus turut serta ambil bagian, akhirnya salah satu jalan adalah kita masuk di dalam sistem.  Itulah mengapa saya masuk di dalam Departemen Penerangan.

Tapi, sewaktu saya masuk menjadi pegawai negeri, sudah lepas teman GMNI untuk penugasan. Tapi karena kita sudah jadi wartawan, akhirnya turut ambil bagian dalam Reformasi dengan memanfaatkan deregulasi bidang pers.

Kemudian, seperti apa sampai bisa bergabung di Pemprov Jatim?

Dalam perjalanan, karena ada peraturan perundangan yang baru tidak ada lagi kantor wilayah, dDileburlah menjadi satu dengan pemerintah provinsi. Supaya tidak terjadi dualism, Departemen Penerangan pun berubah menjadi Dinas Infokom, sebelum terakhir berubah menjadi Dinas Kominfo.

Dari Dinas Kominfo kemudian saya ditarik ke humas Pemprov Jatim. Tidak ada perubahan yang berarti. Di kehumasan saya juga cocok. Sebab, banyak juga teman-teman di humas ketika saya masih menjadi wartawan yang kebetulan juga ditugaskan di Pemprov Jatim. Dan kerja di kehumasan juga membuat berita.

Memang pertama di humas menjadi kepala bagian, tantangannya adalah mengubah mindset teman-teman di humas. Dimana dahulu masih seperti pegawai, kalau misalkan acara sore baru dikerjakan besoknya. Sekarang kan kebutuhannya tidak bisa seperti itu. 2 jam selesai acara harus segera di-upload. Begitu juga dengan tulisan. Harus memakai standar wartawan. Tidak bisa lagi seperti membuat sambutan. Persaingannya sudah ketat. Kalau tulisannya terlalu panjang, orang enggak tertarik karena yang terpenting adalah data. Dan mengubah itu perlu waktu.

Kemudian kebiasaan saya membaca dan mengikuti perkembangan dengan baik, maka Pak Gubernur (Soekarwo) mempercayakan saya di Biro Administrasi Pemerintahan dan Otonomi Daerah. Sebetulnya itu bukan hal yang asing juga bagi saya. Latar belakang saya hukum, maka paham dengan peraturan perundangan.

Tantangannya memang berkembang nggak sama, tapi polanya hampir sama. Tinggal menambah bacaan dan mengulang yang dahulu. Lah kebiasaan membaca itu yang memperkaya saya untuk tahu semua.

Apa buku yang Bapak sukai?

Saya ada sesuatu yang aktual, langsung cari bukunya. Hari ini membicarakan tentang teroris, saya beli beberapa buku tentang terorisme. Kemarin ramai tentang korupsi, saya baca tentang undang-undang korupsi. Kemudian tentang reformasi birokrasi. Saya baca itu, makanya saya di pemerintahan masih paham juga.

Jadi, membaca menambah ilmu pengetahuan saya. Kemudian diaktualkan dengan tulisan. Itu memperkaya dan memperkuat.

Kalau buku yang saya sukai adalah ilmu tentang kebijakan publik. Karena itu yang langsung bersentuhan dengan masyarakat. Sebab, menurut saya, hal seperti itu harus dicermati sebagaimana memiliki daya guna. Merugikan atau tidak.

Ada pesan dari Bapak?

Semua orang bisa memanfaatkan peluang. Lalu, ketika meniti karir, dia harus punya ketekunan di bidang itu. Kalau dia mencoba bermain di yang lain, tidak bisa. Dengan ketekunan itu kepercayaan pun datang.

Semua jabatan kepercayaan yang diberikan pimpinan kepada kita, haruslah dijaga. Karena selalu dilihat dari sisi kemampuan, loyalitas dan integritas. Karena bagaimana pun kepercayaan harus dilaksanakan dengan baik dan amanah.

Loyalitas serta ditunjang kompetensi, pengalaman, wawasan dan jaringan pekerjaan. Orang tidak bisa bekerja hanya mengandalkan salah satu dari itu saja.  Misalkan, kompetensi harus dibarengi dengan jaringan dan wawasan luas. (*/opi)

(sb/bae/jek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia