Minggu, 19 Aug 2018
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Terapi Radiasi untuk Pengobatan Kanker

Kamis, 24 May 2018 13:58 | editor : Wijayanto

PENYINARAN: dr. Bambang Widjanarko (tengah) mendampingi tim medis saat mempersiapkan pasien sebelum menjalani radioterapi di Adi Husada Cancer Center (AHCC), Rabu (23/5).

PENYINARAN: dr. Bambang Widjanarko (tengah) mendampingi tim medis saat mempersiapkan pasien sebelum menjalani radioterapi di Adi Husada Cancer Center (AHCC), Rabu (23/5). (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

SURABAYA - Yang banyak diketahui masyarakat, terapi penyembuhan kanker hanyalahh dengan kemoterapi. Padahal ada juga terapi pengobatan kanker yang lain dengan terapi radiasi yang disebut dengan radioterapi.

“Radioterapi merupakan terapi penyembuhan kanker yang bersifat regional dan lokal dengan menyinari tubuh yang terkena kanker dengan ploton dan elektron yang menimbulkan reaksi ionisasi yang memecah sel kanker, ” ujar dokter spesialis radiologi Adi Husada Cancer Center Surabaya dr. Bambang Widjanarko, Sp. Rad(K)Onk.Rad, Rabu (23/5).

Berbeda dengan kemoterapi, jika kemoterapi sasarannya adalah general atau seluruh tubuh, terapi radiasi ini hanya diberikan pada bagian tubuh yang terpapar kanker dan salurannya. Misalnya yang terpapar kanker adalah kanker payudara, maka yang disinari adalah payudara hingga salurannya samping leher.

Interval untuk radioterapi pun juga berbeda pada setiap pasien. Untuk menentukan berapa kali pasien harus menjalani radioterapi, pertama, pasien harus melalui tes histopatologi. Dari sini sifat kanker digolongkan menjadi tiga, yaitu radiosensitive, responsive, dan resistant. Radiosensitive seperti kanker kulit, hanya memerlukan 20 kali terapi untuk sembuh. Kanker responsive seperti kanker serviks, nasofaring dengan radiasi sebanyak 30 hingga 35 kali. Dan resistant seperti kanker tulang sebanyak 35 sampai 40 kali.

“Histopatologi ini adalah hakim untuk menentukan peemberian radiasi, semakin resistant sifat kankernya, semakin banyak seseorang harus melakukan radiasi,” ujarnya.

Bambang menjelaskan, pengobatan melalui radioterapi ini tidak menimbulkan rasa sakit. Pasien akan dimasukkan dalam ruangan selama beberapa menit sesuai dengan sifat kankernya dan menjalani penyinaran. Efek samping hanya dirasakan seusai radioterapi, seperti rasa mual, meriang dan muntah. Sementara efek lain seperti rambut rontok tidak terjadi pada terapi ini.

“Jika yang disinar adalah usus, biasanya efeknya ya mual hingga muntah itu,” pungkasnya. (is/nur)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia