Jumat, 23 Aug 2019
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Terdampak Bom, Penjualan Mamin di Kafe dan Resto Merosot

18 Mei 2018, 16: 05: 18 WIB | editor : Wijayanto

DAMPAK BOM: Salah satu kafe di salah satu mal di Surabaya.

DAMPAK BOM: Salah satu kafe di salah satu mal di Surabaya. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

Surabaya - Sudah menjadi fenomena selama bulan Ramadan, masyarakat senantiasa menyerbu kafe, restoran, hingga para pedagang makanan-minuman (mamin) mulai setelah Ashar hingga menjelang adzan Maghrib tiba. Yang berarti Ramadan merupakan momen emas bagi pelaku usaha.

Namun, pasca kejadian teror bom yang menimpa Surabaya pada hari Minggu (13/5) dan Senin (14/5), Humas Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran Indonesia (Apkrindo) Jawa Timur, Arjono Kuntjoro menyebut dampaknya sangat signifikan terhadap bisnis kuliner Surabaya.

“Isu-isu tentang keamanan dan kondisi Surabaya yang belum kondusif menjadi kendala tersendiri bagi para pelaku bisnis di Surabaya,” terangnya di Surabaya, Kamis (17/5).

Padahal, menjelang awal Ramadan, banyak pelaku usaha khususnya yang bergerak di bidang kuliner optimis akan menggenjot penjualan bisnis mereka. Arjono menyebut, tren bisnis food and beverage (F&B) kemungkinan jalannya masih akan stagnan sama seperti tahun lalu.

Namun di sisi lain, Arjono mengaku permintaan untuk buka puasa bersama masih akan banyak permintaan. Sehinga, pertumbuhan bisnis F&B selama bulan Ramadan masih belum bisa dipastikan terkait situasi saat ini yang masih belum menentu.

“Saat ini tumbuh kembang kafe dan restoran hanya tumbu sesuai dengan tren saat ini,” jelasnya.

Hal yang sama juga disampaikan oleh President Director Chicking Indonesia Hengki Setiawan. Awalnya saat menjelang bulan Ramadan, pihaknya optimis dapat menggenjot penjualan sampai 100 persen peningkatannya. Namun pasca kejadian tersebut, dampaknya sangat dirasakan oleh bisnisnya, apalagi oleh pengusaha kuliner yang outletnya berintegrasi dengan mall.

“Mall sepi. Semoga keadaan segera membaik. Kami berharap di minggu kedua puasa dan seterusnya bisa genjot penjualan kembali,” tuturnya.

Arjono juga menyampaikan, biasanya akan terjadi peningkatan di pertengahan bulan puasa hingga Lebaran nanti. Oleh karena itu, para pelaku bisnis kuliner telah menyiapkan strategi dan antisipasi khusus untuk hal tersebut.

Arjono mengaku, pihaknya dipastikan akan mengeluarkan paket-paket makanan dengan harga khusus dan terjangkau. Hal ini dikarenakan pertumbuhan hotel yang begitu banyak.

“Dimana mereka pasti akan ikut berlomba dalam persaingan businese resto yang juga mulai banyak pertumbuhannya,” pungkasnya. (cin/rud)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia