Sabtu, 25 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Gresik

REI Optimis Penuhi Target 25 Ribu Rumah

18 Mei 2018, 11: 55: 31 WIB | editor : Aries Wahyudianto

REI Jawa Timur optimis tahun ini bisa memenuhi target pembangunan 25 ribu rumah rakyat.

REI Jawa Timur optimis tahun ini bisa memenuhi target pembangunan 25 ribu rumah rakyat. (Yudhi/Radar Gresik)

Share this      

Kalangan pengembang Real Estate Indonesia (REI) Jawa Timur optimistis merealisasikan target pembangunan 25 ribu unit rumah rakyat, hingga akhir tahun ini. Bahkan, menurut dia, bukan tak mungkin REI bisa melampaui target tersebut.

Ketua DPP REI Jatim, Danny Wahid mengatakan, sejumlah strategi terus dilakukan oleh pengembang untuk mengejar target pembangunan 25 ribu rumah rakyat. Salah satunya adalah dengan menjajaki kerjasama dengan kontraktor dari luar negeri.

“Kerjasama yang dilakukan salah satunya bisa dari pendanaan. Mereka punya uang, kami yang bangunkan,” ujarnya.

Dikatakan, masalah perijinan masih menjadi faktor utama investor asing menanamkan modalnya untuk perumahan. Selain terkenal rumit, perizinan perumahan di Indonesia juga memakan waktu yang lama.

“Meski pemerintah pusat sudah menerbitkan sejumlah regulasi untuk penyederhanaan perizinan, namun kondisi di mayoritas daerah belum banyak berubah khususnya untuk perizinan rumah rakyat,” terangnya.

Ditempat terpisah, Ketua DPD Apersi Gresik, Koko Wijayanto menambahkan, selain perizinan juga harga tanah dari tahun ke tahun terus meningkat. Terlebih, di pusat kota yang kenaikkannya cukup tinggi. Kenaikan tersebut dirasakan para pengembang yang bergerak di sektor hunian murah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

“Beberapa investor asing yang pernah menjalin kerjasama dengan kami rata-rata ingin membangun rumah low cost. Padahal harga tanah sudah mahal. Ini yang kadang menjadi hambatan,” imbuh Koko.

Dikatakan, Untuk mengatasi persoalan tersebut, Apersi telah memberi usulan kepada pemerintah Gresik membuat aturan zonasi khusus bagi rumah murah yang diatur di dalam Rencana Detail Tata Ruang (RDTR). Dengan zonasi khusus itu pengembang besar yang semula berencana membangun kawasan hunian komersial, tidak dapat semena-mena merealisasikannya.

"Sehingga kalau itu bisa ada zonasi khusus, tidak bisa lagi di sana diperuntukkan rumah murah lalu dibangun rumah komersial," pungkasnya. (fir/ris)

(sb/fir/ris/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia