Rabu, 19 Sep 2018
radarsurabaya
icon featured
Features Surabaya

Siti, Pedagang Takjil Bingung Diserbu Pembeli

Kamis, 17 May 2018 20:33 | editor : Abdul Rozack

LARIS MANIS: Warga antre membeli makanan untuk berbuka puasa di kawasan wisata religi Sunan Ampel, Jalan Nyamplungan, Surabaya, Kamis (17/5).

LARIS MANIS: Warga antre membeli makanan untuk berbuka puasa di kawasan wisata religi Sunan Ampel, Jalan Nyamplungan, Surabaya, Kamis (17/5). (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Peluang usaha berjualan makanan-minuman (mamin) di bulan Ramadan sangat menjanjikan. Meski banyak pelaku usaha yang sama-sama berjualan, mamin untuk takjil tetap laris manis diserbu para pembeli di hari pertama puasa, Kamis (17/5).

Herninda Cintia Kemala Sari /Radar Surabaya

Tidak hanya pedagang yang mendapatkan untung, konsumen juga mendapat banyaknya pilihan mamin yang akan dibeli. Saat Ramadan, pedagang takjil berjualan dengan berkelompok dan mandiri.  

Mereka mulai menggelar dagangannya sejak Duhur  dan selesai jelang adzan berkumandang. Ramainya transaksi jual-beli mamin takjil itu terlihat dibeberapa titik, seperti dekat Jalan Nyamplungan, Jalan Jalan Karang Menjangan, Surabaya, sekitaran Masjid Agung Surabaya dll. 

Munasah, salah seorang pedagang musiman mamin Ramadan mengaku mulai mempersiapkan dagangannya sejak pukul 14.00 WIB. Ibu paruh baya itu menjual aneka sayur mayur beserta lauk pauknya. Menurutnya, saat bulan puasa, dagangannya lebih cepat laku karena diburu para mahasiswa dan orang kantoran yang melewati jalanan itu.

"Karena lokasinya dekat kampus, banyak mahasiswa yang beli jadi jam 18.00 WIB dagangan sudah habis," tuturnya.

Selain Munasah, ada Amir yang berjualan beraneka macam es. Mulai dari es kopyor, es campur, es buah, es manado, dan menu wajib saat bulan puasa yaitu kolak. Amir mengaku, sehari-hari ia berjualan rujak cingur dan gado-gado di teras rumahnya. 

Tetapi saat bulan puasa ia memilih banting setir untuk berjualan aneka minuman saja. Menurutnya, saat bulan puasa orang-orang lebih merasa haus daripada lapar."Kalau jualan es kan pilihannya banyak dan cepat habis," terangnya.

Membludaknya pembeli juga membuat para pedagang bingung melayani. Terlebih saat menjelang berbuka, rata-rata pembeli ingin segera dilayani. “Sampai bingung mas melayani yang mana dulu,” ujar Siti, salah satu pedagang takjil lainnya.  

Pemandangan di bagian timur rumah sakit Dr. Soetomo kembali ramai dengan pedagang takjil seperti tahun sebelumnya. Puluhan pedagang takjil terlihat menggelar dagangannya. Mulai dari yang memakai sepeda motor hingga mobil. 

(sb/cin/jek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia