Rabu, 19 Sep 2018
radarsurabaya
icon featured
Surabaya
Dua Korban Bom Gereja Meninggal

Martha Baru Sehari Langsungkan Pertungan

Selasa, 15 May 2018 15:20 | editor : Wijayanto

DUKA: Teman Sri Puji Astutik salah satu korban serangan bom gereja Santa Maria Tak Bercela memberikan penghormatan terakhir di rumah duka Adi Jasa, Jalan Demak, Surabaya, Senin (14/5). Insert: Korban Martha Jumani yang akhirnya meninggal, kemarin.

DUKA: Teman Sri Puji Astutik salah satu korban serangan bom gereja Santa Maria Tak Bercela memberikan penghormatan terakhir di rumah duka Adi Jasa, Jalan Demak, Surabaya, Senin (14/5). Insert: Korban Martha Jumani yang akhirnya meninggal, kemarin. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

SURABAYA – Duka kembali menyelimuti kerabat dan keluarga korban teror Bom Gereja Surabaya. Orang-orang yang dikenang baik oleh kerabat hingga yang sehari usai tunangan pun tak luput jadi korban.

Martha Djumani, 54, warga Jalan Kepatian V No.7B, Bubutan, Surabaya ini dikabarkan meninggal dunia pukul 01.10, Senin (14/5) setelah sempat mendapatkan perawatan di RSUD Dr.Soetomo. Malangnya, perempuan yang akrab dipanggil Bing-Bing ini baru saja melangsungkan tunangan sehari sebelum kejadian ledakan. ”Mau bagaimana lagi, ini yang sudah terjadi kepada Bing-Bing,” ucap Stevanus Masae, calon suami Bing-Bing di Rumah Duka Adi Jasa Jalan Demak, Surabaya, Senin (14/5).

Bing-Bing memang sudah sejak SMA mengabdikan dirinya sebagai Pelayan di Gerjea Pantekosta Jalan Arjuna, Surabaya. Sekali seminggu ia menyempatkan diri pulang kerumah sederhananya di Jalan Kepatihan tersebut. Setiap hari rabu ia mengajak anak-anak setempat untuk kegiatan pelayanan mingguan di Gereja.  ”Kalau pulang dari gereja, Bing-Bing suka bagi – bagi jajan kepada anak kecil di gang ini,” ujar Rukmaji RT setempat.

Selain itu, Puji Astuti, 60, yang juga korban meninggal dunia akibat bom di Gereja Pantekosta Jalan Arjuna, Surabaya, juga dikenal baik oleh kerabatnya. ”Baik, orangnya suka bergaul, sehingga banyak temanya,” beber Kian Wa dan Lili secara kompak, saat ditemui di Rumah Duka Adi Jasa, Senin, (14/5)

Kerabat dekat Puji Astuti melanjutkan, Puji sendiri keseharianya adalah penjual sari kedelai di gereja tersebut. Ia tak menyangka jika kerabat dekatnya itu juga menjadi korban ledakan bom.

Selain Martha Jumani yang meninggal karena mengalamu luka bakar 80 persen, korban meninggal lainnya adalah Mayawati,82 tahun. Korban ledakan dari Gereja  Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel Madya ini sehari sebelumnya belum diidentifikasi.

Data diri korban diketahui mengalami luka bakar 90 persen dan trauma multiple yakni patah tulang iga kanan dan kiri, patah tulang paha kanan dan patah tulang tungkai bawah kanan dan kiri. Korban diketahui meninggal dunia pada pukul 19.00 Wib, Minggu(13/5). 

"Pasien ini mengalami pendarahan hebat terutama pada pinggang dan paru kiri dan kanan. Sudah kami lakukan operasi dan tranfusi, namun karena trauma yang besar, pasien 82 tahun itu meninggal jam 7 malam kemarin. Pas waktu ibu Menkes datang kesini," ujar Kepala Instalasi Gawat Darurat RSUD Dr. Soetomo Surabaya, IGB Adria H, Senin(14/5). 

Hingga Senin siang, jenazah Mayawati dan Martha Jumani telah dikembalikan pada keluarga masing-masing. Sementara dua korban lainnya yakni Aiptu Ahmad Nurhadi, 44 dan Giri, 48 masih dirawat secara intensif di Ruang Operasi Intensif (ROI) 1 IGD RSUD Dr. Soetomo Surabaya.

"Kondisinya masing-masing kritis.  Pasien atas nama Giri luka bakar serius sementara Ahmad Nurhadi dengan luka blast (ledakan,Red) yang serius," Diketahui, Ahmad Nurhadi, 44,adalah anggota polsek Gubeng yang bertugas di Gereja SMTB Ngagel saat terjadi bom bunuh diri. Ia mengalami patah tulang kaki, trauma telinga dan kedua matanya. "Sudah dalam stabilisasi, namun bicara belum bagus. Masih dalam tahap observasi," imbuhnya.

Sedangkan Giri, 48, mengalami luka bakar sangat berat hampir 80 persen luas tubuhnya. Operasi telah dilakukan untuk membebaskan aliran darah ke tungkai. Saat ini pasien masih menggunakan alat bantu pernafasan.

Adria menjelaskan, seluruh biaya perawatan pasien di RSUD Dr. Soetomo ditanggung seluruhnya oleh Gubernur Jawa Timur, Soekarwo. (son/is/rud)

(sb/son/is/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia