Jumat, 24 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Events Surabaya
Indonesia Marketeers Festival (IMF) 2018

Persiapkan Diri di Era VUCA

24 April 2018, 12: 49: 23 WIB | editor : Wijayanto

Persiapkan Diri di Era VUCA

Tahun 2018 dipenuhi dengan isu disrupsi, hingga gonjang-ganjing pilkada serentak. Termasuk pemilihan presiden, meski digelar di 2019 tapi sudah mulai terasa dampaknya di tahun ini. Lalu apa yang harus dipersiapkan oleh para marketeers di tahun yang menantang ini?

Herninda Cintia Kemala Sari/Radar Surabaya

Untuk menjawab semua pertanyaan itu, Indonesia Marketeers Festival (IMF) 2018 jawabannya. IMF 2018, kembali diselenggarakan yang keenam kalinya di kota Surabaya. IMF kali ini hadir dengan tema Marketing Jaman Now yang akan membahas tentang Strategi Marketing Jaman Now.
IMF 2018 menghadirkan para pakar marketing yang akan memberikan strategi dan berbagi pengalaman bagaimana perusahaan international, nasional, dan lokal dalam menghadapi peralihan kondisi isu ekonomi saat ini. Diantaranya Hermawan Kartajaya, selaku Founder dan Chairman MarkPlus Inc dan Setyo Riyanto, selaku Associate Industry Head Government and Public Service MarkPlus Inc.
Pagelaran festival marketing akbar kali ini ingin mengajak para pelaku dan local champion untuk dapat mempersiapkan diri menghadapi era atau jaman yang disebut era Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity (VUCA). Istilah-istilah tersebut yang menggambarkan kondisi dunia saat ini yang sulit diterka, dan mudah berubah.
Sehingga perusahaan-perusahaan tidak dapat menggunakan cara lama lagi dalam menjalankan bisnisnya saat ini. Hermawan menyebutkan istilah VUCA, merupakan akronim dari Volatility in change, Uncertainty in Competitor, Complexity in customer, dan Ambiguity in company.
Menurutnya, untuk menghadapi era VUCA ini, orang-orang tidak dapat sekedar berbicara tentang VUCA dan ketakutan-ketakutan yang menyertainya, yakni distruption.
“Orang-orang hanya berbicara tentang ketakutan-ketakutan itu, tetapi tidak ada yang membangun solusi. Oleh karena itu, saya menawarkan kata kunci untuk memasuki era tersebut,” ujar Hermawan Kartaja kepada Radar Surabaya Senin, (23/4).
Sebagai solusi, Hermawan mengemukakan terminologi DAMO, yakni Discover, New Opportunity, New Experience, dan Adventure. “Saat ini banyak orang mbela-mbelain beli pengalaman daripada beli produk karena tergiur online experience,” terangnya.
Hermawan mengibaratkan, seorang entrepreneur yang memulai sebuah small business tanpa marketing bagaikan sebuah seseorang pemilik mobil yang tidak memiliki SIM. Sebaliknya, seorang marketeer tanpa entrepreneurship sama dengan seorang pengemudi yang memiliki SIM tapi tidak punya keberanian mengendarai mobilnya di jalan yang semrawut.
Pada kenyataannya, bisnis selalu dinamis menyerupai jalan yang semrawut itu. Bukan seperti jalan tol yang semuanya sudah rapi.  “Apalagi dengan situasi perubahan yang penuh kejutan dan sekarang disebut disrupted, maka jalan yang dilalui mobil itu bisa saja tiba-tiba kolaps karena sesuatu yang tak terduga sebelumnya. Karena itulah, seorang marketeer memerlukan entrepreneurship,” imbuhnya.
Dalam acara yang akan digelar di Shari-La Hotel Surabaya itu juga akan ada seminar mengenai buku Hermawan yang berjudul Entreprenerial Marketing dan Citizen 4.0. Dimana di dalamnya memberikan gambaran dari medan perang alias pertarungan di dunia digital saat ini.
Istilah kerennya, Entrepreneurial Marketing Compass and Canvas. Hermawan memperkenalkan model canvas yang terinspirasi dari Business Model Generator (BMG) yang dipopulerkan oleh Alexander Osterwalder and Yves Pigneur. Model ini dinamakan Entrepreneurial Marketing Canvas.
Pria berusia 70 tahun itu juga mengungkapkan kalau kandidat sebaiknya jangan sampai dimusuhi oleh netizen. Netizen adalah sebutan untuk warga internet. “Habis kalau sampai dimusuhi netizen,” tambahnya.
Sebenarnya hal ini sudah diramalkan, dimana Bumi akan semakin Venus. Menurut Hermawan, maksudnya adlaah emosional akan lebih mendominasi dibandingkan dengan rasional.
“Lebih jelasnya, orang itu cenderung lebih menyukai bad news dari pada good news. Nah, dalam marketing hal itu terlarang. Marketing itu mengutamakan kejujuran. Inilah yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad,” jelasnya.
Founder sekaligus Chairman Markplus, Inc. itu mengungkapkan pula perjalanan Marketing 1.0 hingga 4.0. Marketing 1.0 berfokus kepada produk unggulan dan terbaik serta enjoyment, sehingga outputnya hanya OK. Marketing 2.0 berfokus kepada pelanggan dan mengutamakan experience, sehingga konsumen puas serta menghasilkan efek AHA.
Marketing 3.0 berfokus kepada human spirit centric, mengutamakan engagement, sehingga konsumen merasakan sensasi Wow. Marketing 4.0 berfokus kepada omni-way yang mensinergiskan tradisional dan digital, mengutamakan empowerment, namun perlu ditindaklanjuti dengan tindakan Now alias secepat mungkin dieksekusi.
“Oleh karena itu, jika masalah-masalah yang ada saat ini hanya dianggap sebagai masalah tanpa solusi ya nggak akan lama perusahaan-perusahaan bisa bertahan. Untuk setiap masalah seperti Volatility in change saya menawarkan kata kunci berupa Discover, Uncertainty in Competitor dengan New Opportunity, Complexity in customer dengan New Experience, dan Ambiguity in company dengan Adventure yang semuanya akan saya jelaskan korelasinya di seminar,” pungkasnya. (*/rud)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia