Sabtu, 15 Dec 2018
radarsurabaya
icon featured
Persona Surabaya
Etty Ariaty Soraya

Agresif Kembangkan Produk Lokal di Industri Kreatif

21 April 2018, 13: 24: 50 WIB | editor : Wijayanto

Etty Ariaty Soraya

Etty Ariaty Soraya (ABDULLAH MUNIR/RADAR SURABAYA)

AWALNYA, dengan background S1 Ilmu Komunikasi di Universitas Airlangga Surabaya, Etty Ariaty Soraya mendapat banyak pelajaran dan pengalaman menjadi public relation di Hotel Sheraton Surabaya selama enam tahun. Setelah mengantongi ijazah S2 di Queensland University of Technology, Brisbane, Australia jurusan Creative Industries, Etty pulang ke Indonesia dan berusaha mengaplikasikan ke dalam kegiatan-kegiatan yang linier dengan ilmu yang didapatkannya.
“Akhirnya pulang ke Surabaya, dulu awalnya belum ada kegiatan yang cinta Indonesia atau konten-konten lokal gitu, pas saya di Sheraton itu saya belajar banyak,” akunya.
Etty menceritakan, sudah sejak lama dirinya menyukai konten-konten lokal, namun belum ada pikiran untuk membuat sesuatu dengan konten lokal. Selain itu, wanita kelahiran 30 Agustus 1981 ini mengaku terbiasa dengan konten lokal, karena rasa nasionalisme tersebut telah dipupuk dari kecil oleh sang ayah yang memiliki background seorang tentara. Akhirnya pada awal tahun 2016 menjadi titik awal semua pencapaian yang diraihnya sampai saat ini.
“Mulai 2016 itu awalnya bingung mau mulai darimana. Saya suka konten lokal jadi saya maunya konten lokal tapi nggak tahu apa. Sampai akhirnya bulan Oktober ditetapkan sebagai hari batik nasional. Jadi pas kebetulan banget saya bikin acara di hotel tentang konten-konten lokal, seperti tas dan aksesories,” jelasnya.
Banyak sekali ilmu-ilmu yang didapatkannya selama menyelenggarakan acara-arara untuk hotel tempatnya bekerja tersebut. Setelah menjalani masa pendekatan dengan industri kreatif, di tahun 2016 Etty memulai menekuni dunia bisnis dengan menjadi owner SLVR Silver International Clinic Surabaya. Sedangkan sebagai pelaku usaha industri kreatif, Etty menjadi salah satu pemilik tas kulit dengan brand Kalyana Indonesia.
Masih di tahun yang sama, Etty mengaku, berkat doa almarhum ibunya yang seorang guru akhirnya pada tahun 2016, Etty ditetapkan sebagai dosen tetap Fakultas Ilmu Komunikasi di Universitas Katolik Widia Mandala Surabaya. Etty mengaku, tidak pernah bisa galak kepada mahasiswanya. Justru ia menginginkan dapat bertukar ide dan pikiran, khususnya inovasi-inovasi baru bersama mahasiswanya.
“Sebenernya mulai mengajar menjadi dosen luar biasa sejak 2011, ngajarnya setiap hari Sabtu,” terangnya.
Putri sulung dari Bupati Probolinggo tahun 1998-2003 ini berharap, kedepannya diirinya dapat secara konsisten mengembangkan industri kreatif. Sampai saat ini, perempuan kelahiran Palembang tersebut masih aktif menjadi anggota Rotary Club dan HIPMI Sidoarjo. Selain itu, Etty berharap dirinya dapat bermanfaat untuk banyak orang, dan dapat menjadi inspirasi, khususnya untuk anak muda. “Saya berharap industri Jawa Timur menjadi lebih modern agar dapat diterima diluar,” terangnya. (cin/nur)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia