Senin, 20 Aug 2018
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Digempur Digitalisasi, Ternyata Bisnis Pencitraan Foto Masih Hidup

Sabtu, 14 Apr 2018 20:13 | editor : Abdul Rozack

INOVASI: Sejumlah pengunjung melihat mesin printer foto seri terbaru disela-sela Fujifilm Fair 2018 di Hotel Shangri-La Surabaya, Jumat (13/4).

INOVASI: Sejumlah pengunjung melihat mesin printer foto seri terbaru disela-sela Fujifilm Fair 2018 di Hotel Shangri-La Surabaya, Jumat (13/4). (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

SURABAYA – Bisnis photo imaging (pencitraan foto) sempat diprediksi tak akan membaik akibat tren digitalisasi yang terus meningkat. Meski demikian, PT Fujifilm Indonesia tetap menargetkan pertumbuhan penjualan hingga 50 persen dalam 3 tahun ke depan melalui lini pencitraan digital (digital imaging). Lini tersebut mencakup mesin pencetak foto, kertas foto, dan kamera Instax. 

Presiden Direktur PT Fujifilm Indonesa, Noriyuki Kawakubo menyatakan, bisnis pencitraan foto masih punya peluang yang besar meskipun tren digital terus naik. Realitas ini merupakan target jangka menengah Fuji di Indonesia sejak 2016 dan diharapkan tercapai pada tahun depan.

 “Sampai saat ini, photo imaging masih merupakan salah satu lini bisnis yang memegang peranan penting di Fujifilm. Kami senantiasa melakukan riset dan pengembangan terhadap produk kami serta selalu beradaptasi dengan tren perkembangan teknologi yang ada,” ujar Kawakubo saat presentasi dalam acara Fujifilm Fair 2018 di Hotel Shangri-La Surabaya, Jumat (13/4).

Adapun, salah satu strategi Fujifilm untuk mencapai target pertumbuhannya, menurut Kawakubo ialah dengan menggenjot penjualan kamera instan hybrid yakni seri Instax Square. Kamera ini dapat menghasilkan gambar digital sekaligus gambar cetak instan. Lebih lanjut Kawakubo menyebut untuk kamera Instax, Fujifilm masih satu-satunya pemain yang ada di pasar domestik. Adanya peningkatan penggunaan Instax juga berimbas pada kenaikan permintaan kertas foto yang signifikan. Dia mengklaim saat ini Fuji menguasai hingga 80 persen dari pasar cetak foto termasuk mesin cetak dan kertas foto.

“Fujifilm menguatkan dominasinya dengan meluncurkan mesin cetak foto instan mini dari seri Instax,” lanjutnya.

Di tempat yang sama, Josef Tjahjo Kuntjoro, General Manager for Photo Imaging Division PT Fujifilm Indonesia, mengatakan untuk sektor cetakan sendiri saat ini sudah reborn. Cetakan sempat mencapai titik terendahnya dan saat ini cetakan sudah mulai naik kembali. 

Josef menambahkan, dilihat dari penjualan paper dari tahun ke tahun yang naik, kenaikan yang signifikan mencapai dua digit. Sehingga pihaknya mempunyai target mencapai puluhan juta. “Kenaikan tersebut merupakan refleksi dari keadaan pasar.  Kami konsen memancing remaja dan masyarakat untuk mengeluarkan gambarnya,” imbuhnya.

Selain itu, Josef mengatakan, Fujifilm Fair 2018 bertujuan untuk mengedukasi audiens mengenai hasil observasi Fujifilm bahwa animo bisnis cetak foto yang sampai kini masih dilirik oleh banyak kalangan, memberikan insight mengenai strategi bisnis toko foto. Fujifilm akan menggalakkan bisnis cetak foto lainnya lewat Wonder Photo Shop (WPS). Anak perusahaan Fujifilm Holdings ini bekerja sama dengan mall untuk membuat gerai cetak foto digital tersebut.

 “Tahun ini kita akan buka gerai kedua di Central Park, sebelumnya sudah ada di Mall Kota Kasablanka,” pungkasnya. (cin/hen)

(sb/cin/jek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia