Jumat, 24 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Bawang dan Bensin Dorong Inflasi Jatim, Maret 2018

03 April 2018, 13: 14: 44 WIB | editor : Wijayanto

PASOKAN TAK SEIMBANG: Bawang putih menjadi salah satu pendorong utama inflasi Jatim pada bulan Maret 2018. Pasokan komoditi ini di pasaran belum mampu mengimbangi tingginya permintaan sehingga membuat harganya mengalami kenaikan.

PASOKAN TAK SEIMBANG: Bawang putih menjadi salah satu pendorong utama inflasi Jatim pada bulan Maret 2018. Pasokan komoditi ini di pasaran belum mampu mengimbangi tingginya permintaan sehingga membuat harganya mengalami kenaikan. (DOK)

Share this      

SURABAYA – Inflasi Jawa Timur di bulan Maret 2018 sebesar 0,06 persen, lebih rendah dibanding dengan inflasi di bulan Februari 2018 sebesar 0,16 persen. Sedangkan tingkat Inflasi tahun kalender (Januari - Maret) 2018 di Jawa Timur mencapai 0,82 persen, sedangkan tingkat inflasi tahun ke tahun (Maret 2018 terhadap Maret 2017) mencapai 3,16 persen.
Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur, Teguh Pramono menyampaikan, komoditas utama yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi Jawa Timur bulan Maret 2018 ialah bawang merah, bawang putih, dan bensin.
“Pasokan bawang putih yang masih belum dapat mengimbangi banyaknya permintaan di pasaran membuat harga bawang putih mengalami kenaikan,” kata Teguh saat memberikan keterangan pers di kantornya, Surabaya, Senin (2/4).
Selain itu, menurutnya, minimnya realisasi impor bawang putih yang dilakukan pemerintah juga belum mampu menekan harga di pasar. Sedangkan komoditas lain yang juga turut menyumbang inflasi adalah kenaikan harga komoditas kelompok bensin, yang terdiri dari Premium, Pertalite, Pertamax, dan Pertamax Turbo. Mulai tanggal 24 Maret 2018 pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak non subsidi jenis Pertalite sebesar Rp 200 per liter. Teguh menambahkan, selain bawang putih, bawang merah juga mengalami kenaikan harga akibat cuaca buruk yang mengakibatkan terjadinya gagal panen di beberapa daerah sentra bawang merah.
“Selain tiga komoditas utama pendorong inflasi di atas, komoditas lain yang juga mendorong terjadinya inflasi bulan Maret ialah cabai rawit, cabai merah, tongkol pindang, emas perhiasan, nangka muda, kontrak rumah, dan pepaya,” lanjutnya.
Teguh menjelaskan, pemantauan terhadap perubahan harga selama bulan Maret 2018 di 8 kota IHK Jawa Timur menunjukkan adanya kenaikan harga di sebagian besar komoditas yang dipantau. Oleh karena itu, menurutnya, hal ini mendorong terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 0,06 persen yaitu dari131,09 persen pada bulan Februari 2017 menjadi 131,16 persen pada bulan Maret 2018.
Teguh menyampaikan, dari hasil pemantauan inflasi terhadap 8 kota IHK di Jawa Timur selama Maret 2018 menunjukkan enam kota mengalami inflasi, dan dua kota mengalami deflasi.
“Inflasi tertinggi terjadi di Malang dan Banyuwangi yang mencapai 0,12 persen, diikuti Kediri 0,10 persen, Surabaya 0,06 persen, Madiun 0,02 persen, dan Sumenep 0,01 persen,” jelasnya.
Teguh menambahkan, semua kelompok pengeluaran pada bulan Maret mengalami inflasi, kecuali kelompok bahan makanan yang mengalami deflasi sebesar 0,24 persen. Kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi tertinggi adalah kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan yaitu sebesar 0,33 persen. Dan diikuti kelompok sandang sebesar 0,27 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,14 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,08 persen.
“Kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,05 persen, dan kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 0,02. Sedangkan kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi adalah kelompok Bahan Makanan sebesar 0,24 persen,” imbuhnya.
Sementara itu, kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi terutama untuk jenis Pertalite diyakini masih akan berdampak pada inflasi April 2018. (cin/hen)

(sb/jpg/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia