Rabu, 21 Aug 2019
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Permintaan CCTV di RT/RW Ditolak karena Mahal

28 Maret 2018, 16: 31: 04 WIB | editor : Wijayanto

BEKERJA: Petugas perawatan dan pembenahan kamera CCTV di traffic light frontage road Siwalankerto.

BEKERJA: Petugas perawatan dan pembenahan kamera CCTV di traffic light frontage road Siwalankerto. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA – Permintaan sejumlah RT/RW di Surabaya yang menginginkan pengadaan Closed Circuit Television (CCTV) belum dikabulkan oleh Pemkot Surabaya. Anggaran pengadaan yang besar terkait alat elektronik pengawasan jarak jauh itu menjadi alasan belum dikabulkannya permintaan tersebut.    
Belum disetujui pengadaan CCTV di RT/RW tersebut terungkap dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tahun 2018 dalam rangka Penyusunan rencana kerja Pemerintah Daerah tahun anggaran 2019.
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini yang memimpin kegiatan tersebut menginginkan peran komunikasi RT/RW untuk peningkatan pengawasan. “Pengadaan CCTV RT/RW masih belum bisa kita anggarkan,” ujar wali kota yang akrab disapa Risma ini.
Dengan merujuk data jumlah RT/RW di Surabaya hingga tahun 2013 jumlah RT mencapai 9.271 sedangkan RW berjumlah 1.405. Diperkirakan dengan jumlah RT/RW tersebut maka anggaran yang dibutuhkan mencapai puluhan miliar.
Risma menegaskan, pengadaan CCTV di kampung masih belum dapat dipenuhi. Alasannya, biayanya yang dibutuhkan cukup besar. Untuk itu, agar kondisi kampung tetap terjaga dari segala macam tindak kejahatan, wali kota meminta dukungan kepada RT/RW untuk menjalin komunikasi antar warga masyarakat dan peduli terhadap keselamatan anak-anak.
“Sesama tetangga harus kenal biar terjalin komunikasi yang baik,” katanya.
Wali kota dua periode ini menambahkan, dengan tidak adanya CCTV tidak akan menurunkan tingkat keamanan di masing-masing wilayah. Karena itu kerukunan antar warga harus terjalin terutama pengawasan terhadap anak yang menajdi konsentrasi Pemkot Surabaya saat ini. 
“Perlindungan anak menjadi perhatian kita agar tidak terjadi tindak kejahatan yang menimbulkan keresahan,” tegasnya.
Terkait masalah keselamatan anak, lanjut Risma, Pemkot Surabaya akan mengumpulkan psikolog untuk mensosialisasikan perlindungan anak di seluruh RT/RW. Dengan adanya sosialisasi tersebut, peran utama yang jadi vital akan mengerti tentang keselamatan anak-anak.
Menurutnya, tidak adanya CCTV malah harus membuat orang tua dan semua warga bisa lebih waspada. Penculikan hingga perlikau kejahatan terhadap anak harus dicegah degan sejumlah aspek. “Jangan jadi alasan tidak ada CCTV. Anggarannya masih dipakai untuk infrastruktur lain,” pungkasnya. (vga/rud)

(sb/vga/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia