Senin, 19 Nov 2018
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Pembebasan Lahan JLLT Gandeng Pengembang

Jumat, 23 Mar 2018 14:48 | editor : Wijayanto

MASIH SEPI: Warga melintas di jalan yang masuk dalam proyek JLLT di kawasan Gunung Anyar Tambak. Keberadaan JLLT diharapkan mampu menjadi stimulus bagi para investor di bidang properti untuk mengembangkan bisnis di kawasan sekitar jalan yang nantinya meng

MASIH SEPI: Warga melintas di jalan yang masuk dalam proyek JLLT di kawasan Gunung Anyar Tambak. Keberadaan JLLT diharapkan mampu menjadi stimulus bagi para investor di bidang properti untuk mengembangkan bisnis di kawasan sekitar jalan yang nantinya meng (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

SURABAYA – Pembangunan infrastruktur di Surabaya menjadi salah satu solusi sejumlah kemacetan di Kota Pahlawan. Dari total kekuatan APBD Surabaya senilai Rp 9,11 triliun di tahun 2018, sebanyak 22,86 persen atau senilai 2,083 triliun  diperuntukkan bagi infrastruktur. Di antaranya untuk pembangunan Jalan Lingkar Luar Timur (JLLT) dan Jalan Lingkar Luar Barat (JLLB)
Dari kedua jalan pemecah kemacetan tersebut JLLT, lebih dominan progresnya dibandingkan JLLB. Proses pembebasan lahan dengan menggandeng pengembang akan dioptimalkan untuk penyelesaian JLLT sepanjang 16 kilometer tersebut.
Dari 16 kilometer panjang JLLT sebanyak 8,4 kilometer lahan milik pengembang, 1,1 kometer tanah aset milik pemkot dan 6,8 kilometer milik warga perorangan.
Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman, Cipta Karya dan Tata Ruang Ery Cahyadi mengatakan, saat ini koordinasi penuntasan JLLT memang sedang dilakukan. Di antaranya, penyelesaian pembebasan lahan menjadi target utama. “Sejumlah persil untuk pembebasan jadi target kami,” kata Ery kepada Radar Surabaya, Kamis (22/3).
Pejabat murah senyum ini mengungkapkan, pada 2018 sebanyal 16 pengembang telah diajak komunikasi untuk ikut proses pembebasan lahan. Dikarenakan, dengan terealisanya proyek JLLT juga akan menguntungkan pengembang untuk pengembangan usaha dan properti. “Kita terus jalin komunikasi karena realisasi JLLT juga harus didukung oleh sejumlah pihak,” ujarnya.
Menurutnya, JLLT yang progresnya baru 20 persen tersebut melewati empat kecamatan. Yakni, Rungkut, Gunung Anyar, Sukolilo, dan Mulyorejo. Ditargetkan pada 2018 ini proses pembebasan rampung. Selain itu, pemkot juga akan membangun lahan yang sudah beres dibayar. Sehingga, target penyelesaian pada 2019 untuk bisa menikmati JLLT akan diselesaikan. “Target kami JLLT bisa difungsikan pada akhir 2019,” tegasya.Dia menambahkan, keuntungan pembangunan JLLT akan banyak dirasakan oleh masyarakat. Jalan di kawasan timur tersebut akan jadi penunjang jalan MERR yang juga jadi alternatif jalan mengurai kemacetan. “Kami akan kebut agar kondisi jalan bisa segera digunakan,” terangnya.
Kepala Dinas Perhubungan Surabaya Irvan Wahyu Drajat mengatakan, infrastruktur jalan jadi penunjang agar kemacetan jalan bisa terurai. Dengan adanya tol baru jumlah kendaraan yang masuk di Surabaya meningkat. Sebagai kota dengan image wisata belanja, Surabaya jadi jujukan masyarakat luar Surabaya untuk singgah. “Karena itu kepadatan kendaraan di Surabaya harus dicarikan solusi terbaik,” kata Irvan. Dishub mendukung penuh pembangunan infrastruktur jalan. Terutama jalan alternatif penunjang kapasitas volume jalan. “Pembangunan jembatan dan infrastruktur jalan saat ini yang ditunggu,” tegas Irvan. (vga/hen)

(sb/vga/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia