Kamis, 23 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Features Sidoarjo

Iptu Agus Ahmad, Polisi yang Jadi Guru Kurikulum Narkoba Sidoarjo

08 Maret 2018, 19: 03: 03 WIB | editor : Lambertus Hurek

Iptu Ahmad sedang mengajar di kelas.

Iptu Ahmad sedang mengajar di kelas. (IST)

Share this      

 Menyelidiki sesuatu atau menangkap pelaku kejahatan, bagi polisi sudah biasa. Namun polisi kemudian didaulat jadi guru, ada rasa canggung. Ini yang dirasakan para personel Sartresnarkoba Polresta Sidoarjo. Salah satunya KBO Satresnarkoba Polresta Sidoarjo Iptu Agus Ahmad yang didapuk untuk mengajarkan kurikulum tentang bahaya dan penanggulangan narkoba di SMP.

GUNTUR IRIANTO

Wartawan Radar Sidoarjo

TIDAK nampak raut wajah ragu saat melangkah di sekolah SMP PGRI 16 Sidoarjo. Ia masuk ke kelas VIII sekolah tersebut, lalu memberikan materi mengenai bahaya dan cara penanggulangan narkoba sejak dini. Layaknya guru, satu per satu jenis narkoba diperkenalkan. Ia pun dengan lancar juga menjelaskan efek dan bahaya narkoba.

Namun apa yang dialaminya sekarang tentu tidak sama dengan pertama kali ia menjadi guru. “Sangat berbeda antara mengajar dan memberikan penyuluhan,” ungkap Iptu Agus Ahmad.

Agus mengatakan, ia sudah beberapa kali memberikan materi penyuluhan baik ke sekolah-sekolah maupun ke masyarakat umum. Tetapi baginya, mengajar adalah hal yang berbeda. Sebab ketika mengajar adalah bagaimana membuat siswa mengerti apa yang disampaikannya. Sedangkan untuk penyuluhan ia tidak terlalu memikirkan apakah konstituennya mengerti atau tidak dengan isi materi.

“Kalau mengajar ini bagaimana cara kita untuk bisa membuat siswa ini mengerti dan ini butuh trik tersendiri,” lanjutnya.

Trik mengajar ini sebetulnya sempat diajarkan para guru sebelum para polisi ini turun untuk memberikan materi tentang bahaya narkoba di sekolah-sekolah. Namun, metode tersebut ternyata tidak bisa diimplementasikan saat bertatap muka langsung dengan siswa. Ia mendapat teori untuk mengejar secara berkelompok, namun kegiatan tersebut tidak bisa dilakukan di dua sekolah yang diajarnya sekarang ini.

Ia menuturkan, untuk tetap membuat perhatian siswa ke arahnya pertama kali yang dilakukan adalah berpenampilan semenarik mungkin. Namun, ini tidak akan berlangsung lama dan ia sudah punya trik lain.

Ia lantas mengajak para siswa meneriakkan yel-yel atau sejenisnya agar tidak cepat bosan. “Cara ini juga tidak bertahan lama sebenarnya. Saya pastikan menjadi guru memang tidak mudah. Tapi ini pengalaman baru dan akan saya nikmati, kapan lagi jadi guru,” ujarnya sembari tersenyum lebar. (*/jee)

(sb/gun/rek/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia