Sabtu, 17 Nov 2018
radarsurabaya
icon featured
Persona Surabaya
Muhammad Nabil, Direktur Bapel Puslatda KONI

Mengukur Atlet Bukan Dari Faktor Keberuntungan

Minggu, 11 Feb 2018 18:03 | editor : Abdul Rozack

Muhammad Nabil, Direktur Bapel Puslatda KONI

Muhammad Nabil, Direktur Bapel Puslatda KONI (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

Menjadi Direktur Badan Pelaksana (Bapel) Pusat Pelatihan Daerah (Puslatda) di KONI Jatim, membuat Muhammad Nabil harus terus berinovasi. Beban tugas meningkatkan prestasi dan nama bangga Jatim, kini berada di pundaknya. Bagaimana rencananya menghadapi PON XX Papua selepas raihan berada di urutan dua PON IXX Jabar? Berikut petikan wawancara wartawan Radar Surabaya Baehaqi Almutoif dengan pria yang akrab disapa Nabil itu.

Bagaimana awal mula Bapak bergelut dengan dunia olahraga, khususnya KONI?

Awalnya KONI itu kan karena senang dan hobi untuk kegiatan olahraga. Sedikit mengetahui perkembangn olahraga di cabang olahraga tertentu. Seperti, sepakbola, bulutangkis serta balap motor, saya sedikit tahu.

Saya pertama masuk ke KONI itu sekitar 2010. Bayangan saya begini, Jatim itu 38 kabupaten atau kota. Masak tidak bisa jadi terbaik? Pertama terlibat di KONI, masuk bidang organisasi. Saya pegang monitoring dan evaluasi di IMI (Ikatan Motor Indonesia). Jadi, agak nyambung karena juga kenal dengan ketua umum dan pelatihnya.

Pasca masuk di jajaran kepengurusan KONI, seperti apa yang harus dilakukan KONI Jatim dalam meningkatkan prestasi?

Memang ada cabor tertentu yang menjadi wilayah kita. Prioritas kita. Tapi, pada saat pelatih itu mengusulkan, apalagi KONI sudah mendeklarasikan untuk menggunakan sport science,  tentunya harus menggunakan data. Sehingga pelatih itu sudah bisa membat program minimal satu tahun ke depan. Dan itu harus bisa memenuhi target.

Penataan pelatih juga dilakukan. Tidak bisa generalisasi pelatih. Maksudnya, satu pelatih menangani sekian atlet dan beberapa nomor. Ini tidak bisa dipermanenkan atau dilanggengkan. Maka harus displit, satu pelatih menangani sejumlah atlet dengan satu nomor saja. Dengan begitu lebih fokus dalam berlatih. Jangan ilmu lama yang digunakan, ilmu tradisional.

Seperti apa sport science itu dan sejauh ini bagaimana?

Kita ini tidak hanya berbicara lebih dari sekadar mendapatkan emas. Tapi, sudah bicara prestasi untuk Jatim dan Indonesia dengan cara yang objektif. Berarti kan sport science. Ada tiga pilar yang dipakai, yaitu fisik, kesehatan, dan psikologinya. Sekarang ada tambahan biomekanik. Ini semakin menjelaskan bahwa kami tidak main-main untuk hasilkan prestasi, tidak sekadarnya serta apa adanya. Ini cara kami mengejar prestasi dengan cara akademis dan scientist. Tak mungkin mengejar kalau tidak dengan itu.

Perangkat untuk konstruksi pengembangan atlet kita telah bangun itu. Mulai kegiatan tes kesehatan hingga asupan gizi atlet. Bahkan, sudah turun visitor untuk melihat kebutuhan atlet serta apa yang diperlukan, sehingga seimbang dengan yang dikeluarkan dan dimakan. Kontrol terebut sangat penting. Misalkan kalau tidak dikontrol bisa berdampak pada gangguan fungsi ginjal. Awal kami melakukan tes kesehatan, setidaknya 35 persen potensi gagal ginjal atlet itu. Berarti ada yang salah terhadap pola makan. Kontrol tidak dilakukan. Kemudian performa ideal dengan tes fisik. Jadi seperti ini, kalau mereka Juni masuk puslatda, kan lama libur sesudah September. Nah, kondisi endurance fisiknya itu harus ditata kembali. Dan kami gunakan standard seperti speed, power, dan VO2 MAX (kekuatan pernafasan atlet). Memang awal belum maksimal. Tapi, sekarang sudah sesuai target.

Selain empat aspek yang dilatih, kami juga memiliki data seluruh atlet di dalam file yang kami punya. Namun, itu jadi rahasia. Tidak untuk di-publish. Ketika kita klik muncul track record atlet tersebut. Kami mengembangkan sport science ini bekerja sama dengan Australia Barat.

Cukupkah hanya dengan itu?

Tidak. Pelatih penting posisinya pada psikologis atlet. Terutama pada level amatir yang sedang dibina oleh KONI. Saya sampai punya istilah the real psychology is coach, psikolog yang sebenarnya adalah pelatih. Karena atlet itu bisa jadi lebih sering ketemu pelatihnya dibanding ketemu orang tuanya. Sehingga interaksi hubungan emosional itu semakin dekat antara pelatih dengan atlet.

Mereka tidak hanya bisa mentransformasikan kemampuan teknik kepada atlet. Tapi, lebih dari itu, dia bisa menampung problem yang muncul pada atlet. Entah itu masalah apapun harus dicermati. Hal seperti itu di luar teknis.

Karena yang penting apa yang diajarkan pelatih bisa masuk atau tidak. Kita kan menggunakan sistem tes fisik dipimpin oleh pelatih asal Australia Barat, tetapi selalu kita monitor. Dengan begitu tidak mungkin tak dilanjutkan oleh pelatih kita. Analogi yang saya pakai, pelatih itu posisinya menerjemahkan maksud pelatih fisik. Karena intensitas bertemu atlet. Nah, itu kan sudah semakin kelihatan.

Tentunya kita maksimalkan pelatih dengan pendidikan dan penataran. Sehingga pelatih itu sudah harus punya program dan target. Kalau sudah punya keduanya, atlet itu bisa terus maju. Karena tidak bisa memulai target di PON itu hanya dengan harapan dan optimisme. Melainkan harus ada kriterianya serta indikatornya. Bagaimana mungkin harapan tidak ada indikator. Kemudian kalaupun ada kegagalan mereka itu disebabkan oleh apa. Jika disebabkan oleh kalah prestasi, kita bisa terima dengan lapang dada. Tapi, kalau kegagalan disebabkan oleh faktor lain, semisal obektifitas juri atau kecelakaan kecil atlet, maka kita harus evaluasi. Kalau tidak ada evaluasi, jadi tak maksimal nanti hitungnya.

Lalu, yang saya teriakkan lagi saat bicara target emas, maka harus juga bicara target perak dan perunggu rival kita. Jadi, harus tahu kenapa atlet dipatok emas. Sejauh mana dia bakal berhasil. Soalnya ketika mendapatkan emas pasti ada yang dapat perak dan perunggu. Siapa saja atlet lain itu. Lha atlet lain itu harus dimonitor juga.

Selain yang harus dimonitor juga adalah emas punya provinsi lain. Kita harus tahu yang perak punya siapa. Tidak cukup berhenti di personal kita saja ketika memasang target. Nah, karena itu teman-teman monev (monitoring dan evaluasi) sudah selalu secara reflek berbicara target emas lawannya A. Ketika berbicara perak lawannya B. Jadi semakin hari semakin ketahuan tentang kualitas atlet dan target itu semakin terukur. Sehingga saat PON atau event lain sebenarnya sudah dipetakan medali yang bisa didapat sekian.

Lha juga harus berpikir bagaiaman sport intelligent bisa maksimal dan proporsional dengan nilai sebenarnya. Itu menjadi bagian kita yang selanjutnya nanti dimaksimalkan oleh masing-masing pelatih.

Bagaimana dengan pemilihan dan pembibitan atlet yang masuk Puslatda?

Kita sudah berpikir untuk kontinuitas regenerasi, kami lakukan dengan tes atlet tahap dua. Yang di dalamnya terdapat tes fisik serta prestasi. Kita lihat track record-nya sang atlet itu melalui event, semisal kejurnas. Bagaimana prestasinya? Namun tetap diukur kredibilitas penyelenggaranya. Apakah yang ikut anak lokal dan pesertanya pemula? Itu harus diperhatikan, disamping prestasi yang lain tentunya.

Tapi, tetap ada promosi-degradasi. Salah satu faktornya bisa tak lagi mendapatkan emas atau perak. Kan kita posisi untuk pembinaan prestasi. Kalau pembinaan yang lain, silahkan ke cabang olahraga (pengprov). Kami juga  mengirim atlet berprestasi ke luar negeri. Ini guna meningkatkan dengan standard luar negeri. Sebab, kalau bermain di regional standard bertanding akan berhenti, tidak bisa ditingkatkan.

Setiap kali berbicara soal PON selelu ada atlet yang pindah, bagaimana dengan Jatim?

Kami selalu mencoba apa yang dibutuhkan oleh atlet selalu untuk sekiranya dipenuhi. Tak sampai di situ, kami mencoba beri perhatian ekstra kepada mereka. Itulah yang lantas dapat menimbulkan kesadaran atlet, dan menjauhkan dari pikiran dijadikan sapi perah. Hanya diambil prestasinya saja. Termasuk yang kita jaga jangan sampai atlet itu terjadi transaksional. Mereka terangsang hanya jika ada uang saja. Itu tidak sehat. Karena kita tidak masuk profesional yang berarti masih kategori amatir. Profesional saja tidak begitu, ada kenyaman-kenyamanan pada diri atlet.

Selanjutnya pendekatan yang dilakukan, juga harus secara manusiawi. Harus ada yang mengayomi serta melindungi tanpa hubungan.

Sejauh ini bagaimana persiapan PON XX Papua?

Kami sudah mulai dilaksanakan. Tes fisik mereka sudah mulai dicek. Karena kita harus antisipasi keputusan yang diambil oleh Pengurus Besar pada masing-masing cabor terhadap standard yang dilakukan di PON. Kritik saya yang keras tentang keputusan saat ini terkait PON Papua adalah belum adanya keputusan berapa batasan usia yang boleh bertanding saat PON nanti. Kemudian kedua berapa kelas atau nomor yang dipertandingkan. Bahkan cabornya pun sampai sekarang belum tuntas. Jangan sampai kita sudah lakukan latihan dan pembinaan, kemudian memasukkan dalam Puslatda ternyata tiba-tiba diputus dan usianya dibatesi sekian.

Kelas yang kita siapkan terus menerus dengan terukur tiba-tiba nomor itu dihapus. Itu kritikan kita di Rakornas KONI kemarin, harus sesegera mungkin. Sebab, pembinaan seperti ini, kita juga harus segera mengantisipasi. Jika tidak, semua cabor itu melakukan kegiatan atau event secara rutin. Ada yang kejurnasnya terlambat dan ada yang setahun sekali. Kalau kita hanya andalkan kegiatan yang dilakukan oleh cabor, tidak bisa jadinya. (*/opi)

Komunikasi Tanpa Sekat

Memiliki basic organisasi, Ketua Harian KONI Jatim yang juga menjabat sebagai Direktur Badan Pelaksana (Bapel) Puslatda, Muhammad Nabil awalnya tidak menggeluti olahraga. Dia punya alasan sendiri kenapa memutuskan menjadi pengurus KONI Jatim, dan ingin mengangkat prestasi Jatim di level nasional.

“Saya kan memang pernah lama di organisasi. Kemudian ada keinginan berekspresi di politik, ya masuk partai politik. Sebelum itu saya juga pernah di KPU Jatim pada periode pertama 2003-2008. Terus lima tahun setelah selesai, saya masuk di Partai Demokrat. Tak lama lantas masuk KONI. Karena memang ada sebuah kesenangan atau hobi untuk kegiatan olahraga,” ujar Nabil, Sabtu (10/2).

Kenapa memilih menjadi pengurus KONI? Nabil beralasan  secara filosofi bahwa kegiatan olahraga itu sarat dengan universal dan tanpa sekat. Orang dengan latar belakang apapun bisa berkomunikasi di sini. Tanpa harus memandang jabatan, kekuasaan ataupun suku dan agamanya. “Sama halnya dengan musik. Tidak mungkin ketika berbicara musik. Oh dari suku mana, agama mana. Itu terjadi juga di olahraga,” tuturnya.

Di olahraga, lanjut Nabil, individu bisa hormat dengan orang lain tanpa menggunakan sudut pandang dari perspektif lain. Hanya objektifitas dan universalitas yang digunakan. Kalau memang berprestasi sesuai yang didapatkan, setidaknya itu yang menjadi alasan kenapa harus menghormati. Inilah kenapa Nabil semakin mantab menjadi pengurus KONI.  “Jadi kan musik dan olahraga itu sama. Itu kemudian jadi catatan saya semakin senang di sana (di dunia olahraga, Red). Objektifitas itu lebih dikedepankan dari pada yang lain. Tidak ditentukan kekuasaan dan uang,” bebernya kepada Radar Surabaya saat ditemui di kediamannya di kawasa Perak Timur, Surabaya.  

Dirinya merasa, semakin hari mengikuti kegiatan di KONI,  kian membuatnya jatuh cinta dengan dunia olahraga. Bahkan dirinya semakin tertantang untuk meningkatkan kualitas olahraga di Jatim. “Dengan cara melakukan monitoring ketika saya jadi kordinator monev. Melakukan monitoring ke cabor dalam bentuk sidak. Mencocokan antara yang ditulis dengan yang dilakukan, ada kesesuaian tidak,” bebernya.

Setidaknya, mimpinya sejak pertama kali menjadi pengurus KONI adalah ingin mengangkat prestasi olahraga Jatim. Baik di level nasional maupun internasional. Dengan luas daerah yang cukup besar dan penduduk relatif banyak, seharusnya bukan tidak mungkin Jatim berada di posisi atas setiap kali PON digelar. (bae/opi)

(sb/bae/jek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia