Sabtu, 25 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Features Surabaya

Willemskade Menjadi Simbol Kota Pelabuhan

31 Januari 2018, 05: 00: 59 WIB | editor : Abdul Rozack

TEMPOE DOELOE: Di sebelah barat Jembatan Merah, atau Jalan Jembatan Merah (dulu disebut Willenstraat) dan Jalan Rajawali (Heerenstraat), dipenuhi peda

TEMPOE DOELOE: Di sebelah barat Jembatan Merah, atau Jalan Jembatan Merah (dulu disebut Willenstraat) dan Jalan Rajawali (Heerenstraat), dipenuhi pedagang besar Eropa. (ISTIMEWA)

Share this      

SURABAYA-Sungai Kalimas memiliki sejarah panjang seiring dengan terbentuknya pemukiman di Surabaya. Pelabuhan-pelabuhan kecil terbentuk di sepanjang sungai. 

Dalam catatan perjalanan beberapa penjelajahan menyebutkan banyak kapal-kapal kecil masuk melewati sungai. Pedagang-pedagang dari kawasan Timur Tengah, India serta Eropa berdatangan membawa komiditi perdangan saat itu. 

Sejarawan Univeristas Airlangga Purnawan Basundoro mengatakan, ada pelabuhan dulunya di Selatan Jembatan Merah bernama Willemskade. Kapal-kapal kecil terpantau merapat ke pelabuhan tersebut. "Di sebelah Selatan Jembatan Merah itu dulu terdapat pelabuhan kecil, yaitu Willemskade,” ujar Purnawan Basundoro, belum lama ini.

Penamaan Willemskade diambil dari nama Raja Belanda Willem dan Skade yang berarti jalan. Pelabuhan ini sangat sibuk sekitar abad 17 sampai abad 20. Kapal-kapal pengangkut komoditi seperti kapas, kopi dan tembakau bersandar melakukan bongkar muat di tempat tersebut. Pemukiman pun mengular mengikuti aliran sungai Kalimas. 

"Kampung Pecinan terbentuk di Chineseche Voorstraat atau Pecinan Kulon (sekarang Jalan Karet). Hampir merata, bangunan di jalan tersebut berjejer dengan arsitektur Tiongkok menghadap Sungai Kalimas," jelasnya. 

Admin Surabaya Haritage Chrisyandi, mengatakan, perdagangan di sekitar Jembatan Merah sangat ramai. Begitu ramainya itu berdampak pada berdiri kantor-kantor dagang, kantor bank, asuransi dan lainnya berdiri di sekitar sungai. "Nah, untuk memantau semua aktifitas itu (di pelabuhan Kalimas, Red) dibangunlah menara pandang, oleh pemerintah jaman dulu," kata Chrisyandi. 

Tetapi, lanjutnya, menara pandang tersebut tidak hanya berfungsi sebagai pemantau peredaran kapal barang. Tapi jugaberfungsi memantau aktifitas warga disekitar bantaran sungai kalimas. "Sungai kalimas dulunya sangat ramai sekali. Pedagang-pedang dari kota bahkan negara lain juga lalu lalang di sana," ungkapnya. 

Chrisyandi juga mengatakan, gambaran kota Surabaya yang di dalamnya terdapat penggambaran kesibukan sungai Kalimas juga sempat diabadikan lewat tulisan G.H. von Faber, dalam bukunya yang berjudul Oud Soerabaia. Di buku tersebut, tepatnya di halaman 48 sampai 59, dijelaskan secara detail gambaran aktifias dan kesibukan sungai Kalimas pada waktu itu.

"Seperti di halaman 49 dalam buku itu berbunyi,  'Disungai perahu - perahu menyusuri mondar mandir. Derik roda dokar dan gerobak dengan jalan berdebu bercampur dengan teriakan kuli yg berkeringat sedang sibuk bongkar muat barang' ," ucap pria yang juga menjadi anggota Tim 11 Von Faber Cagar Budaya ini.

Sementara itu Ketua Heritage Society Fredy H. Istanto menambahkan, keberadaan pelabuhan Willemskade tidak berlangsung lama. Kebutuhan akan bisanya kapal besar bersandar, sehingga memaksa pelabuhan ini harus mengakhiri masa operasionalnya. Dan memindahkan pelabuhan tersebut ke Tanjung Perak dan Pelabuhan Kalimas sekarang, yang letaknya berada lebih dekat dengan muara. 

"Saya tidak tahu pastinya kapan pelabuhan Willemskade tidak lagi berfungsi. Tapi pastinya ada dua penyebab, yakni pendangkalan dan butuhnya Kota Surabaya akan pelabuhan lebih besar. Karena sebagai kota pelabuhan membutuhkan tempat bersandar dengan kedalaman yang mencukupi," tandas Fredy. (bae/nug)

(sb/bae/jek/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia