Rabu, 17 Jul 2019
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya

Kedepankan Humanisme, M Iqbal Terima Award dari Unair

11 November 2017, 15: 55: 59 WIB | editor : Wijayanto

PENGAKUAN: Rektor Unair Prof Dr Muhammad Nasih (kanan) bersalaman dengan Kapolrestabes Surabaya saat menerima piagam penghargaan yang diterimanya, Jumat (10/11).

PENGAKUAN: Rektor Unair Prof Dr Muhammad Nasih (kanan) bersalaman dengan Kapolrestabes Surabaya saat menerima piagam penghargaan yang diterimanya, Jumat (10/11). (ISTIMEWA)

Share this      

SURABAYA- Universitas Airlangga (Unair) Surabaya memberikan apresiasi yang tinggi kepada Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Mohammad Iqbal, Jumat (10/11).  Apresiasi diberikan atas kerja keras dan terus membangun sinerginitas dengan semua elemen masyarakat, demi Surabaya yang kondusif dan sejuk. 

Iqbal menerima tanda penghargaan dari Rektor Universitas Airlangga Prof Dr Muhammad Nasih yang mewakili Unair.

Penghargaan ini diberikan menurut Unair, atas komunikasi dan kerjasama yang terjalin dengan baik antara kepolisian dan pihak universitas yang dilakukan Iqbal

  "Kami (Unair) tidak mungkin berdiri sendiri. Kami memerlukan mitra dari berbagai pihak, salah satunya dari pihak kepolisian, khususnya yang ada di Surabaya. Selama ini, komunikasi berjalan dengan baik sehingga iklim pendidikan di Unair bisa kondusif," kata  Nasih dalam sambutannya.

    Diungkapkan Nasih, berkat ketanggapan dan komunikasi yang baik dengan pihak kepolisian, berbagai dinamika yang terjadi di lingkungan pendidikan dapat dikelola dengan baik.  "Dinamika Unair sangat dinamis. Tapi atas pendekatan pihak kepolisian yang sangat manusiawi dan akademis, lingkungan pendidikan paling tidak bisa kondusif. Semua bisa dikelola sehingga kami bisa bekerja optimal untuk meraih tujuan. Kuncinya terjalin komunikasi dua arah. Melalui dialog, seminar sarasehan, cangkrukan yang semuanya berjalan dengan humanis," jelasnya.

  Apa kata M Iqbal? “Ini bagian dari upaya pendekatan dan strategi kepolisian dalam mengelola setiap gangguan keamanan yang dimungkinkan muncul. Jadi, polisi tidak hanya menunggu, tidak hanya reaktif tapi juga proaktif. Untuk itulah, sosok kapolrestabes hadir di kampus, menyapa civitas akademika melalui diskusi, seminar, dialog, sambil bersilaturahmi, menambah teman juga mengasah dimensi intelektual," paparnya.

Menurut Iqbal, jika semuanya bisa diselesaikan dengan dialog, mengapa harus menggelar aksi atau demo.  “Jadi setiap gangguan keamanan bisa dikelola. Satu tujuannya yakni kita sepakat keamanan adalah investasi untuk menjalankan semua roda kehidupan, termasuk di dalamnya pendidikan, beribadah," jelas dia. (iku/hen)

(sb/jpg/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia