Jumat, 06 Dec 2019
radarsurabaya
icon-featured
Ekonomi
Kemajuan Teknologi Tidak Bisa Dibendung (5)

Era Revolusi Industri ke-4, Peran Digital Mewabah

05 November 2017, 16: 00: 59 WIB | editor : Abdul Rozack

Ilustrasi Era Revolusi Industri ke-4

Ilustrasi Era Revolusi Industri ke-4 (Grafis: Fajar)

Share this      

Saat ini Indonesia sedang menghadapi revolusi industri ke-4. Karena itulah, Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Jatim mendorong pemerintah dan masyarakat untuk meningkatkan industri maupun produksi dalam negerinya.

Tim Ahli Kadin Jatim, Jamhadi mengatakan, revolusi industri ke-4 ini memiliki dampak positif maupun negatifnya. "Di Jatim, belanja gadget Rp 30 triliun. Artinya  peran digital sudah mewabah. Tentu saja ini bagian dari revolusi itu," kata Jamhadi dihubungi Radar Surabaya, kemarin. 

Sementara itu, prosentasi pertumbuhan Jatim yang disokong sektor industri besar mencapai  0,14 persen. Kemudian industri menengah mencapai 0,47 persen. Sebanyak 97,05 persen didominasi produk UMKM.  Melihat jumlah industri di Jatim, pemanfaatan gadget digunakan untuk pemasaran, khususnya market place online. Akibatnya,  tenaga manusia yang biasanya digunakan untuk pemasaran mulai beralih ke digitalisasi. "Penurunan jumlah tenaga kerja dari digitalisasi ini sampai 10 persen. Namun, sampai sekarang tidak terlalu signifikan karena ketrampilan manusia masih belum digantikan oleh mesin," yakin dia.

Penurunan produksi di Indonesia, diakuinya juga cukup besar. Penyebabnya lantaran produk digitalisasi justru memasarkan produk asing, seperti Tiongkok, Korea, Hong Kong atau Taiwan. Bahkan, banyak peritel yang tutup karena permintaan terus berkurang, meski tenaga kerja mereka sudah dikurangi. "Dampak yang besar, pendapatan pajak kita juga turun," ungkap dia.

Dijelaskan Jamhadi,  revolusi industri sudah berlangsung empat kali. Era revolusi industri yang pertama dimulai ketika ada penemuan mesin uap, tahun 1879. Era revolusi industri kedua dimulai ketika ditemukan listrik dan era revolusi industri ketiga dimulai ketika industri beralih ke robotik.

Dalam beberapa tahun terakhir, era revolusi industri keempat sudah mulai berlangsung. Di mana semua sudah mengarah ke digitalisasi. Peran-peran produksi yang selama ini dikerjakan melalui tenaga kerja ataupun robotic, sudah mulai berkurang. Digantikan digitalisasi program. Dimana peran dalam industri sudah mulai beralih dengan konsentrasi ke arah digitalisasi. Digitalisasi ini membutuhkan sumber daya manusia yang lebih mengedepankan kerja otak ketimbang yang lain. "Blue color and labor akan digeser oleh Y color. Y colour lebih mengedepankan intelegensi," tegasnya. 

Oleh karena itu, kemungkinan 'menggusur' peran sumber daya manusia ke arah digitalisasi bisa terjadi. "Yang mengkhawatirkan, 5 tahun ke depan 35 persen pekerjaan keahlian tidak dibutuhkan. Dan 10 tahun mendatang, 75 persen pekerjaan akan hilang," tuturnya.

Jamhadi berharap pemerintah sudah memikirkan antisipasinya dari sekarang, Karena dunia digigal tidak bisa dihadang.  "Kita harus mendorong digitalisasi memanfaatkan UMKM dalam negeri. Kami harap seluruh perbankan juga sudah mampu merealialisasikan BI rate 4,25 dari kredit komersial yang kini rata rata 9 persen," pungkas Jamhadi yang juga ketua Kadin Surabaya itu.

(sb/han/bae/jek/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia