Jumat, 24 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Features Surabaya

Cuaca Galau di Surabaya, Siang Panas Terik, Malam Hujan

29 Oktober 2017, 00: 02: 20 WIB | editor : Abdul Rozack

grafis edisi cuaca galau di surabaya

grafis edisi cuaca galau di surabaya (Grafis: Fajar)

Share this      

Sekitar seminggu belakangan cuaca kota Surabaya sedang galau alias tak menentu. Terkadang hujan turun sangat deras, utamanya kalau malam hari. Tapi, jika siang, panas juga tak kalah menyengat. Suhu siang hingga mencapai 35 derajat Celcius. 

ANGGUN ANGKAWIJAYA-Wartawan Radar Surabaya 

Warga pun banyak yang dibuat bingung. Terlanjut tidak bawa jas hujan, tapi ketika pulang kerja, hujan mengguyur dengan derasnya. “Akhirnya ya basah semua, Pak. Risiko cuaca yang tidak menentu,” kata Arman Santoso, warga Rungkut yang bekerja di kawasan Perak ditemui Radar Surabaya sedang ngiyup di kawasan MERR, Senin malam (23/10).

Malam Selasa lalu, hujan memang mengguyur dengan derasnya. Tidak hanya di titik-titik tertentu, tapi hujan yang turun sejak pukul 19.00 itu merata hampir di wilayah Kota Pahlawan. Itulah hujan pertama yang terhitung deras mengguyur Surabaya sejak musim kemarau tiba sekitar Mei-Juni lalu.

Prakirawan BMKG (Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika) Tanjung Perak Surabaya, Arif Wiyono mengatakan, saat ini kota Surabaya maupun beberapa daerah di Jawa Timur masih, memang belum memasuki musim hujan. Hujan baru turun di kota-kota tertentu saja, seperti wilayah Mataraman (Ponorogo,  Magetan Madiun, Trenggalek). Itu pun  belum terlalu sering, baru beberapa kali saja. “Sekarang ini masih masuk dalam musim pancaroba. Peralihan dari musim panas ke musim hujan,” kata Arif. 

Berdasarkan pantauan satelit Himawari 8 dan radar cuaca di Bandara Juanda, angin pada musim pancaroba tahun ini terpantau bervariasi arahnya. “Dari pantaun terdeteksi angin dari selatan menuju ke barat dan utara,” imbuh Arif. 

Hujan yang turun di Surabaya dan kota lain di selatan Jawa Timur seminggu terakhir ini terjadi, karena adanya pertumbuhan awan konvektif atau hasil pemanasan air laut Samudera Indonesia. “Uap ini jumlahnya sangat banyak dan terbawa ke angin yang lemah menuju ke daratan. Karena itu hujan turun di wilayah selatan Jawa Timur dan Surabaya. Kalau anginnya kencang, uap air akan cepat hilang,” jelas Arif. 

Ditambah dengan adanya belokan angin (Sir) di atas Laut Jawa, membuat uap air mengumpul dan menyebabkan hujan. Angin tersebut bertiup dari arah selatan ke barat dengan kecepatan 5 sampai 24 kilometer (km) per jam. 

Dengan kecepatan yang rendah tersebut, potensi hujan yang terjadi di Surabaya  maupun daerah Jawa Timur akan turun pada sore sampai malam hari.  “Surabaya berpeluang hujan ringan pada sore sampai malam hari. Kalau siang cuma mendung,” ucap Arif. 

Hujan yang mengguyur Surabaya, menurut Arif, masih bersifat sporadis dan hanya sebentar saja. “Namun, ini yang perlu diwaspadai. Sebab, biasanya akan disertai dengan angin yang kencang dan bisa membuat pohon roboh,” ungkapnya. 

Oleh karena itu, Arif berharap agar warga dan Pemerintahan Kota (Pemkot) Surabaya mewaspadai pohon yang kondisinya membahayakan. Terlebih yang berada di tepi jalan raya untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan. Selain menghindari pohon tumbang, warga juga diharapkan membersihkan selokan dan saluran air dari sampah agar tidak terjadi banjir.

Arif juga mengatakan, kondisi yang belum menentu ini menyebabkan suhu udara di Surabaya juga terus berubah, berkisar antara 25/26 sampai 35 derajat Celsius dengan kelembaban udara di kota Surabaya antara 60 – 80 persen. Kondisi ini menyebabkan siang bisa sangat terasa panas sekali, dan tiba tiba berubah dingin pada sore sampai malam hari. 

Seperti yang terjadi beberapa waktu lalu, suhu Surabaya mencapai 34-35 derajat Celsius. Itu dikarenakan posisi matahari tepat berada di atas Kota Buaya. “Tapi, sekarang posisi matahari sudah bergeser ke selatan dan pada Nopember nanti, posisi matahari akan berada tepat di belahan bumi selatan,” terang Arif. 

Suhu yang berubah-ubah ini, lanjut Arif , bisa membuat orang akan gampang sakit, terlebih anak-anak. Arif juga menjelaskan, curah hujan untuk beberapa kota lain yang berada di selatan dan tengah wilayah Jawa Timur, cukup tinggi. Bahkan beberapa di antaranya sampai banjir dan terjadi tanah longsor. Itu karena dari segi geografis, wilayah ini lebih dekat dari Samudera Indonesia. Apalagi uang air yang dibawa jumlahnya banyak.  Semakin ke utara air semakin berkurang.

Namun demikian, Bangkalan sebelah selatan terkadang hujan lebat. “Itu dikarenakan daerah ini berada di wilayah perputaran angin yang membawa uap air yang banyak,” terang Arif. 

Dikatakan juga oleh Arif, meskipun hujan sporadis berpotensi menimbulkan angin kencang, namun tidak tidak menimbulkan gelombang tinggi di Laut Jawa maupun Selat Madura.  “Untuk pelayaran antar pulau dan nelayan masih aman. Tinggi gelombang Laut Jawa 0,5 sampai 1 meter,” ucap Arif. 

Namun, yang perlu diwaspai adalah daerah pesisir utara dan selatan wilayah Jawa Timur, karena ada potensi terjadi angin puting beliung. Potensi ini bisa terjadi karena posisi pesisir tidak memiliki penghalang untuk menahan datangnya angin. 

Ketika puting beliung terjadi, gelombang air laut bisa naik sewaktu waktu. “Inilah yang ditakutkan nelayan karena datangnya tiba tiba,” ujar Arif. 

Bulan musim penghujan tahun ini, kata Arif, diperkirakan akan dimulai pada 20 Nopember mendatang. Dimana hujan akan turun setiap hari dan merata. Posisi matahari akan tepat berada di belahan selatan bumi, dan mengakibatkan angin barat yang membawa uap air dalam jumlah banyak dari benua Asia. 

(sb/ang/jek/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia