Sabtu, 16 Nov 2019
radarsurabaya
icon featured
Features Gresik

Tidak Sembarangan,Kostum Karnaval Harus Menggambarkan Filosofi Sejarah

02 Oktober 2017, 21: 52: 25 WIB | editor : Abdul Rozack

Kostum kisah Nyai Gede Pinatih

BERMAKNA: Fanny yang mengenakan kostum dengan kisah Nyai Gede Pinatih dan beberapa tokoh legenda, bersama kawannya memperagakan masing-masing kostum yang dipakai. (ESTI/RADAR GRESIK)

Share this      

GRESIK – Pembuatan kostum tokoh-tokoh sejarah yang digunakan dalam kegiatan karnaval ternyata tidak sembarangan. Sebab, dalam balutan kostum tersebut harus menggambarkan filosofi sejarah yang erat kaitannya dengan tokoh legenda yang  diceritakan.

“Jadi, dengan menggunakan kostum tersebut masyarakat yang melihat bisa mengerti sejarah yang hendak disajikan,” ujar Fanny Gian Mayasari, salah satu desainer kostum dengan cerita legenda. Ia menjelaskan, kostum yang menceritakan tentang legenda selalu memiliki ciri khas. Yakni, bentuknya yang unik dan menarik perhatian. Termasuk detil berbeda, yang dicocokkan dengan cerita dari tokoh legendanya. “Sentuhan detil yang khas itu harus benar- benar mengisahkan sang tokoh,” papar Fanny.

Menurutnya, hal tersulit dalam pembuatan kostum dengan cerita legenda adalah konsepnya. Sebab, harus memiliki referensi kuat terkait cerita legenda. Perencanaannya sendiri, bisa sampai berbulan-bulan. “Tapi ada kesenangan, karena memiliki hal yang khas, dan bila dipamerkan itu bisa dengan cepat menarik perhatian,” ungkap perempuan asal Veteran ini. 

Beberapa kostum dengan cerita legenda yang dibuat adalah ibu kandung Sunan Giri, Dewi Sekardadu, Nyai Gede Pinatih yang berperan penting dalam Bea Cukai dan perdagangan asing, Dewi Sekartaji yang merupakan putri cantik dari Kerajaan Kediri,  Majapahit hingga Garuda. Salah satu contohnya kostum Dewi Sekardadu, menggambarkan tentang pakaian kerajaan Banyuwangi dan kemanten Banyuwangi.

Warna emas yang melambangkan kekuasaan. Dipadukan dengan warna biru yang melambangkan kesyahduan Dewi Sekardadu ketika ikut menceburkan diri ke samudra untuk menyelamatkan putranya yang dikenal sebagai Joko Samudro.

“Kostum dengan sarat cerita ini, diminati banyak make up artist hingga pemilik jasa penyewaan kostum. Saya bisa buatkan berbagai cerita dalam kostum untuk didistribusikan kepada konsumen di wilayah Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Lamongan, Tuban, Tulungagung, Madura hingga Rembang,” sebutnya.(est/rof)

(sb/ris/jek/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia