Jumat, 24 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal

Aniaya Santri, Dipukul 10 Kali, Tewas usai Kena Dada

08 September 2017, 19: 04: 34 WIB | editor : Abdul Rozack

ilustrasi

ilustrasi (Grafis: Fajar)

Share this      

SURABAYA - Penyidik Polsek Simokerto merekontruksi empat tersangka penganiayaan Mohammad Iqbal Ubaidillah,15, santri yang tinggal di Jalan Keputih Kejawan Tambak Gang VI nomor 39, Surabaya, hingga tewas, Kamis (7/9). Keempat tersangka yakni Munif Zaenuri,18, TH ,15, MA,14, dan SI,15, ini menjalani 18 adegan rekonstruksi yang digelar di Pondok Pesantren Darussalam, Surabaya, Jalan Tambak Anakan, Surabaya. , Jalan Tambak Anakan, Surabaya. 

Dalam rekonstruksi tersebut, mereka mengulang kronologis penganiayaan yang berujung kematian korban. Rekontruksi diawali dengan obrolan empat tersangka yang saat itu sedang duduk di balkon lantai 3 pondok pesantren

Dalam obrolannya tersebut mereka membahas uang mereka yang hilang hingga akhirnya mereka menduga jika Iqbal adalah pelaku pencurian uang tersebut. 

Setelah mengobrol cukup lama, akhirnya mereka memutuskan untuk menghampiri korban yang saat itu berada di dalam kamar. Adegan selanjutnya, mereka mencoba menanyakan kecurigaan mereka kepada pelajar kelas 3 SMP tersebut. Mereka menanyakan apakah korban yang selama  ini mencuri uang milik mereka. 

Namun pada saat ditanya, korban bersikukuh tak mengakui perbuatannya. Jawaban korban membuat keempat tersangka, khususnya Munif emosi. Sebab dia yang baru saja kehilangan uang.  

Setelah itu, Munif mendorong korban hingga korban jatuh dan terbaring di lantai. Setelah itu, keempat tersangka bergiliran memukul korban sebanyak sepuluh kali. 

Dari adegan tersebut terlihat jika korban dipukul dan ditendang pada bagian kaki, pantat, leher, perut dan dada. Pukulan di dada korban merupakan pukulan pamungkas sebelum akhirnya korban pingsan hingga berlanjut tewas. 

Karena panik, para tersangka sempat meminta tolong kepada santri lain untuk membantu korban untuk dibawa ke RSUD Dr Soewandhi.  Hanya saja, nyawanya tak tertolong.   

Kapolsek Simokerto, Komisaris Polisi (Kompol) Masdawati Saragih menjelaskan dari 18 adegan yang dilakukan oleh empat tersangka tersebut, polisi tak menemukan fakta baru. Semuanya sudah sesuai dengan keterangan keempat tersangka. 

"Tidak ada fakta baru, semuanya sudah sesuai dengan BAP tersangka," ungkapnya. 

Hasil rekonstruksi tersebut nantinya akan digunakan sebagai pelangkap berkas perkara yang akan diserahkan kepada pihak kejakaan untuk diproses lebih lanjut. 

Terpisah, pihak keluarga korban kemarin mendatangi Kantor Wilayah Kemenag Jatim, di Juanda, Sidoarjo. Kedatangan keluarga yang di wakili oleh ayah Iqbal, Farman hendak wadul ke Kemenag untuk menindaklanjuti kasus penganiayaan yang menimpa anaknya. 

Sebab menurut Farman, kasus penganiayaan tersebut sudah sering  terjadi di pondok Darussalam tersebut. "Saya hanya tidak ingin ada korban lain seperti anak saya,. Sebab selain anak saya, kasus penganiyaan tersebut juga dialami oleh rekan-rekan Iqbal yang lain. Sehingga saya meminta pihak Kemenag untuk mengawasi jangan sampai kasus serupa terulang lagi," ungkap Farman. 

Sementara itu, Humas Kanwil Kemenag Jatim, Markus membenarkan tentang kedatangan keluarga korban tersebut. Pihaknya berjanji akan memanggil pihak-pihak yang terkait untuk menjelaskan dan mengklarifikasi kasus penganiayaan tersebut. 

"Kami akan selidiki dulu bagaimana sebenarnya kronologis kasus tersebut," terangnya.

Markus mengatakan pihaknya akan melakukan evaluasi kepada ponpes tersebut. Jika nantinya memang terjadi pembiaran atau terbukti lemahnya pengawasan yang ada di pondok tersebut, tentu akan ada sanksi sendiri. Hanya saja secara struktural, sanksi tersebut tidak bisa serta merta diberikan lantaran ponpes bukanlah lembaga formal yang dibawahi langsung oleh Kemenag. 

"Kalau sekolah seperti MI, MTS dan MA adalah tanggung jawab kami, sehingga kalau ada pelanggaran tentu kami bisa langsung sanksi. Nah terkait kasus ini tentu kami tidak bisa sembarangan, kami harus selediki dan evaluasi lebih dahulu. Apalagi proses hukum juga sudah berjalan," pungkasnya.

Sementara itu, Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya telah menerima surat pemberitahuan dimuainya penyidikan (SPDP) kasus penganiayaan Mohammad Iqbal Ubaidillah,15 yang dilakukan oleh empat orang temannya sendiri hingga tewas. Dalam SPDP itu, penyidik Kepolisian Polsek Simokerto menetapkan empat tersangka antara lain Abdul Munif,18, TH,15, MA,14, dan SI,15. 

Kasi Pidana Umum (Pidum) Kejari Surabaya, Didik Adyotomo menjelaskan SPDP tersebut telah diterima Kejari Surabaya Rabu (6/9) lalu. Dimana SPDP ini telah diserahkan mengingat keempat pelaku pengeroyokan itu masih dibawah umur. 

"Kami sudah menunjuk jaksa Ali Prakoso yang akan menangani kasus ini," terangnya, Kamis (7/9).

Pria yang akrab disapa Dadik ini menjelaskan dalam berkas SPDP itu, keempatnya dijerat dengan pasal 170 KUHP tentang pengeroyokan. "Ancamannya sendiri bisa sampai lima tahun, namun karena tiga tersangka ini masih anak anak jadi bisa tiga perempat dari hukumannya," tegasnya.

Saat disinggung kapan berkas di kirim penyidik kepolsian, Dadik masih belum bisa memastikan. "Yang pasti kami sudah siapkan jaksa yang akan menyidangkan kasus ini," ucapnya. 

Seperti yang diketahui sebelumnya, M Iqbal tewas setelah dianiaya oleh empat teman satu pondok di Pondok Darussalam.  Penganiyaan tersebut bermula saat korban dituduh melakukan pencurian uang milik pelaku.

(sb/yua/jek/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia