alexametrics
Rabu, 27 Jan 2021
radarsurabaya
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Kalah Bersaing dengan Mafia 40% Anggota Perpadi Tutup Usaha

29 Juli 2017, 11: 45: 03 WIB | editor : Abdul Rozack

Kalah Bersaing dengan Mafia 40% Anggota Perpadi Tutup Usaha

SURABAYA-Dewan Pengurus Daerah (DPD) Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras Indonesia (Perpadi) Jawa Timur mendukung pemerintah untuk memperkuat peranan satgas pangan di Indonesia. Pasalnya, kini banyak mafia yang mengubrak-abrik harga penggilingan padi dan beras. Akibatnya sejak tahun 2014 hingga kini, hampir 40 persen pengusaha penggilingan skala kecil dan menengah anggota Perpadi tutup karena kalah bersaing dengan mafia. 

Hal itu seperti diungkapkan Hendra Than, Ketua Perpadi Jatim di Surabaya, Jumat (28/7). Menurut dia, keberadaan mafia beras sangat menggangu tata niaga padi dan beras di Indonesia. Faktanya, dari tahun ke tahun jumlah stok beras yang diterima di pusat beras nasional, Cibinong, Jakarta turun secara signifikan. "Senin masih 2.569 ton, Selasa turun 1.898 ton, kemudian Rabu turun lagi hanya 1.799 ton. Artinya, beras dari petani tidak lagi tersalurkan ke jalan yang benar, ada mafia yang sudah mengambil langsung dari petani. Ini sangat membahayakan," kata Hendra.

Bahaya yang paling terbesar, lanjut dia, adalah mereka akan mengganggu stabilitas produksi hingga harga beras. Para pengusaha penggilingan padi dan beras di Jatim sudah mengaku banyak yang bangkrut dan menutup usahanya. Hal ini disebabkan, mereka tidak mendapatkan gabah maupun beras yang akan digiling karena sudah diambil terlebih dulu oleh para mafia dengan harga lebih tinggi.  

"Mayoritas anggota Perpadi skala kecil dan menengah sehingga tidak mampu bersaing dengan para mafia. Mereka (mafia) berani mengambil harga tinggi," kata Hendra. 

Padahal, lanjut dia, ada sekitar 200 lebih tenaga kerja yang menggantungkan nasib ke usaha penggilingan beras dan padi. Selain itu, permainan harganya pun dianggap curang. Para mafia membeli dengan harga setinggi mungkin waktu belum musim panen. Kemudian, waktu musim panen dan stok berlimpah mereka tidak mau menggiling maupun membeli. Imbasnya, kondisi beras rusak dan harganya anjlok. 

Dengan permainan para mafia beras, Hendra menjelaskan, penguasaan beras anggota Perpadi dan Bulog terus menurun. Dari yang sebelumnya bisa menguasai 90 persen, kini turun drastis jadi 30 persen. Pengadaan harga Bulog selama empat tahun ini juga tidak tercapai. 

"Ini sangat membahayakan. Kalau pengusaha kecil bangkrut, pengusaha besar akan menguasai pasar. Mereka bisa bermain harga seenak mungkin. Dampaknya ke masyarakat Indonesia karena dikuasai oleh mereka," papar dia. 

Menurut Hendra, di Jatim, mafia-mafia yang bernaung di bawah satu pengusaha besar nasional itu memiliki berbagai macam nama UD. Mereka mengambil padi langsung dari petani di lumbung-lumbung padi di Indoneia, khususnya di Jatim. Seperti di Banyuwangi, Lamongan, Jember, Tuban, dan lainnya.

(sb/han/jek/JPR)

 TOP