Kamis, 19 Jul 2018
radarsurabaya
icon featured
Sidoarjo

Lima Desa Masih Sangat Tertinggal di Sidoarjo

Kamis, 12 Jul 2018 21:31 | editor : Lambertus Hurek

Gubuk sederhana di Desa Plumbon, Kecamatan Porong.

Gubuk sederhana di Desa Plumbon, Kecamatan Porong. (DOK)

Meski pembangunan di Sidoarjo cukup pesat, nyatanya belum merata ke seluruh wilayah. Pembangunan hanya kencang di pusat kota, sementara di desa pinggiran masih belum. Dari data yang dikeluarkan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, masih ada lima desa yang masuk kategori sangat tertinggal. 

Kelima desa tersebut berada di empat kecamatan. Yakni Desa Plumbon, Kecamatan Porong, Desa Besuki, Kecamatan Jabon, Desa Kendalpecabean, Kecamatan Candi, serta Desa Kedungbendo dan Desa Penatarsewu di Kecamatan Tanggulangin.

Kepala Bidang Pemberdayaan Masyarakat Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Keluarga Berencana (DPM P3A KB) Yustina Pras menjelaskan, penilaian desa dilakukan setiap tahun. Tim penilai berasal dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi. “Pemerintah pusat sendiri yang menilai,” katanya, Kamis (12/7). 

Setiap desa harus mengisi kuisioner pada setiap tahun. Isinya melaporkan perkembangan desa. Seperti kemajuan infrastruktur yang dibangun dan pemberdayaan masyarakat.

Dari hasil penilaian, tim penilai mengelompokkan desa menjadi lima kategori. Yaitu desa mandiri, maju, berkembang, tertinggal, dan sangat tertinggal. Dari 322 desa di Kabupaten Sidoarjo, total ada 57 desa maju, 189 desa berkembang, 71 desa tertinggal, dan lima desa sangat tertinggal. 

Kategori desa mandiri artinya desa yang bisa mencukupi kebutuhan sendiri. Seperti pembangunan desa. Desa maju dan berkembang merupakan desa menuju desa mandiri namun masih bergantung APBD dan anggaran pemerintah pusat. Sedangkan desa tertinggal dan sangat tertinggal adalah desa yang infrastruktur dan pemberdayaannya masih kurang. 

Yustina menjelaskan, ada beberapa hal yang membuat lima desa di Sidoarjo masuk dalam kategori sangat tertinggal. Pertama, minimnya Infrastruktur. Seperti di Desa Penatarsewu, Kecamatan Tanggulangin, ada sejumlah ruas jalan yang rusak. “Kami tangani dengan program TMMD bersinergi dengan Kodim 0816 Sidoarjo,” ujarnya. 

Alasan kedua adalah minimnya partisipasi pembangunan dari masyarakat. Dia mengatakan, pembangunan fisik tidak selalu dikerjakan pemerintah desa. Warga juga bisa ikut turut serta. Seperti membangun lapangan desa dan jalan. 

Faktor lain yaitu minimnya pembentukan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes). Dari data Dinas PMD P3A KB, baru 80 desa yang sudah membentuk bumdes. 

Selain itu, di Sidoarjo belum mempunyai Desa Mandiri. Artinya pembangunan desa masih bergantung dari dana APBD dan dana pusat. 

Kepala Dinas PMD P3A KB Ali Imron menjelaskan, lima desa tertinggal itu menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Dia menargetkan tahun ini, seluruh desa yang sangat tertinggal bisa tertangani. “Pembentukan Bumdes kami dorong terus,” pungkasnya. (nis/rek)

(sb/nis/rek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia