Kamis, 19 Jul 2018
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

BI Siap Meredam, Masyarakat Tak Perlu Panik

Kamis, 12 Jul 2018 16:13 | editor : Wijayanto

TAK TERPENGARUH: Meski nilai tukar rupiah merosot terhadap dolar AS, namun barang-barang di Hartono Elektronik harga masih stabil

TAK TERPENGARUH: Meski nilai tukar rupiah merosot terhadap dolar AS, namun barang-barang di Hartono Elektronik harga masih stabil (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Surabaya - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) masih menguat terhadap rupiah. Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing terutama dolar AS yang menyentuh hingga level Rp 14.000 lebih per dolarnya meresahkan masyarakat. Hal tersebut disebabkan fluktuasi nilai tukar rupiah tersebut akan berdampak pada semua aspek bisnis maupun perdagangan.

Direktur Kepala Grup Advisory dan Pengembangan Ekonomi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur Harmanta mengatakan, kondisi rupiah saat ini memang tidak dapat terlepas dari kondisi global. Menurutnya, saat ini terjadi fenomena menguatnya dolar AS terhadap beberapa mata uang utama, baik terhadap negara maju maupun negara berkembang, termasuk Indonesia.

Meski demikian, Bank Indonesia meminta masyarakat tidak perlu panik. Karena meskipun melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, kondisi perekonomian nasional atau pun Jawa Timur khususnya masih baik.

Hal tersebut dapat dilihat pada kuartal I secara nasional mampu tumbuh 5,1, sedangkan Jawa Timur mampu tumbuh mencapai 5,5 persen. Kuartal II di Bank Indonesia memprediksi meningkatkan mencapai 5,6-6 persen. Mesti rupiah tertekan, tetapi tetap optimis kinerja dan pertumbuhan ekonomi tetap dapat tumbuh.

“Selain itu, Bank Indonesia juga akan melakukan upaya untuk menjaga stabilitas perekonomian,” terangnya.

Harmanta menyebut, meski nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah, Bank Indonesia meminta agar masyarakat tidak panik. Bank Indonesia menyatakan siap meredam penguatan dolar tersebut. Menurutnya, pihaknya akan melakukan intervensi baik di pasar valuta asing (valas) maupun SBN. Selain itu, Bank Indonesia tetap mengupayakan langkah-langkah untuk menjaga stabilisasi seperti menaikan suku bunga acuan untuk menarik investor.

“Selain itu, kami melonggarkan kebijakan loan to value (LTV) kredit pemilikan rumah di mana para debitur KPR tidak perlu membayar 30 persen uang muka,” tuturnya.

Harmanta menjelaskan, memang ada beberapa dampak dari melemahnya rupiah tersebut. Di pasar keuangan, meningkatnya fenomena capital outflow atau investor menarik uangnya dari pasar saham. Sedangkan di pasar barang, akan mengerem impor karena naiknya harga.  Namun di sisi lain, impor bahan baku sangat dibutuhkan.

“Sebaliknya bagi para pengekspor akan diuntungkan dengan naiknya nilai barang. Selain itu, meski kondisi ini dapat mempengaruhi nilai inflasi, beruntung pertumbuhan ekonomi secara nasional maupun di Jawa Timur terbilang cukup baik. Sehingga kami optimis kondisi masih tetap stabil,” ujarnya.(cin/no)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia