Kamis, 19 Jul 2018
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Medsos Percepat Proses Radikalisasi

Kamis, 12 Jul 2018 15:38 | editor : Wijayanto

Solahuddin, Staf Pengajar Universitas Indonesia

Solahuddin, Staf Pengajar Universitas Indonesia (DOK)

SURABAYA - Media sosial diketahui bisa mempercepat proses radikalisasi. Penyebabnya kelompok  berpaham radikal sangat membatasi komunikasi melalui telepon. Hal ini disampaikan oleh Solahuddin, Dosen Dari Universitas Indonesia, akademis yang kerap mendalami penelitiannya dalam bidang terorisme dalam acara Short Course penguatan perspektif korban dan peliputan isu terorisme bagi insan media oleh Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di salah satu Hotel di Jalan Pandegling, Surabaya( 10/7).

Seperti diberitakan beberapa waktu lalu. Media sosial seperti telegram, menjadi sarana komunikasi kelompok ini untuk merekrut pengikut. Dengan Telegram, proses radikalisasi berlangsung cepat, hal  ini karena orang-orang terekspos dengan kekerasan secara intensif 24 jam.

Disini ia memisalkan, satu anggota ISIS yang memiliki satu akun telegram bisa berlangganan lebih dari 10 channel telegram atau 10 privat chat forum diskusi. Satu channel telegram bisa menyebarkan pesan-pesan kekerasan seperti video,  dan propaganda ajakan jihad 80 sampai 150 kali perhari. Disimpulkan mereka terekspos dengan 1000 pesan kekerasan tiap harinya. Hal inilah yang ia namakan dengan terorisme Zaman Now.

Dengan kemudahan proses radikalisasi ini, muncul fenomena baru dimana seorang teroris dari mulai teradikalisasi hingga sampai melakukan aksi bom hanya perlu memakan waktu kurang dari satu tahun. Sangat berbeda dengan radikalisasi terorisme yang terjadi sebelum adanya proses radikalisasi.  “ Dulu prosesnya lama memakan waktu lima hingga sepuluh tahun dari mulai radikalisasi hingga aksi,” katanya.

Dalam bahasan ini, ia mengambil kasus dari  Anggi, mantan TKI yang terdeportasi karena terduga teroris. Mulai terpapar paham terorisme sejak bulan  November 2016, ia mulai merubah penampilannnya yang saat itu tak pernah berjilbab dengan penampilan tertutup. Selama akhir desember hingga februari, ia kerap membagikan tulisan tulisan propaganda jihad di akaun sosial medianya. Februari 2017 ia melakukan aksi baiat yang sempat ia viralkan di flog pribadinya. Dari postingan meresahkan itu, Ia di deportasi dari Tiongkok tempatnya bekerja karena diduga pelaku terorisme. Beberapa bulan sekembalinya ke Indonesia, tepatnya di bulan Agustus, ia tertangkap bersama suaminya di Bandung, saat sedang merencanakan aksi bunuh dirinya.

Selain pengetahuan-pengetahuan tentang terorisme, dalam short course ini, para jurnalis jua diberikan beberapa ilmu seperti etika peliputan korban bom, Peliputan jurnalis secara damai dan juga dampak bom dari persepektif korban. Pelatihan ini, diharapkan mampu mengedukasi para jurnalis untuk menyajikan pemberitaan tentang terorisme secara benar dan menyampaikan pesan perdamaian dan kemanusiaan kepada khalayak. (is/rtn)

(sb/gin/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia