Jumat, 20 Jul 2018
radarsurabaya
icon featured
Lifestyle Surabaya

Gangguan Jantung Pada Lansia, Paling Banyak Derita Jantung Koroner

Minggu, 24 Jun 2018 10:00 | editor : Abdul Rozack

SEHAT SEKALIGUS MESRA: Untuk menjaga tubuh dari penyakit jantung, lansia tetap harus berolahraga. Olahraga yang disarankan adalah olahraga ritmis, sep

SEHAT SEKALIGUS MESRA: Untuk menjaga tubuh dari penyakit jantung, lansia tetap harus berolahraga. Olahraga yang disarankan adalah olahraga ritmis, seperti jalan kaki. Jadi, tidak perlu olahraga yang berat-berat. (net)

Berdasarkan data yang dihimpun dari Amerika Serikat, penyakit jantung yang sering ditemui pada lansia ada lima. Penjakit Jantung Koroner(PJK) menempati urutan pertama dengan presentase 13 persen, selanjutnya adalah infark Miokard (serangan jantung)  dengan presentase 8 persen. Disusul oleh kelainan katup sebanyak 4 persen, gagal jantung 2 persen dan hipertensi sebanyak 1 persen. 

Ismaul Choiriyah - Wartawan Radar Surabaya 

Penyakit jantung koroner menempati posisi teratas dalam penyakit jantung yang umum diderita lansia.  Namun, sebelum membahas lebih lanjut, kita perlu tahu, apa sih yang disebut dengan koroner itu. Menurut dokter spesialis jantung dari rumah sakit Adi Husada Undaan Wetan Surabaya, dr. Hendry Kawilarang, Sp.JP.,  koroner adalah pembuluh darah yang memberi makan jantung. Jika ada penyempitan ataupun penyumbatan pada pembuluh darah itu karena penimbunan lemak terutama kolesterol, maka disebut dengan penyakit jantung koroner. Penyumbatan pada arteri ini menyebabkan darah yang kaya akan oksigen, terhambat untuk masuk ke jantung sehingga dapat menimbulkan serangan jantung.

“ Selain itu, pengapuran pada pembuluh darah arteri yang disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat, juga mampu mempersempit pembuluh darah,” ungkap Hendry. 

Di Amerika, lanjut dia, masalah jantung pada kelompok usia 65 hingga 74 tahun ke atas berbeda antara pria dan wanita. Pria memiliki risiko mengidap penyakit jantung koroner sebanyak 64 persen, sementara wanita lebih kecil, yaitu 60 persen. Semakin bertambahnya usia, faktor risiko penimbunan lemak pada dinding ini, juga semakin besar. Hal ini tidak lepas dari gaya hidup dan makanan yang dikonsumsi tubuh. 

Lalu, bagaimana gejala PJK itu? Hendry menjelaskan, gejala PJK dapat diketahui dengan keluhan rasa nyeri pada dada bagian kiri yang menyambung ke bahu, rahang dan lengan kiri jika melakukan aktifitas fisik yang berat dan mengalami stres emosional. Risiko kematian pada PJK, berada di jam-jam pertama serangan. 

Pada dasarnya, Hendry menambahkan, penyakit jantung koroner tidak bisa disembuhkan. Penanganan medis berfungsi untuk memertahankan dan mengurangi gejala. “ Misalnya dengan kita pasang ring atau obat, itu semua bukan menyembuhkan. Namun, hanya memperbaiki aliran darah. Sementara lemak itu tidak hilang, bahkan bisa tumbuh lagi di tempat yag lain,” urainya. 

Untuk itu, Hendry mengingatkan jika menjaga pola hidup yang sehat, perlu diterapkan sejak muda. Sehingga tidak terjadi penimbunan lemak pada pembuluh darah, di antaranya adalah dengan mengontrol kolesterol dalam tubuh, hindari stres, hindari rokok, pola tidur baik dan makan teratur. “ Yang penting pola makan harus dijaga betul. Pilih makanan yang rendah lemak,  kolesterol, asam urat dan garam,” ingatnya. 

Selain itu, menerapkan hidup bahagia jauh dari stres, juga sangat dianjurkan untuk menjauhkan tubuh dari risiko penyakit jantung koroner. Sebab, hal yang terjadi pada saat kita stres adalah tubuh yang mengeluarkan hormon adrenalin dalam jumlah banyak, hormon ini merangsang jantung untuk berdenyut lebih cepat  dan memberikan efek kram pada pembuluh darah yang besar. “Kalau sebelumnya sudah punya PJK dan kena adrenalin juga, maka pembuluh jantungnya makin sempit. Bisa kumat penyakitnya,” paparnya.

Hendry menambahkan, yang terakhir dan selalu penting adalah olahraga. Meskipun sudah lansia, seseorang harus tetap melakukan olahraga untuk menjaga kebugaran tubuh. Bedanya olahraga pada lansia, tak perlu yang terlalu berat. Olahraga yang baik untuk jantung adalah olahraga ritmis, seperti jalan kaki. (*/opi/bersambung)

(sb/is/jek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia