Sabtu, 21 Jul 2018
radarsurabaya
icon featured
Kota Lama
Kawasan Perdagangan Internasional Jln Niaga (3)

Banyak Bangunan dengan Arsitektur Khas Eropa

Jumat, 22 Jun 2018 16:49 | editor : Wijayanto

TAK TERAWAT: Salah satu bangunan yang rusak di Jalan Niaga Samping ini memiliki arsitektur khas Eropa. Hal ini karena kawasan tersebut menjadi bagian dari Kampung Eropa.

TAK TERAWAT: Salah satu bangunan yang rusak di Jalan Niaga Samping ini memiliki arsitektur khas Eropa. Hal ini karena kawasan tersebut menjadi bagian dari Kampung Eropa. (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

Kawasan Jalan Niaga sebagai tempat perdagangan internasional lebih banyak digunakan oleh orang keturunan Eropa. Sebagai salah satu kampung Eropa, kawasan Jalan Niaga lebih didominasi oleh orang keturunan Belanda dan orang dari Benua Biru lainnya.

VEGA DWI ARISTA-Wartawan Radar Surabaya

Dari pengamatan Radar Surabaya, bangunan yang bergaya arsitektur Eropa memang masih banyak berdiri di kawasan Jalan Niaga samping. Beberapa di antaranya masih digunakan, namun ada juga yang sudah terlihat sepi kosong melompong.

Gaya arsitekturnya memang terlihat megah layaknya bangunan khas Eropa. Hal itulah yang menandakan bangunan tersebut dibangun oleh orang Belanda, Inggris dan Eropa lainnya yang sangat dominan saat masa sebelum kemerdekaan.

Director Surabaya Heritage Society Freddy H Istanto mengatakan, perdagangan kelas atas menjadikan warga Eropa yang lebih dominan. Meski banyak etnis berada di Surabaya, namun warga Eropa khususnya Belanda lebih banyak berdagang di kawasan tersebut. “Tidak dalam bentuk grosiran, tetapi lebih pada bijian namun dengan nilai dan kuantitas yang lebih banyak,” ucapnya.

Menurutnya, bangunan yang saat ini banyak berdiri di kawasan Jalan Niaga tentu menjadi simbol kuatnya orang Eropa di Surabaya saat itu. Kaum pribumi justru banyak yang tidak berdagang di kawasan Niaga, karena kelasnya yang lebih rendah. “Nilai uang di kawasan itu lebih besar. Karena saudagar dengan modal yang besar yang mampu bertahan,” ucapnya.

Akses perdagangan di sisi utara itu bertahan cukup lama hingga kemerdekaan. Beberapa orang Eropa juga sempat bertahan, salah satunya orang Belanda usai kemerdekaan dengan mempertahankan perekonomian di Jalan Niaga. “Meski pada akhirnya kawasan utara tidak lagi jadi akses utama perdagangan,” katanya. (bersambung/nur)

(sb/vga/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia