Senin, 23 Jul 2018
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya

Sabu 6,2 Kg Libatkan Oknum Pegawai Dinas PU Sidoarjo, Komisi Rp 25 Jt

Selasa, 17 Apr 2018 17:19 | editor : Abdul Rozack

UNGKAP KASUS: Kapolda Jatim Irjen Pol Machfud Arifin (kiri) saat menunjukkan tersangka dan barang bukti narkoba.

UNGKAP KASUS: Kapolda Jatim Irjen Pol Machfud Arifin (kiri) saat menunjukkan tersangka dan barang bukti narkoba. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

SURABAYA - Perang melawan peredaran narkoba terus dilakukan Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Kepolisian Daerah Jawa Timur (Polda Jatim). Setelah mengamankan tiga orang jaringan Batam akhir Maret lalu, kini Ditresnarkoba berhasil mengungkap jaringan pengedar narkoba Pontianak.

Kedua tersangka kurir yang ditangkap, Budi Hartono, 40, warga Kelurahan Jepara, Bubutan, Surabaya dan Tesar, 27, seorang pegawai Dinas PU Sidoarjo yang tinggal di Jalan Cempo Timur RT 07 RW 04, Kedung Turi, Taman, Sidoarjo.

Kapolda Jatim Irjen Pol Machfud Arifin mengatakan penangkapan terhadap tersangka bermula dari laporan masyarakat mengenai akan adanya sabu-sabu (SS) yang akan dikirim ke Sidoarjo. Kemudian polisi lantas melakukan pengintaian terhadap para pelaku.

Awalnya pada Jumat (6/4) lalu tersangka Budi yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan swasta mendapatkan perintah dari seseorang bandar yang bernama Dul. Bandar asal Pontianak tersebut memerintahkan Budi untuk mengambil barang haram tersebut ke Pontianak.

Untuk berangkat ke Pontianak, Budi mendapatkan uang ongkos dari Dul senilai Rp 3 juta. Kemudian pelaku terbang ke Pontianak dari Bandara Juanda menggunakan penerbangan Lion Air.

Sesampaianya di Kota Khatulistiwa itu tersangka Budi sempat menginap di hotel selama satu malam. Kemudian keesokan harinya Budi mendapatkan telepon dari Mr X untuk keperluan pengiriman SS yang sudah dikemas menggunkan kertas karton. Salah seorang pun lantas menuju tempat menginap Budi dan menyerahkan barang haram tersebut kepada Budi.

“Supaya bisa meloloskan barang haram tersebut pelaku menggunakan jalur laut dari Pontianak ke Pelabuhan  Tanjung Mas Semarang,” kata Machfud didampingi Direskoba Polda Jatim Kombes Pol Agus Sentosa Ginting, Senin (16/4).

Jalur laut tersebut dipilih karena aman dan tidak ada pemeriksaan X ray seperti di Bandara. Selepas berlabuh di Tanjung Mas tersangka Budi lantas naik bus jurusan Semarang-Surabaya untuk dapat menghantarkan SS ke Sidoarjo. Namun apes, tersangka Budi, baru tiba di pintu masuk Terminal Purabaya atau Bungurasih Senin (9/4) sekitar pukul 01.00, ia langsung disergap polisi dan ditemukan barang bukti 6,265 kg SS.

“Jaringan ini adalah jaringan Pontianak. Dan rencanannya SS tersebut akan diedarkan di Surabaya dan Sidoarjo,” ujar Machfud. 

Tak puas hanya menangkap satu orang polisi lantas melakukan pengembangan. Setelah dilakukan pengembangan dengan cara control delivery polisi berhasil menangkap Tesar, di rumhanya Jalan Cempo Timur. Dari tangan salah satu pegawai Dinas PU Sidoarjo tersebut, polisi menemukan lima butir pil diduga ekstasi warna biru dan dua buah Handphone (HP). 

Tak hanya itu Tesar, saat itu juga sempat menerima telepon dan perintah dari TA, untuk menerima SS dari Budi dan meranjaunya kembali di Perum Delta Sari Indah, Sidoarjo. 

“Kami masih mengembangkan dua jaringan ini. Dugaan kami barang berasal dari luar negeri,” terang jenderal bintang dua tersebut.

Mantan Kadiv TI Mabes Polri itu menerangkan, dalam ungkap kali ini setidaknya Polda Jatim telah menyelematkan 80 ribu jiwa dari bahaya narkoba. Sebab, jika dihitung minimal satu gram barang haram tersebut bisa dikonsumsi 10 orang.

Sementara itu menurut pengakuan Budi, ia mendapatkan imbalan puluhan juta dalam sekali mengambil dan mengantarkan SS dari bandar Pontianak ke Jawa Timur. “Saya mendapatkan imbalan Rp 25 juta jika barang sampai. Dan teman saya mendapatkan upah Rp 5 juta,” aku Budi yang juga diamini Tesar dengan wajah menunduk.

 Atas perbuatannya tersebut, kini kedua tersangka terpaksa ditahan di Mapolda Jatim. Selain itu keduannya bakal dikenakan pasal 112 ayat 2 dan pasal 114 ayat 2 Undang-undang nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika. Ancaman hukumannya maksimal 20 tahun kurungan penjara dan denda Rp 10 milliar.(rus/rud)

(sb/rus/jek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia