Rabu, 18 Jul 2018
radarsurabaya
icon featured
Lifestyle Gresik

Kudapan Tradisional, Konsep Pasar Dadakan

Senin, 16 Apr 2018 13:46 | editor : Aries Wahyudianto

Kudapan makanan tradisional terus diedukasi sebagai bekal sekolah para pelajar di Gresik

TRADISIONAL : Kudapan makanan tradisional terus diedukasi sebagai bekal sekolah para pelajar di Gresik (Esti/Radar Gresik)

KOTA –  Kurikulum 2013 menuntut sekolah atau pendidiknya memberikan pengenalan dan edukasi dengan konsep yang riil. Salah satunya dengan menciptakan kondisi yang sebenarnya. Seperti yang dilakukan SD di Manyar.

Puluhan siswa kelas 1 SD ini menciptakan pasar dadakan untuk berjualan dan mengenal berbagai makanan tradisional Gresik. Tujuan dari konsep pembelajaran ini memang untuk mengenalkan makanan tradisional Gresik.

Pasar dadakan yang disulap untuk keperluan pembelajaran ini, layaknya pasar. Semua khas jajanan pasar Gresik tersedia. Di antaranya kucur, bubur sum-sum, kue sus, jubung, hingga pudak. Yang menarik, para penjual merupakan siswa kelas 1. Mereka diajak simulasi untuk lebih mengenal jajanan pasar yang sehat tanpa bahan pengawet.

Pelajar yang tidak kebagian sebagai penjual, mereka kebagian sebagai pembeli. Masing-masing siswa dibekali uang mainan senilai Rp 6 ribu untuk membeli jajan. Harga jajanan yang dijual sangat terjangkau, sehingga mereka bisa makan sepuasnya.

Ibrahim penjual sate puyuh mengaku dia tidak menunggu waktu lama untuk menjual dagangannya. Siswa kelas 1 senang karena telur puyuh jualannya ludes diburu pembeli yang tak lain rekannya.

Sementara itu, Kepala Sekolah SD, A Faizun mengatakan, food and drink festival bertujuan untuk mendidik siswa agar lebih mencintai makanan dan minuman khas Indonesia. Pasalnya, banyak di antara mereka malah tidak mengenal jajanan khas daerah. "Ini bertujuan mengenalkan kembali bahwa makanan yang ada di pasar, itu lebih sehat ketimbang jajanan kemasan," ungkapnya.

Menurutnya, selain tidak mengenal jajanan khas daerah, anak-anak lebih suka makanan kemasan. Padahal makanan kemasan yang lebih banyak menggunakan bahan pengawet tidak baik bagi kesehatan. (est/ris)

(sb/est/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia